Green Building: Trend atau Kebutuhan?

KonsPro (1/9) - SETAHUN sebelum krisis ekonomi global 2008, di dunia properti Indonesia diramaikan dengan trend produ k properti yang diistilahkan sebagai Green Property atau Green Building. Trend ini sebenarnya, dilatarbelakangi oleh isu global warming yang meresahkan dunia. Dan untuk menarik minat konsumen properti, para developer pengembangkan proyeknya dengan konsep green property (bangunan ramah lingkungan).


Salah satu proyek properti yang dikembangkan dengan konsep ini adalah super block Central Park Podomoro City, Slipi, Jakarta Bar at.

Proyek ini mempunyai taman terbuka seluas 4 ha dan memakai pembangkit listrik tenaga gas, dimana panas yang dihasilkan oleh generator set tersebut dimanfaatkan untuk mesin chiller, atau lebih dikenal dengan co-generation.

Menurut Bambang Setiobudi Director PT. Prima Buana Internusa (PBI), sumber tenaga gas memang lebih bersih dan ramah lingkungan, dibandingkan dengan memakai bahan bakar solar. Kemudian panasnya dimanfaatkan untuk mesin chiller yang pada akhirnya menghasilkan udara dingin untuk ruang-ruang mall-nya.

“Untuk tingkat dunia, Washington DC, Amerika Serikat dikenal sebagai “The 1st Major City” yang memiliki Green Building terbaik di dunia, salah satunya yang sering dijadikan icon adalah The Tower Building,” ujar Bambang Setiobudi.

Bambang Setiobudi mengatakan, pada tahun 1999, US Green Building Council (USGBC) mendirikan Leadership in Energy and Environmental Design (LEED). Dan dalam perkembangannya, karena banyaknya produsen barang yang meng-claim produknya ”green” atau “environmental friendly”, maka pada tahun 2009 US Federal Trade Commission (USFTC) merasa perlu mengembangkan beberapa guideline untuk mengatur claim environmental (green) tersebut, antara lain melalui: ISO 14024, EcoLogoCM, dan EnergyStar Green Seal Label.

“Di dalam sertifikasi tersebut, Anda dapat membaca produk tersebut disertifikasi untuk aspek apa saja, untuk recycled content saja atau less carbon emission, atau lainnya,” jelas Bambang Setiobudi.

Kalau kita bicara tentang Green Building, tambah Bambang, ada beberapa hal atau isu yang terkait di dalamnya, antara lain:

Pertama, Energy, memakai sumber energy terbarukan seperti solar energy, menghemat energy seperti pemakaian lampu hemat energy, dan penyinaran alamiah.

Kedua, Domestic Water, memakai air lebih sedikit dengan low-flow water fixtures dan kemampuan untuk recycled.

Ketiga, Chemical, tidak memakai bahan-bahan kimia dan yang mengurangi carbon emission.

Keempat, Kesehatan, penghuninya menjadi lebih sehat dan puas dibanding dengan rata-rata gedung-gedung lain, karena kualitas udara atau bahan bangunan.

Dan kelima, Design, gedung didesign terintegrasi sedemikian rupa, sehingga dicapai pemakaian energy dan sumber daya lainnya secara efisien.

“Sekarang ini dibutuhkan kesadaran global untuk mengurangi laju global warming. Sehingga mau tak mau semua pihak, khususnya para pelaku bisnis properti untuk memasukkan konsep “Green Building” dalam pertimbangan bisnisnya,” tegas Bambang Setiobudi.

Kalau isu ini diabaikan, maka memunculkan potensi hilangnya pemasukan bagi pengembang, arsitek, konsultan mekanikal-elektrikal, manajemen properti dan lainnya. Kepedulian mereka terhadap konsep "Green Building," akan menjadi selling point bagi proyek propertinya. (Erlan Kallo, Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya. )