Harga Properti di Indonesia Termurah

0
Ilustrasi: bangun-rumah.com

KonsPro (24/01) JAKARTA – SEKTOR properti Indonesia di mata internasional memiliki pesona tersendiri. Salah sa­tunya karena faktor harga. Hal ini seperti dikatakan CEO Bank Julius Baer Singapura, David Lim, saat presentasi Asian Economic and Investment Outlook 2011, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Saat ini Indonesia adalah salah satu negara dengan har­ga properti termurah dibanding negara-negara lain dalam satu kawasan. Masuknya mo­dal internasional ke sektor properti pun bak gayung ber­sambut.

David Lim mengatakan, harga properti di Indonesia yang tak pernah merosot menjadikannya cocok sebagai investasi jangka panjang. Hanya saja hal yang harus diperhatikan adalah tingkat suku bunga perbankan. David juga yakin bubble real estate di China saat ini tidak akan banyak berpengaruh terhadap sektor properti di Indonesia jika memang sektor tersebut disokong sepenuhnya oleh pemerintah.

Menteri Perumahan Rak­yat (Menpera) Suharso Mo­noar­fa menegaskan membuka peluang kerja sama dengan dunia internasional serta negara-negara donor untuk meningkatkan investasi dalam program pembangunan peru­mahan bagi masyarakat. Australia, China, dan Korea Selatan bahkan telah menawarkan sejumlah bantuan serta program kerja sama pembangunan dalam bidang perumahan.

“Sejumlah negara telah menawarkan kerja sama dalam pembangunan perumahan di Indonesia. Tentunya hal itu perlu segera ditindaklanjuti dan kami membuka peluang kerja sama dengan dunia internasional terkait bidang perumahan,” kata Suharso Monoarfa saat menutup raker Kemenpera Tahun 2011 soal Memantapkan Good Gover­nance dalam Menghadapi Per­ubahan Lingkungan Stra­tegis Pembangunan Perumahan dan Kawasan Permukiman, belum lama ini.

Dengan Australia, Suharso mengatakan, pihaknya membicarakan kerja sama terkait studi pembangunan perumah­an rakyat. China juga di­kabarkan berminat membantu dalam bidang pembiayaan perumahan dengan memberi pinjaman lunak (soft loan). Sedangkan Korea Selatan menawarkan bantuan sebesar Rp 1,5 triliun untuk program kerja sama properti di Bali. Kemenpera kini sedang meng­kaji semua jenis tawaran tersebut untuk ditindaklanjuti.

Geliat pertumbuhan pro­perti yang luar biasa tajam di kawasan timur Indonesia tak luput dari incaran investor asing. “Properti di Indonesia Timur sedang tumbuh hampir 100 persen. Investor dari Lon­don bahkan langsung mampir ke Makassar,” ujar Airlangga Hartarto, Ketua Per­satuan Insinyur Indonesia (PII) di Jakarta, Kamis (20/1) lalu.

Namun, soal pinjaman lunak (soft loan) China, mantan Menpera Yusuf Asy’ari meng­ingatkan pemerintah agar berhati-hati mengingat saat ini sudah ada program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Pe­rumahan (FLPP) yang juga melibatkan sejumlah Bank Pembangunan Daerah (BPD). Keterlibatan BPD tidak saja untuk memperluas jangkauan program FLPP bagi ma­syarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga untuk me­ningkatkan iklim investasi pembiayaan perumahan di da­erah.

Terlepas dari itu, Yusuf menyayangkan sampai saat ini kajian tentang tata ruang dan perumahan yang layak masih sangat minim. Padahal, kajian itu sangat mendasar, tidak saja masalah kelayakan, tetapi juga mencakup sektor tata ruang, drainase, dan juga akses. (Sinar Harapan)