Semester I 2011: Positif, Semoga Terus Berlanjut

0
Ilustrasi: bangun-rumah.com

KonsPro (2/8) JAKARTA – TAHUN 2010 lalu ekspetasi nilai penjualan properti mencapai Rp 90 triliun. Tahun 2011 ini beberapa kalangan meyakini akan mengalami peningkatan, diyakini mengalami kenaikan hingga di atas angka Rp 100 triliun. Kenaikan ini didorong oleh pasokan properti yang diikuti pertumbuhan penjualan.

Selain itu peningkatan nilai industri properti nasional juga didorong oleh membaiknya kondisi perekonomian nasional, seperti rendahnya tingkat suku bunga perbankan. Kenaikan harga jual properti juga mendorong penambahan nilai penjualan industri properti tanah air. Pertumbuhan penjualan semua sektor properti cenderung merata pada kisaran 10-12%.

Membaiknya industri properti Indonesia sejak 2010 lalu, diperkirakan berlangsung hingga sepuluh tahun ke depan. Kondisi ini diindikasikan penguatan daya beli masyarakat dan perbaikan makro ekonomi Indonesia. Selain itu, penurunan tingkat suku bunga kredit properti diperkirakan berlanjut seiring stabilnya BI Rate, sehingga nilai penjualan industri properti bisa terangkat. Tapi tak kemungkinan-kemungkinan akan tetap ada terkait beberapa peristiwa berskala nasional seperti pemilihan umum pada 2014 nanti.

Menurut Anton Sitorus Head of Research Jones lang LaSalle Indonesia mengungkapkan, iklim ekonomi yang terus kondusif didorong oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta peningkatan kepercayaan investor membuat sektor properti jadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Hal ini memberikan  dampak positif bagi perkembangan pasar properti di tanah air, khususnya Jakarta. Permintaan di berbagai subsektor properti terus meningkat dan diprediksi akan menaikan harga jual dan sewa.

Saat ini penjualan unit apartemen pada kwartal kedua ini sudah mencapai 2.000 unit. Meningkat sekitar 15% dari kwartal pertama. Sehingga pada tengah tahun ini sudah terserap sekitar 3.000 unit apartemen dari berbagai kelas, bawah hingga atas.

Perkembangan ini tak lepas dari pasokan yang terus bertambah. Lihat saja di tengah kota dua developer raksasa berbagi kue di ruas Jl. Prof.DR. Satrio, Jakarta Selatan yakni Kuningan City milik Podomoro Land dan Ciputra World Jakarta milik Group Ciputra. Begitu pula di beberapa kawasan lain di luar CBD juga bergerak cepat perkembangannya. Sehingga diperkirakan akhir tahun kenaikan penjualannya juga terus meningkat.

Sementara itu di Surabaya perkembangannya juga signifikan. Tiga raksasa properti seperti Pakuwon Group, Ciputra Group dan Intiland Development memberikan andil dalam perkembangan properti Surabaya. Kenaikan harga tanah tak terelakan karena mengikuti perkembangan kota. Khususnya di kawasan timur dan barat kota Surabaya, harga tanahnya berkisar antara Rp2,5 juta hingga Rp4 juta/m2.

Bergeraknya harga ini menurut Yavet Kristianto Direktur ERA Jatim, Surabaya, karena berkembangnya properti tersebut, dimulai dari fasilitas hingga infrastruktur. Namun tak dipungkiri kenaikan ini tak menyurutkan penjualan properti yang ditawarkan. “Begitupun dengan properti sekunder juga mengalami efek positif. Apalagi yang berada di kawasan perumahan-perumahan yang dikembangkan dengan konsep modern dengan segala fasilitasnya.
Seperti yang disebut di atas nilai transaksi tahun ini pub akan naik dibanding tahun lalu maka wajar saja. Bahkan ini menjadi godaan tersendiri bagi kantor broker untuk merebut pasar properti, baik primer maupun sekunder. Menurut Oka M Kauripan, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI), persaingan di pasar primer maupun sekunder yang melibatkan broker sangat positif. Hal ini menandakan ada pertumbuhan yang signifikan di bisnis properti.

Menurut Oka, sejumlah faktor yang dipercaya akan menopang pertumbuhan bisnis agen properti pada tahun ini, di antaranya karena transaksi selama semester pertama 2011 terutama dari pasar primary market tumbuh signifikan yakni 55 %, sementara di secondary market juga tumbuh 45 %. Selain itu makin rendahnya suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) dan kredit pemilikan apartemen (KPA) juga memengaruhi melesatnya bisnis hunian ini.
Sementara Nurul Yaqin Direktur Ben Hokk Property menambahkan suku bunga kredit yang kompetitif juga menjadi pemicu daya beli masyarakat yang menjadikan kondisi properti menjadi daya tarik buat investasi property.

“Minat investasi properti naik. Semua itu mendorong pertumbuhan pasar properti sekunder yang merupakan garapan utama agen properti. Tahun ini, omzet bisnis agen properti se-Indonesia bisa lebih dari tahun 2010 yang hanya mencapai sekitar 20 hingga 30 triliun rupiah,” tambah Nurul.

Nah, semua ini tak lepas dari iklim ekonomi yang kondusif dan suku bunga pasar yang relatif rendah merupakan faktor pendorong meningkatnya transaksi properti. Jika kondisi ini tetap terjaga diyakini masa bulan madu inudstri properti seperti sebelum krisis ekonomi tahu  1997 akan terus berlanjut. Dimana sebelumnya pada 2007 dan 2008 lalu sempat terganggu akibat krisis ekonomi keuangan yang terjadi di Amerika Serikat. Dan semoga ketakutan beberapa kalangan terkait industri properti yang akan mengalami bubble  tak akan terjadi. Karena saat ini perbankan sangat hati-hati pula dalam pendaan kreditnya. Semoga kondisi positif ini terus membaik dan terjaga. (MH/KonsPro)