Warga Keluhkan Penggalian Drainase Kota

0
Ilustrasi: serambinews.com

KonsPro (12/01) BANDA ACEH – SEJUMLAH  warga kota Banda Aceh mengeluh karena proyek pembangunan drainase untuk mengantisipasi banjir telah merusak infrastruktur jalan dan sarana air bersih.

“Penggalian parit yang dilaksanakan empat bulan terakhir telah mengakibatkan badan jalan, pipa PDAM rusak dan jaringan telpon kacau, selain itu arus lalu lintas juga terganggu,” kata seorang warga Gampong (Desa) Prada, Jailani (45) di Banda Aceh, Selasa.

Ia menilai pembangunan drainase yang sedang dikerjakan di sejumlah lokasi di ibu kota Provinsi Aceh itu kurang terkoordinasi bahkan tanah bekas galian dan material dibiarkan menumpuk di pinggir jalan dan pekarangan warga.

“Seharusnya ada koordinasi dengan PDAM, Telkom dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) kota, dan apabila terjadi kerusakan segera diperbaiki,” katanya.

Fatmawati (35) seorang ibu rumah tangga juga mengeluhkan akibat rusaknya jaringan pipa air bersih ke rumah.

“Untuk memenuhi kebutuhan air, kami terpaksa mengeluarkan biaya tambahan membeli air bersih. Kami berharap pembangunan drainase ini segera diselesaikan,” kata Fatmawati.

Proyek pembangunan drainase di delapan Kecamatan di Kota Banda Aceh dan sebagian Kabupaten Aceh Besar yang dibangun dengan dana Rp 400 miliar lebih, diprediksi tuntas dikerjakan pada Oktober 2011 mendatang.

Menurut sumber di Dinas Bina Marga dan Cipta Karya (BMCK) Provinsi Aceh, menyebutkan pembangunan drainase tersebut dilaksanakan PT Adhi Karya, PT Waskita Karya, PT Pembangunan Perumahan (PP), dan PT Brantas Abipraya.

Megaproyek yang dana bersumber dari pinjaman lunak Prancis sebesar 36,8 juta Euro atau senilai Rp446 miliar dibagi menjadi empat wilayah.

Empat wilayah tersebut melibatkan satu kontraktor, untuk wilayah empat ditangani PT Adhi Karya meliputi kawasan Desa Peuniti, Kampung Baro, Geuceue, Neusu, dan Penyerat.

Wilayah lima dikerjakan PT Waskita Karya yakni kawasan Lingke, Lampriek, Lampineung, dan Lambaro Skep. Sementara wilayah enam dikerjakan PT PP yaitu kawasan Luengbata, Simpang Surabaya, Batoh, dan sebagian lintas Sukarno-Hatta Kecamatan Darul Imarah, Aceh Besar.

Sementara wilayah tujuh dikerjakan PT Brantas Abi Praya meliputi Pango, Ilie, Simpang BPKP tembus ke jembatan Santan dan Darussalam. (Ant.)