Tanggul di Pesisir Jakarta Dilengkapi Polder

0
Foto: beritajakarta.com

KonsPro (23/01) JAKARTA – PASCA jebolnya tanggul Kalibaru, Cilincing, dan tanggul Muara Baru, Penjaringan, Jakarta Utara, Pemprov DKI langsung merespons dengan melakukan perbaikan di kedua tanggul tersebut. Untuk tanggul Kalibaru sendiri direncanakan akan selesai Minggu, (23/1). Sedangkan untuk tanggul Muara Baru pekerjaan pemasangan bronjong masih terus dilakukan. Selain akan meninggikan tanggul, Pemprov DKI juga akan membuat tanggul sepanjang pantai utara Jakarta dengan menggunakan sistem polder.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan dalam melakukan perbaikan tanggul yang jebol tidak dapat dilakukan dalam jangka pendek. Pihaknya tidak ingin memberikan harapan kepada masyarakat. “Untuk perbaikannya tidak bisa dilakukan dalam jangka pendek. Pemprov memberikan harapan yang realistis, karena memang tidak dapat dikerjakan dalam jangka waktu satu sampai tiga tahun ini,” kata Fauzi, saat meninjau lokasi jebolnya tanggul, Sabtu (22/1) siang.

Untuk itu, warga diharapkan tidak terbuai dengan tawaran perbaikan tanggul dalam jangka pendek. Seperti diketahui, peristiwa jebolnya tanggul yang mengakibatkan ratusan rumah terendam terjadi juga karena peningkatan permukaan air laut. Sehingga masyarakat sekitar juga sudah memahaminya. “Kita tidak bisa menjamin kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” tambahnya.

Karena itu, pihaknya akan menyontoh sistem pemerintahan Belanda, dengan membangun polder. Pihaknya juga akan berkoordinasi dengan pemerintah pusat dalam melakukan pembangunan tanggul. “Seperti sistem di Belanda, daratan yang berada 300 meter di bawah permukaan laut dibangun polder,” ujarnya.

Sementara itu, akibat air pasang dan mengakibatkan tanggul jebol, ratusan rumah di enam RT di RW 17 Kelurahan Penjaringan, Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, terendam banjir sejak Rabu (19/1) kemarin. Banjir menggenangi rumah warga setiap pukul 08.00 dan surut pada pukul 15.00. “Banjirnya hanya dari pagi hingga sore hari saja, kalau malam hari air tidak pasang,” kata Ali Mudasir, Lurah Penjaringan.

Dikatakan Ali, hingga saat ini warga masih tetap bertahan di rumah masing-masing dan belum ada yang dievakuasi. Menurutnya, terdapat dua titik tanggul jebol, masing-masing 12 meter dan 15 meter, dari keseluruhan tanggul sepanjang dua kilometer. Untuk ketinggian air berkisar 50 sentimeter hingga 150 sentimeter.

“Warga yang terendam banjir berada di RT 15 sampai RT 19 serta RT 07, dengan 3.725 jiwa. Selain pemukiman warga banyak juga pergudangan yang terendam,” tambah Ali, saat ditemui di lokasi.

Pihak kelurahan menyiagakan mobil puskesmas yang berkeliling di perkampungan warga untuk memantau kesehatan warga. Hingga saat ini, keluhan warga masih didominasi dengan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan gatal-gatal. “Kita juga mendapat bantuan dari PMI untuk tenaga medis. Bantuan logistik juga sudah diberikan kepada warga melalui ketua RW,” jelasnya. (beritajakarta.com)