ICL Berkomitmen Memberikan Nilai Tambah Apartemen

KonsPro (9/9) - INVESTASI apartemen sepertinya telah menjadi trend  investasi properti saat ini. Tak heran jika banyak orang yang berburu apartemen untuk menangguk keuntungan, bahkan dalam satu gedung, seseorang bisa memiliki beberapa unit apartemen. Imbasnya, jika unit tersebut dibiarkan kosong tak berpenghuni, apartemen tersebut akan sepi dan terkesan mati. Padahal suasana hidup sangat berperan dalam meningkatkan value apartemen tersebut. Belum lagi jika sang pemilik tidak melakukan kewajibannya untuk membayar service charge, sinking fund, dan biaya utilitas lainnya.

Sebagai perusahaan jasa property management, PT Prima Buana Internusa (PBI), mencoba memberikan solusi dengan membentuk satu divisi yang khusus menangani hal tersebut, yaitu Inner City Living (ICL).

Prinsip kerja ICL hampir mirip dengan property agent yang memasarkan secondary market. Bedanya, ICL hanya menawarkan sewa menyewa, khusus untuk apartemen yang berada di bawah pengelolaan PT PBI.

“Visi ICL adalah tidak sebatas sewa menyewa tetapi akan menjadi beyond marketing, atau sesuatu yang lebih sehingga bisa memberi value buat PT PBI,” tutur Taka Wong, Chief Marketing Officer ICL.

“Khususnya untuk apartemen-apartemen yang masih baru dan sepi, merupakan target utama pemasaran kami,” ujar Taka yang sudah terjun ke dunia properti sejak delapan tahun lalu.

ICL memiliki dua program kerja yakni, sewa menyewa bersifat regular dan non regular. Regular sendiri terbagi dalam dua kategori, yakni unit apartemen dan fasilitas umum seperti ATM centre, minimarket dan lain sebagainya.

Sementara untuk yang non regular juga terbagi dalam dua kategori, yaitu leveraging fasilitas umum, seperti lahan parkir yang sepi, dan Idle land atau lahan kosong,” Jelas Taka.

Untuk yang regular menurut Taka, telah berjalan dengan baik. Sedangkan untuk program non regular, saat ini ICL sedang merencanakan, pembuatan gudang pada lahan parkir yang sepi. “Rencananya segera diluncurkan, target penyewa adalah pemilik unit ruko atau kios di apartemen,” ucap Taka.

Untuk program non regular idle land, ICL berencana untuk melakukan MOU dengan beberapa café yang telah memiliki brand cukup terkenal. Sama halnya dengan divisi lain, ICL juga memiliki strategic business Unit (SBU). Untuk itu, ICL selalu berusaha menangkap peluang, dan mencari investor-investor yang menguntungkan bagi apartemen yang bersangkutan.

“Tidak hanya sebatas keuntungan material, tetapi juga responsibility terhadap unit-unit yang disewakan, misalnya untuk pembayaran service charge, sinking fund, itu tetap kami pantau, caranya dengan tetap menjalin kontak dengan si penyewa,” tutur Taka.

Visi ICL lainya adalah to be marketing oriented company, tentu saja dengan dukungan semua pihak yang berada di bawah PBI.

“Semua harus memiliki jiwa marketing, di antaranya dengan keramahtamahan, attitude yang baik, mengutamakan kebersihan, keamanan dan kenyamanan, sehingga investor akan merasa senang dan tertarik untuk menyewa atau berinvestasi di apartemen yang dikelola oleh PT PBI,” jelas Taka.

Dengan ICL, Taka berharap dapat membe-rikan nilai tambah kepada unit-unit apartemen di bawah pengelolaan PBI. “Yang pasti semua ini demi kenyamanan pemilik tinggal di apartemen,” ujarnya optimistis. (Asriati, Sumber: Bulletin Inner City)