Akibat Tidak Teliti Membaca Surat Kontrak

Pertanyaan:
SAYA mempunyai sebuah rumah di daerah Tulodong, Jakarta Selatan yang rencananya akan saya jual. Pada bulan September 2000 datang Mr. JM (WNA) yang mau membeli rumah tersebut, tetapi ia ingin mencoba dulu dengan cara menyewa.

Akhirnya kami sepakat untuk menyewakan selama 1 tahun, dengan harga sewa US$ 800 per bulan. Namun harga sewa itu dipotong US$ 150 per bulan, dengan alasan ia mesti merenovasi beberapa ruang, dan pembayaran disepakati per tiga bulan.

Kemudian saya mengirimkan draft perjanjian sewa-menyewa kepadanya. Pada hari yang sama ia mengembalikan draft tersebut, yang ternyata sudah diketik ulang.

Karena sore itu saya sedang terburu-buru menyiapkan diri keberangkatan kami ke Beijing, sehingga saya tidak sempat membaca ulang dengan teliti draft tersebut dan langsung menandatanganinya. Dasar tindakan saya itu karena ia mengatakan isi draft yang diberikan tidak jauh berbeda dengan draft yang saya kirimkan, dan saya percaya kepadanya.

Seminggu kemudian sekembalinya saya dari Beijing, saat saya membaca perjanjian tersebut, saya terkejut. Karena isi dan bentuk isi perjanjian itu ternyata tidak sesuai dengan kesepakatan awal kami.

Perbedaannya adalah:

  1. Masa sewa menjadi 2 tahun, padahal awalnya perjanjian cukup 1 tahun, karena sebenarnya saya mau menjual dan ia berencana mau membeli.
  2. Dihilangkannya klausula soal pengosongan pada akhir sewa.
  3. Tidak ada kata-kata ditandatangani oleh saksi, bahkan ternyata ia juga tidak menandatangani.

Yang ingin saya tanyakan apakah perjanjian itu sah dan dapatkah saya membatalkan perjanjian itu? Lalu apa yang dapat saya lakukan menghadapi masalah ini? Terima kasih atas penjelasannya.

Ibu Is, Jakarta Selatan

Jawaban:

IBU Is yang terhormat, peristiwa yang Ibu alami sebenarnya hanyalah masalah keteledoran atau ketidaktelitian. Ini karena saat menandatangani perjanjian sewa-menyewa tersebut, Ibu Is dalam situasi mendadak dan terburu-buru.

Memang benar bahwa perjanjian dasarnya adalah kesepakatan sepanjang tidak bertentangan dengan undang-undang. Kepercayaan Ibu kepada Mr. JM, ternyata dikhianati. Karena dia telah memanipulasi dengan membuat perjanjian sewa ulang tidak sesuai dengan komitmen pertama.

Walau Ibu telah menandatangani perjanjian tersebut, itu  bukan berarti perjanjian itu tidak dapat dibatalkan. Sebab syarat sah suatu perjanjian sebagaimana diatur dalam KUH Perdata pasal 1320 antara lain:

  1. Adanya kesepakatan
  2. Dibuat oleh orang yang berwenang
  3. Tidak adanya unsur penipuan atau paksaan
  4. Tidak melanggar undang-undang

Jika salah satu unsur di atas tidak dipenuhi, maka perjanjian tersebut dapat dibatalkan. Dalam hal kasus Ibu Is terdapat unsur penipuan, yaitu mengubah jangka waktu masa sewa. Kesimpulannya posisi hukum Ibu dalam masalah ini cukup kuat, sepanjang Ibu dapat membuktikan bahwa penyewa telah memanipulasi isi perjanjian dan menyetop penerimaan pembayaran sewa.

Untuk itu yang dapat Ibu lakukan adalah:

  1. Memberitahukan secara tertulis kepada penyewa bahwa Ibu ingin menghentikan perjanjian sewa-menyewa tersebut per tanggal terakhir masa pembayaran sewa. Ini dengan maksud, agar pihak penyewa mengerti dan mengosongkan rumah tersebut,  serta menyerahkan kunci-kunci rumah kepada Ibu.
  2. Jika penyewa tetap tidak ingin menghentikan perjanjian tersebut, Ibu dapat menuntutnya secara hukum, baik secara pidana maupun perdata, yaitu dengan memutuskan perjanjian sewa sepihak.

Demikian penjelasan kami, semoga bermanfaat.