Negosiasi Ulang dengan Bank

Pertanyaan:

KRISIS ekonomi global yang berawal subprime mortgage di Amerika Serikat telah membuat ekonomi keluarga saya terpuruk. Bagaimana tidak? Gaji saya dan istri saya tidak naik, tapi harga-harga barang dan jasa semuanya naik. Otomatis biaya hidup kami sekeluarga juga naik, sehingga mau tak mau, kami harus melakukan penghematan ekstra ketat.

Namun ternyata, dampak krisis global ini tidak sampai di situ. Kredit rumah saya juga terkena “getahnya”. Suku bunga KPR (kredit pemilikan rumah) saya naik cukup tinggi. Keadaan ini menambah parah nasib keluarga saya, akibatnya saya terancam tidak bisa membayar KPR setiap bulannya, alias “gagal bayar”.

Terus terang saya merasa menjadi salah satu korban dari kebijakan pemerintah yang kenaikan suku bunga bank, dengan alasan krisis global. Pemerintah tidak kreatif, dan mau gampangnya saja.

Begitu pemerintah menaikkan suku bunga, otomatis bank tempat saya mengambil KPR ikut menaikkan bunga KPR-nya juga. Dan daripada rumah saya disita saya ingin minta reschedule kredit saya, tentunya sesuai dengan kemampuan keuangan saya.

Dari permasalahan tersebut di atas, saya ingin bertanya, sekaligus minta saran dari Pak Erwin Kallo, sebagai berikut:

Dalam kondisi seperti ini, apa yang harus saya lakukan jika berhadapan dengan bank?

Bagaimana strategi negosiasi ulang dengan pihak bank karena mereka tampaknya akan tetap mempertahankan akad kredit terdahulu?

Kalau bank tetap bersikeras, apakah saya bisa meng-over kredit properti yang sudah saya ambil?

Dani, Bekasi

Jawaban:

BAPAK Dani di Bekasi. Kenaikkan suku bunga KPR memang membuka peluang terjadinya default (gagal bayar) oleh debitur. Bila sudah demikian (default), bagaimana menyelesaikan masalah hukumnya, agar paling tidak salah satu pihak tidak amat dirugikan?

Dalam suatu hubungan bisnis atau hukum yang perlu dikedepankan oleh adalah itikad baik dari masing-masing para pihak. Dalam kasus di atas, Bapak bisa mengirim surat kepada bank supaya bank tidak menganggap Anda wanprestasi terhadap perjanjian kredit dan terkesan tidak mau bayar.

Saya sarankan sampaikan itikad baik Bapak secara tertulis. Kalau tadi Bapak ingin minta dilakukan reschedule, maka sampaikan itu secara tertulis. Karena dalam prakteknya itu bisa dikabulkan. Dan bank harus melihat persoalan nasabah itu kasus per kasus, dan tidak bisa disamaratakan.

Bank harus memahami, bahwa pada saat debitur mengambil kredit, sebelumnya dia sudah mengukur kemampuan pendapatannya yang disesuaikan dengan anggaran pengeluaran untuk kredit.

Dan kalau bank tetap memaksakan, maka tidak hanya nasabah yang rugi, tetapi bank juga akan rugi, karena menjual barang sitaan lewat lelang itu tidak mudah. Yang jelas, bank akan mengeluarkan biaya, tenaga dan waktu yang tidak sedikit.

Sementara untuk pertanyaan, apa bisa dilakukan over kredit? Itu bisa saja. Dengan syarat, properti Anda itu marketable, pasti ada yang mau take over KPR Anda. Hanya saja sebelum itu dilakukan, Anda bisa bicara dengan pihak bank.

Dan saya sarankan bila berbicara (bernegosiasi) dengan bank jangan disampaikan sebatas lisan. Semuanya harus tertulis sehingga menunjukkan adanya itikad baik.

Dan ini akan “berguna”, apabila terjadi hal terburuk, misalnya rumah Anda disita dan akan dilelang, sehingga bank minta Anda mengosongkan rumah tersebut, maka Anda bisa melakukan perlawanan hukum. Anda bisa menunjukkan bukti surat permohonan reschedule KPR itu. Paling tidak itu membuktikan bahwa Anda bukan nasabah yang “nakal”. Anda mempunyai itikad baik untuk membayar dan mudah-mudahan menjadi bahan pertimbangan majelis hakim.