Rumah Hemat Energi Memperpanjang Usia Bumi

0
ilustrasi green building - suarasurabaya.net

KONSPRO, JAKARTA – Penggunaan energi terus menerus dilakukan oleh penduduk bumi, hal ini membuat bumi menjadi ‘lelah’, terlebih jika melihat sampai ada pencemaran di mana-mana. Lalu bagaimana cara mengatasi hal ini dari sisi properti?

Pakar energi sekaligus pendiri Green Building Council Indonesia (GBCI) Rana Yusuf Nasir mengatakan bahwa hemat energi hanya akan sekadar teori jika tidak dipraktikkan lewat gaya hidup.

Baca juga : Kementerian PUPR Serahkan Aset Rusunawa untuk Pemkot Mataram

Adapun, menurutnya, bangunan gedung menghabiskan lebih dari sepertiga sumber daya dunia untuk konstruksinya, menggunakan 40 persen dari total energi global dan menghasilkan 40% dari total emisi gas rumah kaca (greenhouse gas) (GHG).

Dalam membantu mewujudkan properti yang hemat energi, pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menginisiasi gerakan green property dengan menerbitkan Permen PUPR No. 1 Tahun 2015 tentang Bangunan Gedung Hijau

Lewat aturan tersebut, telah diwajibkan bagi bangunan gedung seluas di atas 5.000 meter persegi untuk memiliki sertifikasi Green Building.

“Faktanya baru 44 persen gedung baru di Jakarta yang menerapkan konsep itu, sedangkan gedung-gedung lama ‘masih tidur’. Padahal, efisiensi energi pada bangunan lama akan memberi kontribusi yang lebih tinggi terhadap keseluruhan upaya efisiensi energi di sektor bangunan,” jelasnya melalui siaran pers, Selasa (10/9/2019).

Di area Jakarta sendiri, lahan hijau tidak lebih dikdari 10%. Menurut Rana, Jakarta butuh 650 hektare tambahan lahan hijau dari asumsi 10% dari luas Jakarta yang diperkirakan 65.000 hektar. Bagaimana solusinya?

“Emisi gas rumah kaca harus diturunkan. Caranya lewat penerapan konsep go green, termasuk program satu miliar pohon dan gerakan atap hijau atau green roof,” ujar Rana.

Atap ramah lingkungan, menurut Rana, juga diklaim dapat menambah daya tahan atap rumah atau bangunan karena melindungi dari sinar ultraviolet dengan tumbuhan sebagai pelindung dari cuaca serta dapat membantu menurunkan suhu ruangan hingga 30 persen.

Tatok Prijobodo, Country Director PT Onduline Indonesia, produsen atap hijau Ondugreen di Indonesia, menjelaskan, selain mampu menurunkan suhu udara terutama di perkotaan, berdasarkan studi tahun 2005 oleh Brad Bass dari University of Toronto, penggunaan atap hijau juga dapat menyerap hujan, menyediakan zona isolasi bagi penghijauan, mengurangi suhu 50 persen—90 persen serta mengurangi efek pemanasan global.

“Menerapkan atap hijau manfaatnya sangat besar bagi anak cucu kita kelak,” ujarnya.