Perjuangan Konsumen Akhirnya Berhasil, Apartemen Dukuh Golf Pailit Juga

KonsPro (5/9) - KEMENANGAN PT Megacity Development di Pengadilan Niaga Jakarta Pusat 24 Juni 2010  ternyata belum memupuskan harapan 9 konsumen Apertemen Dukuh Golf untuk mempailitkan pengembang apartemen tersebut. Setelah ke-9 konsumen ditolak permohonan pailit terhadap PT Megacity Development selaku pengembang Apartemen Dukuh Golf, kemudian mereka (bergabung 1 orang lagi sehingga menjadi 10 konsumen) kembali melakukan upaya hukum yang sama, pada awal September ini berhasil mempailitkan hunian bertingkat di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat itu.

Pada pengadilan terdahulu, Majelis Hakim yang diketuai oleh Nani Indrawati menyatakan, bahwa permohonan yang diajukan oleh pembeli apartemen tidak memenuhi syarat kepailitan. Terkait adanya utang yang telah jatuh tempo, syarat sederhana kepailitan tak terpenuhi. Sebab, berdasarkan pendapat ahli Yahya Harahap, persoalan dispute (perselisihan) dalam sebuah perjanjian harus diputuskan dan diadili oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sehingga Majelis Hakim memutuskan, menolak permohonan kepailitan pemohon untuk seluruhnya.

Namun pada gugatan berikutnya, 10 pembeli Apartemen Dukuh Golf, Majelis Hakim Pengadilan Niaga Jakarta Pusat yang diketui Syarifuddin menyatakan pengembang apartemen ini pailit, karena terbukti memiliki utang kepada Lim Siong Kwong, dkk. PT Megacity Development tidak kunjung menyelesaikan dan menyerahkan unit apartemen meski pun pembeli sudah melunasinya.

Putusan lain, adalah bahwa majelis hakim sependapat dengan pemohon bahwa pembeli berhak mengakhiri perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) secara sepihak karena pengembang apartemen ini tidak melaksanakan perjanjian tersebut.

"Menyatakan mengabulkan permohonan seluruhnya. Menyatakan PT Megacity Development pailit dengan segala akibatnya," kata Syarifuddin, Kamis (2/9).

Atas putusan tersebut, Kuasa Hukum PT Megacity Development Yan Apul menyatakan tidak puas, dan berencana mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung atas putusan ini. Yan menilai, putusan tersebut kurang mengerti rasa keadilan masyarakat.

Yan mengatakan, jumlah pembeli apartemen itu sekitar 4.000 orang, sementara yang menggugat 10 orang saja, sehingga tidak bisa mewakil seluruh aspirasi pembeli. Pengembang sendiri sudah melakukan upaya penyelamatkan, salah satunya mengadakan perjanjian dengan Agung Sedayu untuk melanjutkan pembangunan Apartemen Dukuh Golf.

Gagal bangun

Apartemen Dukuh Golf mulai dipasarkan tahun 1994, namun pengembang beralasan, akibat krisis ekonomi 1998 pembangunan apartemen ini dihentikan hingga saat ini. Padahal rencana awalnya, pembangunan Apartemen Dukuh Golf selesai tahun 1997.

Sebagian pembeli apartemen mengaku tidak pernah mendapatkan penjelasan yang tegas dari PT Megacity Development penyebab kegagalan dan tindak lanjutnya. Setelah selidik punya selidik, ternyata PT Megacity Development pinjam kredit pada Bank Tata, yang kemudian dibekukan operasinya. Akibatnya beberapa proyek PT Megacity Development, termasuk pembangunan Apartemen Dukuh Golf diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Itulah sebabnya kenapa pembangunan Apartemen Dukuh Golf tertunda.

Inilah ‘jurus’ pengembang yang menggunakan dalih urusan kredit bank untuk menghindari tanggung jawab kepada konsumen. Developer merasa tak bersalah karena, katanya, kejadian itu luar kemampuannya, dan semua pengembang juga mengalami yang serupa.

Kasus-kasus seperti ini, hingga kini masih banyak terjadi. Sayangnya, tidak banyak konsumen apartemen yang mau repot memperkarakan melalui jalur hukum ke pengadilan. Karena apa? Repot mas kalau sudah berurusan dengan pengadilan di Indonesia, sudah mahal, bertele-tele alias lama. Dan yang menyakitkan, walau konsumen properti benar belum tentu bisa menang. (Erlan Kallo,  Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)