Membeli Properti Tanpa Uang, Tanpa KPR, Buat Kalangan Broker Properti Resah

KonsPro (3/9) - DALAM beberapa bulan terakhir ini, jika anda rajin membaca koran KOMPAS pasti anda menemukan iklan banner Iklan Seminar Gratis “Strategi Membeli Banyak Properti Tanpa Uang Tanpa KPR” yang dibawakan oleh Cipto Junaedy. Forum ilmiah tersebut diadakan di hotel-hotel mewah di berbagai kota-kota besar. Dalam seminggu iklan berbiaya puluhan juta ini dapat tayang 2 kali.


Seminar tersebut mengajarkan kepada pesertanya jurus-jurus pamungkas cepat kaya dalam waktu singkat lewat bisnis properti. Hebatnya, lebih tepat ajaibnya, Cipto “mengharamkan” mengeluarkan uang, DP (uang muka) maupun KPR (kredit pemilikan rumah). Padahal dalam “tradisi” bisnis properti yang berlaku hingga saat ini kata-kata itu bagaikan surat dan prangko, tak dapat dipisahkan dari bisnis properti.

Dalam iklan-iklannya, Cipto menyebutkan, seminarnya adalah murni 100% Seminar STRATEGI bukan seminar motivasi, bukan MLM, bukan perekrutan agen, serta bukan penawaran bisnis Franchise. Seminar ini akan mengajarkan kepada peserta mengenai strategi ilmu terapan yang sudah dipraktekkannya sendiri dalam hal Membeli Properti Tanpa Uang.

Pada intinya, Cipto Junaedy hanya menawarkan bahwa konsumen harus mengunci risiko properti. Contoh yang ditawarkan Cipto adalah membayar pembelian properti melalui sewa lahan untuk produk iklan seperti billboard. Namun, lahan yang ditawarkan haru berada di lokasi primer agar bisa disewakan ke perusahaan billboard dengan harga di atas bunga KPR. Hanya saja, kalau memakai konsep ini, sangat jelas bagi masyarakat yang tinggal di pedesaan atau pegunungan, bakal tak mampu menjalankan konsep ala Cipto. Padahal, yang namanya konsep harus bisa dijalankan oleh siapapun tanpa terperangkap oleh ruang, waktu dan lokasi.

Sepak terjang Cipto ini kemudian memuncul polemik di kalangan pelaku bisnis properti, khususnya kalangan broker properti, seperti yang terungkap dalam acara “Bincang Bisnis Properti” yang diadakan oleh DPD AREBI (Asosiasi Real Estate Broker Indonesia) DKI Jakarta, Kamis (2/9) kemarin, di Jakarta.

Pembohongan publik

Kalangan broker properti mempertanyakan “teori” Cipto. Bahkan mereka menuding bahwa Cipto sudah melakukan pembohongan publik. “Apa mungkin orang bisa memiliki aset properti tanpa harus keluar uang, atau paling tidak memanfaatkan fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR)? Apalagi, konsep yang ditawarkan oleh Cipto masih samar-samar dan belum ada penjelasan konkrit bagaimana memiliki aset properti secara gratis namun legal,” ujar Hary Jap Ketua DPD AREBI DKI Jakarta, yang memandu acara tersebut.

Hary menyatakan, bahwa memang mungkin membeli properti tanpa uang, tapi urusan belum selesai. Karena masih ada cicilan yang harus dibayar. Membeli properti tanda uang dan tanpa DP itu mungkin, kalau evaluasi dari bank itu harga propertinya jauh lebih tinggi. “Tapi saat ini itu mustahil, karena faktanya suku bunga di Indonesia itu selalui 2 digit. Kalau pun pengembang menawarkan 8-9% itu hanya untuk merangsang pembeli saja. Padahal Sebetul suku bunga riil masih dua digit,” jelas Hary.

Strategi lain yang ditawarkan oleh Cipto, yang dianggap tidak jelas oleh sebagian besar peserta “Bincang Bisnis Properti”, adalah strategi untuk mematahkan kewajiban uang untuk membayar tanda jadi. Uang tanda jadi untuk memiliki aset properti dimintakan kepada perusahaan iklan atau billboard. Caranya, PPJB konsumen dengan pengembang dibawa ke perusahaan iklan untuk menjadi bukti kepemilikan properti. Masalahnya, bagaimana mungkin PPJB itu bisa keluar dari ruang penandatangannya perjanjian kalau konsumen tidak membayar sepeserpun ke pihak developer?

Salah satu yang menjadi narasumber, David Chandra Principal Ray White Kelapa Gading, mengatakan dengan tegas “teori” Cipto itu membutuh orang “super hoki”. Ini merupakan upaya pembodohan rakyat, dimana ujung-ujungnya hanya bisnis seminar saja, dalam prakteknya sulit dilakukan.

“Kalau owner punya properti lokasi yang sangat bagus, mana mungkin dia mau jual. Kecuali kalau dia bodoh banget. Harus dia pasang billboard sendirilah. Kita perlu memberikan pencerahan kepada masyarakat bahwa semua ini tidak benar,” timpal David.

Bagi para praktisi pemasaran, konsep yang ditawarkan Cipto sangat menarik sekaligus membuat penasaran. Boleh jadi, banyak yang tak percaya bahkan menganggap konsep Cipto hanya omong kosong, mimpi, halusinasi, dan gimmick pemasaran belaka. Sekedar agar bukunya laku terjual. (Erlan Kallo, Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.)