Betulkah Orang Baik Tidak Cocok Jadi Orang Lapangan?

KonsPro (8/9) - DALAM sebuah diskusi yang dihadiri Property Manager dilempar sebuah pernyataan yang menyatakan, bahwa sebagai seorang Property Manager yang notabene adalah seorang pekerja lapangan tidak cocok diemban oleh orang yang baik. Karena output pekerjaannya kurang baik dan tim yang dibawahinya cenderung lembek. Tentu pernyataan ini perlu diuji kebenarannya dan akan banyak menimbulkan pro kontra dan perdebatan yang sengit. Apapun pendapat yang disampaikan terhadap hal ini, intinya adalah agar seorang Property Manager berhasil mengelola unit atau tanggung jawabnya dengan baik perlu menjadi seorang Property Manager/pemimpin yang handal.

Agar dapat menjadi seorang pemimpin yang handal dan bagaimana kriterianya, saya sebagai penulis berdasarkan pengalaman sendiri dan pendapat para pakar di bidang Human Resources & Development (HRD) seperti Antoni Diomartin, Syumanjaya maupun ulasan James Gwee, maka secara garis besar dapat disampaikan, pemimpin yang handal adalah pimpinan yang dapat menerapkan pola 4 D yaitu:

1. Decision (mampu mengambil keputusan)

Seorang pemimpin harus bisa dan berani mengambil keputusan. Sebagai seorang Property Manager (PM) yang merupakan pimpinan tertinggi di dalam unit/gedung yang dikelolanya, memang setiap saat harus dapat mengambil keputusan baik untuk urusan kegiatan operasional rutin maupun dalam kondisi mendesak/emergency. Seorang Property Manager dituntut dapat mengambil keputusan tepat pada saat dibutuhkan.

Keputusan-keputusan yang dibuat tentu menanggung konsekuensi yang menyangkut kebijakan dan financial. Untuk kegiatan rutin tentu seorang Property Manager dapat dengan mudah mengambil keputusan-keputusan seperti penentuan jumlah security, cleaner dan stafnya, sehingga kegiatan operasional dapat berjalan dengan baik.

Masalahnya adalah pada saat terjadi kondisi non rutin seperti suplai air terhenti, sehingga kebutuhan penghuni tidak dapat dipenuhi. Atau ketika genset sebagai back up tidak dapat beroperasi dengan baik, air kolam renang yang tidak baik (cloudy bahkan berubah warna), ada kebakaran dalam unit, permintaan customer yang di luar ketentuan yang ada dan lain-lainnya. Seorang Property Manager harus dapat mengambil keputusan agar masalah segera teratasi dengan biaya yang dapat dipertanggung jawabkan.

2. Directing (mampu memberikan pengarahan)

Seorang pimpinan yang handal harus mampu memberikan pengarahan kepada subordinatnya untuk mencapai target-target yang telah ditetapkan, atau memberikan arahan pada saat team/stafnya mendapat masalah dan perlu bantuan dari pimpinannya. Jadi seorang pimpinan tidak boleh hanya bisa memberikan target dan pekerjaan saja kepada team-nya tapi harus mampu juga memberikan arahan bagaimana melakukan sebuah pekerjaan dengan lebih baik.

Seorang Property Manager harus dapat memberikan petunjuk kepada team-nya baik dalam bidang Engineering, Customer Service, Security, PGA maupun Security/Safety Officer. Jangan sampai seorang Property Manager hanya dapat berkata “Terserah kamulah, Lakukan yang terbaik” pada saat team/ staf/anak buahnya datang menemui untuk meminta bantuan menyelesaikan masalahnya.

3. Decisive (mampu bersikap tegas/ konsisten)


Untuk posisi apapun, ketegasan itu perlu apalagi buat pimpinan unit/Property Manager. Ketegasan seorang pimpinan dapat dirasakan dan dilihat langsung oleh bawahannya. Paling menyebalkan memang kalau punya pimpinan yang tidak tegas dan tidak konsisten, sehingga sering berubah-ubah dan membuat team-nya kalang kabut dan frustrasi.

Secara financial point of view, sikap tidak tegas seorang pimpinan bisa berakibat pemborosan karena bisa saja persiapan yang sudah dilakukan akan dibatalkan karena ada perubahan keputusan pimpinan. Pimpinan yang tidak tegas sering terombang ambing oleh pendapat orang di sekitarnya bahkan termasuk pendapat anak buahnya. Apabila hal ini berlarut maka team akan bisa berjalan liar dan tidak produktif.

