Segmen MRB Paling Aman

0
Ilustrasi

KONSPRO, JAKARTA – Dalam situasi politik tak menentu dan kondisi ekonomi yang belum stabil, pasar perumahan di segmen menengah ke bawah, terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dinilai paling aman (menguntungkan). Sehingga jangan heran kalau tak hanya pengembang kecil, tapi pengembang besar juga ikut “berebut kue” di proyek perumahan subsidi.

Elang Gumilang, CEO Elang Group menyebutkan, saat ini banyak pengembang yang tertarik menyasar segmen MBR karena permintaan rumah pasti akan selalu ada. Sementara pasar untuk segmen menengah atas juga belum membaik.

Karena itu, ungkapnya, jika pengembang mau “mencari aman”, maka masuk ke segmen menengah ke bawah menjadi pilihan yang rasional, sembari menunggu kondisi perekonomian Indonesia membaik.

Elang juga menilai sifat willingness to pay (kesediaan membayar) pada segmen ini lebih kencang karena membeli hunian bukan dijadikan sebagai produk investasi, tapi memang merupakan suatu kebutuhan.

Baca juga: Bulan Depan Harga Rumah Subsidi Bakal Naik

“Lanjut dia, oleh karena perumahan subsidi bukan proyek pemerintah, siapa saja bisa mengerjakan proyek tersebut. Karena bukan proyek tender pemerintah, jadi bebas, siapa saja boleh bangun karena backlog perumahan masih sangat tinggi,” kata Elang, seperti dikutip Bisnis.com, Senin (28/1).

Elang mengatakan prosedur menggarap rumah subsidi tidak berbeda jauh dengan perumahan komersial. Yang membedakan adalah pemerintah sudah menetapkan batas harga untuk rumah subsidi. Namun batas harga tersebut berbeda di setiap daerah.

Elang Group yang sebelumnya ikut mengerjakan proyek segmen menengah, Elang mengatakan pihaknya akan kembali fokus menggarap perumahan segmen menengah ke bawah, khususnya perumahan untuk MBR.

Elang Group tengah menyiapkan pembangunan 5.000 unit rumah subsidi di kawasan Bogor dan Sukabumi. Pembangunan akan dilakukan secara bertahap, di mana pada tahap pertama kan dibangun sekitar 1.100 unit rumah.

Proyek tersebut akan dibangun di area segitiga emas Bogor, terletak tak jauh dari jalan tol dan stasiun commuter line Bogor, sehingga Elang menilai inilah yang menjadi kelebihan proyeknya. Selain itu, daerah lain yang akan dikembangkan proyek tersebut adalah Sukabumi.

“Pembangunan rumah subsidi siapa pun bisa, karena backlog-nya besar, yang penting bankable dan visible,” kata Totok kepada Bisnis, belum lama ini.

Baca juga: REI Sulsel Siap Bangun 10 Ribu Rumah Subsidi

Sekjen DPP Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida mengatakan meskipun margin rumah subsidi tipis, baik pengembang besar maupun pengembang kecil ikut mencicipi pasar rumah bagi MBR tersebut.

Dia mengatakan banyak pengusaha yang membangun rumah subsidi karena peruntukannya memang yang membutuhkan hunian yang pasarnya selalu ada sehingga realisasi lebih cepat dibandingkan dengan segmen rumah lainnya, seperti rumah menengah dan menengah atas.

Bahkan, Bobby Arif Nasution, menantu Jokowi ikut membangun rumah subsidi di Sukabumi. Pengembang besar seperti PT Ciputra Residence pun ikut membangun perumahan untuk MBR.

“Tidak hanya Bobby, pengembang besar Ciputra juga bangun rumah subsidi di Maja. Siapapun yang membangun tidak masalah, itu kan proyek pemerintah, bukan proyek swasta. yang dapat subsidi bunga kan juga end user,” jelas dia.

Dia mengatakan peraturan membangun rumah subsidi pun tidak berbeda dengan membangun rumah komersial, di mulai dari anggaran dasar, lengkapnya tertuang dalam PP No. 64 tahun 2016 tentang pembangunan perumahan masyarakat berpenghasilan rendah.

PT Ciputra Development Tbk melalui entitas anak perusahaannya PT Ciputra Residence meluncurkan dua klaster terbaru sekaligus dari proyek Citra Maja akibat membludaknya jumlah permintaan dari konsumen pada akhir 2018 lalu.

Baca juga: Eka Tjipta Widjaja Founding Fathers Sinar Mas Group Berpulang

Associate Director PT Ciputra Residence Yance Onggo mengatakan mulanya pihaknya hanya akan meluncurkan satu klaster terbarunya, Sanur, sebanyak 645 unit. Namun, sejak dibukanya pendaftaran NUP pada 26 November, jumlah permintaan telah mencapai 1.150 konsumen sehingga Ciputra Residence membuka klaster tambahan.

Dua klaster tersebut terdiri atas 3 tipe rumah, yaitu Tipe Kana (22/60) dengan harga Rp168 juta, Tipe Soka (27/72) dengan harga Rp208 juta, Tipe Dahlia (36/72) dengan harga Rp236 juta, dan Tipe Dahlia B (36/90) dengan harga Rp265 juta. Yance mengatakan seluruh harga unit sudah termasuk PPN dan biaya surat AJB BPHTB.

Sejak diluncurkan pertama kali pada 2015, Citra Maja Raya telah memberikan kontribusi penjualan sebesar Rp3,2 triliun dengan menjual sebanyak 14.000 unit rumah dengan komposisi 80% merupakan rumah sederhana dan 20% merupakan rumah berjenis real estate.

Sebagai informasi, Citra Maja Raya memiliki luas lahan sebesar 2.600 hektare dan telah melakukan serah terima sebanyak 7.000 unit rumah.

Editor: Reza GK