Pasar Sewa Properti di Pusat Kota Potensial

0

KonsPro (13/01) SURABAYA – TERUS  melonjaknya nilai properti di kota-kota besar, seperti Surabaya, berdampak pada kian tak terjangkaunya harga jual bagi konsumen. Imbasnya, sebagian masyarakat pilih menyewa rumah atau apartemen di pusat kota, dengan menyesuaikan kemampuan finansialnya.

Menurur pengamat properti di Surabaya Gatut Prasetyo, kendati jumlahnya relatif stagnan, sebenarnya pasar sewa rumah atau apartemen di Surabaya masih potensial. Kondisi itu bisa dilihat dari pertumbuhan lapangan kerja, serta urbanisasi di kota.

“Banyak faktor yang menyebabkan masih banyaknya penyewa atau potensi pasar sewa rumah dan apartemen di Surabaya. Selain ingin dekat tempat kerja, juga belum cukup dana untuk membeli rumah,” kata Gatut, Rabu (12/1).

Ia membandingkan, untuk beli rumah rata-rata konsumen harus menyiapkan sepertiga dari gajinya untuk angsuran kredit pemilikan rumah (KPR) atau kredit pemilikan apartemen (KPA). Padahal, dengan dana yang sama bisa dimanfaatkan untuk membayar sewa rumah selama 2-3 bulan.

Sementara di Surabaya, saat ini harga rumah ukuran standar dengan dua kamar tidur paling murah Rp 200 jutaan per unit. Itupun lokasinya jauh di pinggir kota atau di perkampungan.

“Untuk beli rumah dengan harga tersebut konsumen harus menyiapkan dana uang muka10-20 persen, belum termasuk urusan KPR,” ungkap Gatut.

Sebetulnya, lanjut pria yang juga anggota Dewan Penasehat DPD REI Jatim itu, peluang bisa menarik segmen penyewa adalah di apartemen. Ini mengingat dalam beberapa tahun terakhir banyak dibangun apartemen kisaran Rp 200 jutaan di Surabaya.

Lokasinya pun relatif strategis karena rata-rata dekat perkantoran dan kampus. Hanya saja, segmen menengah bawah relatif belum melirik apartemen karena terkendala budaya. “Masyarakat kita masih terbiasa rumah landed house,” ucapnya.

Gatut menilai, ada batasan tersendiri bagi penyewa rumah, yang pada saatnya mereka akan melirik untuk beli rumah atau apartemen. Ini seiring meningkatnya pendapatan konsumen.

Bukan tidak mungkin konsumen sewa akan beralih membeli rumah dengan pertimbangan untuk investasi dan dipakai sendiri. Peluang inilah yang harus ditangkap pengembang.

“Pengembang harus punya database soal siapa dan dimana saja pasar penyewa yang bisa ditarik untuk membeli. Dipilah juga tujuan mereka menyewa, atas inisiatif sendiri atau disewakan perusahaan. Kalau inisiatif sendiri tentu bisa ditarik,” ulasnya.

Marketing Manager PT Surya Bangun Jaya Abadi (Ray White) Suryadinata mengatakan, kenaikan permintaan sewa rumah atau apartemen sering terjadi terutama di kawasan strategis.

“Sayangnya, di Surabaya belum terbentuk acuan tarif sewa apartemen baik yang bersubsidi maupun yang nonsubsidi. Jadi pengembang membuat tarif sendiri. Kalau sewa rumah ya tergantung si pemilik,” kata Suryadinata, kemarin.

Kalau lokasi dekat kompleks perkantoran, kampus, pertokoan, fasilitas umum dan mudah dijangkau angkutan umum, tentu tarif sewa akan lebih tinggi dibandingkan yang lokasinya jauh dari layanan angkutan umum.

“Apartemen yang harga belinya di bawah Rp 200 jutaan sudah pasti cepat laku kalau disewakan, apalagi kalau apartemen bersubsidi. Sekarang trennya banyak orang beli apartemen tidak untuk dihuni langsung, tapi buat investasi yakni disewakan,” ujarnya.

Ia mencontohkan, ada tiga titik apartemen yang harganya di bawah Rp 200 juta, seperti Gunawangsa, Puncak Kertajaya dan Puncak Permai. Semua banyak peminatnya.

Bagi orang dengan mobilitas tinggi lintas kota, sewa rumah atau apartemen lebih disarankan ketimbang beli. Misalnya, orang dengan tipikal pekerjaan berpindah-pindah kota dan tidak bisa jauh dari keluarganya, sebaiknya pilih sewa.

Menurut Suryadinata, banyak orang berpendapat jika dihitung dari keuntungan dan kerugiannya, sewa lebih rugi mengingat cost yang dikeluarkan selama beberapa tahun bisa dipakai untuk bayar kredit rumah. Namun, pertimbangan orang sewa rumah atau apartemen biasanya tidak sesederhana itu.

“Tergantung kebutuhan. Kalau niatnya mau investasi jangka panjang dan finansial juga mendukung tentu harus beli. Bagi developer, beli tanah terus bangun apartemen atau perumahan nggak langsung laku, nggak masalah. Tanah nggak jamuran dan developer asing juga tidak bisa sembarangan investasi di lahan,” pungkasnya.

Disamping itu, harga jual tanah dan apartemen kecenderungannya terus naik atau minimal stag, tapi tidak pernah turun. (Surya Online)