Tak Hanya End User, Invertor Properti pun Incar Transyogi

0
Jalur transyogi ini boleh dikatakan sebagai kawasan paling berkembang di wilayah Jabodetabek. (Foto: Istimewa)

KONSPRO, CIBUBUR – Sepuluh tahun yang lalu koridor Cibubur – Jonggol atau lebih dikenal sebagai jalur alternatif Transyogi mungkin belum menjadi tujuan investasi properti yang menarik. Tetapi kalau untuk tempat tinggal,  kawasan ini sudah sejak dahulu merupakan dambaan keluarga, khususnya keluarga muda. Karena dibanding dengan wilayah lain, udara di kawasan ini masih lebih bersih, sejuk, dan asri.

Namun berbeda dengan hari ini, jalur transyogi ini boleh dikatakan sebagai kawasan paling berkembang di wilayah Jabodetabek. Sekarang, selain end user transyogi juga paling diminati baik oleh investor. Mengapa?

Mengenai hal ini, Piter Simpony Deputy CEO Harvest City punya jawaban. Menurutnya jika di-compared  dengan beberapa wilayah lainnya, misalnya Serpong atau Bintaro, harga properti (tanah dan bangun) di wilayah Transyogi masih jauh lebih rendah. Sehingga kemungkinan naik berkali lipat sangat besar. Sementara wilayah lainnya harga properti sudah mencapai harga maksimal atau stagnan.

Baca juga: Setelah Incar Milenial, Harvest City Tarik Pasar Komunitas Mobil

“Harga tanah di koridor Transyogi saat ini, berkisar Rp2 juta – Rp10 juta. Tapi di kawasan penyangga ibukota lainnya sudah Rp15 juta – Rp30 juta. Saya perkirakan sekitar 5 – 10 tahun ke depan harga tanah di kawasan ini naik di atas Rp15 juta seiring dengan perkembangan infrastruktur dan fasilitas kotanya,” kata Piter, Senin, 13 Mei 2019, di Transgoyi, Cibubur.

Piter mengatakan, tumbuhnya perumahan berbagai segmen, area komersial, mal, hotel, bahkan apartemen yang eksis di sepanjang koridor Transyogi merupakan bukti kawasan ini masuk kategori sunrise property. Transyogi kini menjadi barometer pertumbuhan bisnis properti Jabodetabek.

Beberapa mal yang sudah eksis adalah Cibubur Square, Cibubur Juntion, Plaza Cibubur, Mal Ciputra Cibubur, Metropolitan Mall Cileungsi, Cibubur Point, Ruko Kranggan Permai, Cibubur Times Square, dan yang terbaru Trans Studio Mall.

Bahkan di sepanjang koridor Cibubur hingga Jonggol diperkirakan sudah lebih dari 100 perumahan skala besar, menengah, dan kecil, termasuk klaster-klaster kecil organik yang tumbuh dengan menumpang fasilitas pada perumahan-perumahan besar.

Dia memperkirakan, kenaikan harga properti signifikan akan terjadi ketika pembangunan sejumlah ruas infrastruktur jalan tol dan transportasi massal (light rail transit/LRT), termasuk pelebaran jalan utama Transyogi, yang diharapkan menjadi solusi mengurai kepadatan lalu lintas selesai.

“Sekarang ini pemerintah sedang kebut pembangunan Jalan Tol Cimaci (Cimanggis –Cibitung) sepanjang 26,4 km. Tol ini nantinya akan terhubung dengan beberapa jalan tol lainnya di Simpang Susun Cimanggis, seperti dengan Jalan Tol Jagorawi dan Jalan Tol Cinere-Jagorawi (Cijago). Ini akan mendongkrak nilai properti di sepanjang jalur Cibubur – Jonggol,” ungkap Piter Optimis.

Ruas jalan Tol Cimaci terdiri dari dua seksi, yakni seksi I dengan ruas Cimanggis Junction (Tol Jagorawi)-Transyogi sepanjang 3,1 km dan seksi II Transyogi-Cibitung (Tol Cikampek) sepanjang 23,3 km.

Komersial berkembang

Gencar pembangunan infrastruktur di Transyogi, menurut Piter memberi dampak positif terhadap bisnis properti.  Apalagi beberapa kawasan di Jabodetabek bisnis properti sudah mengalami kejenuhan. Karena itu, Pembeli terutama investor akan mencari kawasan-kawasan “muda” yang sedang bertumbuh pesat.

“Nah, koridor Transyogi inilah tepat bagi investor yang ingin mendapatkan margin tinggi. Karena meski semakin padat, jalur Cibubur – Jonggol ini terus  lirik oleh banyak pengembang, karena permintaannya terus meningkat. Hal ini sangat dirasakan oleh proyek kami Harvest City,” jelasnya.

Piter menjelaskan, bukan hanya properti residensial, tetapi properti komersial, khususnya bisnis hypermart makanan cepat saji yang terus tumbuh bak cendawan di musim hujan di jalur Transyogi. Hal ini tak terlepas dari pertumbuhan penghuni di perumahan-perumahan di wilayah tersebut.

“Sekarang ini para pengusaha ritel juga melihat Harvest City   memiliki potensi cukup besar. Terbukti dengan masuk PT. Fast Food Indonesia yang membuka gerai Kentucky Fried Chicken (KFC) stan alone dan Narma Toserba di Harvest City,” ujar Piter.

KCF dan Narma Toserba yang tidak lama lagi akan buka di Harvest City. (Foto: Istimewa)

Piter optimis, dalam 3 – 5 tahun ke depan perumahan skala kota ini akan berkembang cepat, karena beberapa keunggulannya. Pertama, Harvest City satu-satunya perumahan yang memiliki land bank terbesar di koridor Transyogi, yaitu seluas 1.350 hektar. Kedua, master plan didesian berskala kota, ketiga, produknya mencakup semua segmen yang menyediakan rumah dari harga Rp200 jutaan hingga Rp1 miliar. Dan keempat, fasilitas yang terus bertumbuh yang menjadi trigger kenaikan nilai investasi.

Di Harvest City sendiri sudah terdapat berbagai fasilitas antara lain: kawasan pertokoan, Restoran Saung Apung, Harvest Box, Hobbit Hill, sekolah, pasar, Harvest Walk, Water Yoy, pusat kebugaran, dan shuttle bus berbagai jurusan, KCF dan Narma Toserba yang tidak lama lagi akan buka. Akan menyusul pula fasilitas-fasilitas rumah sakit, pom bensin, sekolah internasional,  supermarket bahan bangunan, serta masjid raya.

Baca juga: Harvest City dan BTN Permudah Akses Milenial Dapatkan Hunian Rp200 Jutaan

“Saat ini kami sedang tawarkan produk-produk menarik yaitu hunian harga Rp200 jutaan, dan menawarkan hunian kelas menengah, seperti klaster Sweet Alba yang lepas dengan harga mulai Rp400 jutaan untuk tipe 40/90 hingga Rp800 jutaan untuk rumah dua lantai tipe 69/120. Lalu ada klaster Rosaline yang dijual dengan harga Rp400 jutaan, dan klaster Rosemary yang dilepas dengan harga Rp500 jutaan,” ungkap Piter.

Untuk komersial, Harvest City menawarkan ruko Boulevard Orchid dengan harga Rp500 jutaan. Ini properti komersial yang dibangun di prime area Harvest. Harga segitu sangat menarik murah kalau melihat spek dan lokasinya.

Reporter: Rifat Pahlevi

Editor: Reza GK