Berdasarkan penjabaran mengenai masalah Decision, Directing dan Decisive ini sebenarnya kalau ada kemauan semua pimpinan dapat dan mampu menjadi pimpinan yang bisa mengambil keputusan, bisa memberikan pengarahan, tegas dan konsisten. Hal ini dapat dipastikan apabila seorang Property Manager “hands on” dan up to date terhadap kegiatan operasional rutin yang ada maupun masalah–masalah yang ada.

Seorang Property Manager sulit membe-rikan keputusan dan dapat memberikan pengarahan, sekaligus konsisten terhadap keputusannya apabila dia tidak menguasai permasalahan yang sedang dihadapi. Disamping itu, kehandalan seorang pimpinan dalam kemampuan memberikan keputusan, pengarahan maupun dalam hal ketegasannya di lapangan tetap berada dalam kerangka “QCD” yaitu Quality, Cost dan Delivery.

Artinya keputusan yang diambil tidak asal-asalan alias tetap mempunyai kualitas dan dengan konsekuensi biaya yang efisien dan diputuskan minimal sesuai dengan jadwal waktu yang ditentukan. Contohnya adalah misalnya dalam penentuan pembelian sebuah barang yang nilainya cukup besar seperti overhaul genset atau penggantian sling/wire rope lift. Property Manager dengan bantuan team-nya harus dapat memutuskan scope pekerjaan, spesifikasi barang/material dan kontraktor yang dipakai, sehinga dapat menghasilkan kualitas hasil pekerjaan yang baik, secepatnya dilaksanakan dengan biaya yang efisien. Dengan demikian genset atau lift tidak terlalu lama out of order karena sedang menunggu proses negosiasi misalnya.

Memperhatikan uraian tersebut di atas, tidak berlebihan kalau disimpulkan bahwa untuk dapat menjadi pimpinan yang handal, sebenarnya kuncinya pimpinan tersebut harus menguasai dan up to date permasalahan yang menjadi tanggung jawabnya, agar bisa mengambil keputusan, mengarahkan dan tegas/konsisten terhadap team-nya.

Yang paling sering membuat seorang pimpinan gagal menjadi pimpinan yang handal justru ada pada D terakhir yaitu:

4. Dignity (martabat/harga diri)

Kalau diperhatikan di sekitar kita banyak pimpinan besar/handal mengalami kegagalan dan tersandung masalah karena tidak dapat menjaga martabatnya dengan baik dan terperosok sangat dalam terseret kasus asusila, maupun masalah keuangan. Pimpinan yang bermartabat dapat dipastikan adalah pimpinan yang berkarakter baik, menyenangkan dan mempunyai attidute yang baik juga.

Pimpinan yang berkarakter tentunya tidak marah-marah terus dan mengin-timidasi anak buahnya karena cara-cara seperti ini sebenarnya cara yang primitive. Tapi pimpinan harus bisa marah apabila menemukan kondisi di lapangan ataupun stafnya yang tidak sesuai dengan ketentuan/arahan yang sudah kita sampaikan.

Sebagai gambaran, saya sebagai orang lapangan kalau dibutuhkan memang dapat meledak-meledak dan marah besar apabila subordinat tidak melaksanakan kesepakatan pekerjaan yang ada. Demikian juga sebaliknya saya akan sangat mengapresiasi, apabila ada karyawan yang berprestasi dan menjalankan tugasnya dengan baik.

Suasana kerjanya dibuat menyenangkan/”fun” tanpa takut mereka menjadi kurang ajar/melewati batas norma-norma hubungan atasan bawahan. Secara garis besar biasanya saya kemas menjadi ground rule 3 F yaitu Fun, Focus dan Fair pada saat kita beinteraksi melaksanakan pekerjaan. Suasana pekerjaan harus Fun tapi tetap Focus, agar pekerjaan selesai dengan baik dan Fair (punishment dan rewarding-nya)

Jadi menjadi orang baik atau “tidak baik”/keras di lapangan hasil pekerjaannya akan tidak memuaskan apabila tidak dapat melaksanakan konsep 4 D tersebut di atas. Orang bijak bilang bahwa pimpinan yang sering dihujat oleh anak buahnya adalah pimpinan yang tidak baik, sedangkan pimpinan yang baik adalah pimpinan yang dielu-elukan pada saat dia datang, tapi pimpinan yang paling baik adalah pimpinan yang tidak dirasakan keberadaannya oleh anak buanya. (Penulis: Gde W.P. Arya, Apartment Manager PT PBI, Sumber: Bulletin Inner City)