Tunggu Pemilu Developer dan Investor Rem Aksi Bisnis

0
Sebelum Pilpres dan Pileg , developer dan investor cenderung bersikap, selektif, dan tidak melakukan ekspansi. (Ilustrasi: Rifat/KONSPRO)

KONSPRO, JAKARTA – Gonjang-ganjing situasi politik tanah air jelang Pemilihan Presiden/Wakil Presiden (Pilpres) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) membuat pelaku pembangunan (developer) dan investor “mengerem” aksi bisnis. Sebelum Pilpres dan Pileg (17 April 2019), developer dan investor cenderung bersikap hati-hati, selektif, dan tidak banyak melakukan ekspansi.

Pendapat ini disampaikan oleh Wakil Sekretaris DPP Real Estate Indonesia (REI), Bambang Eka Jaya, di Jakarta, (18/2).  Menurutnya, kecuali FLPP (Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan) rumah sederhana untuk kalangan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) akan tetap berjalan.

“Untuk properti segmen menengah atas dalam beberapa bulan ke depan akan mengambil posisi wait and see sampai perkembangan pemilu beres,” ujar Bambang Eka Jaya.

Baca juga: Debat capres terkait infrastruktur perlu lebih dielaborasi

Untuk diketahui, kenaikan harga properti residensial di pasar primer pada triwulan IV 2018 melambat. Hal itu tecermin dari indeks harga properti residensial (IHPR) yang tumbuh 0,35%, lebih rendah jika dibandingkan dengan indeks triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,42%.

Menurut Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) yang menyampaikan hasil survei harga properti residensial (SHPR) BI di Jakarta, Selasa (12/2), perlambatan kenaikan harga properti residensial tersebut bersumber terutama dari rumah tipe kecil.

Dijelaskan, pada triwulan IV 2018, penjualan properti residensial turun 5,78%, tetapi itu masih lebih baik jika dibandingkan dengan penjualan pada triwulan sebelumnya yang turun 14,14%.

Sementara itu, pada triwulan I 2019, harga rumah diprediksi meningkat 0,42% disebabkan kenaikan harga bahan bangunan dan upah tenaga kerja.

Menurut Bambang, mengacu pada hasil survei BI itu, tren penurunan sebenarnya lebih dari 23% daripada yang sebelumnya. Karena itu, segmen rumah menengah atas yang sifatnya menjadi rumah kedua atau rumah investasi merasakan pengaruh yang besar.

“Kalau untuk segmen primary hampir semua tiarap. Pasar kita lihat sedang tidak kondusif sekali sehingga kami terpaksa menunda meluncurkan proyek hunian harga Rp500 juta hingga Rp700 juta di Tambun, Bekasi,” terang Bambang.

Baca juga: Permintaan Rumah Menengah Atas di CitraGarden Aneka Pontianak Terus Meningkat

Namun, lanjutnya, penurunan pembelian untuk rumah tipe kecil rentang harga di atas FLPP Rp300 juta hingga Rp600 juta juga terpengaruh. Pemain di segmen ini juga sudah berupaya memberikan sejumlah kemudahan baik dari segi suku bunga, metode pembelian, maupun penawaran diskon.  

Bambang menjelaskan, properti residensial pasar primer biasanya disasar konsumen yang berharap pada kondisi kompleks hunian yang lebih baru atau pasangan yang ingin melakukan peningkatan kualitas.

Berbicara supply and demand, Bambang melihat permintan tidak terlalu banyak, tetapi ketersediaan residensial stok lama masih banyak yang belum terserap. Ia menyebut ketersediaan properti seharga Rp500 juta hingga Rp2 miliar sebagian tidak terserap.

Karena itu, perlambatan kenaikan harga properti residensial di pasar primer ini tidak selalu berarti negatif harga turun. Sebaliknya, melambat sebenarnya, harganya tetap naik tetapi penyerapannya tidak meningkat, malah menurun. “Harga tetap naik tapi penyerapan yang agak berat,” kata Bambang.

Editor: Reza GK