Roof Garden Solusi Sehat untuk Bangunan Bertingkat

0

KonsPro (21/02) – PARA  environmentalis atau penggiat lingkungan seringkali mengeritik tata ruang perkotaan dengan mencetuskan kalimat “hutan beton”. Ya, kota kita sudah menyerupai hutan di mana pepohonannya adalah bangunan-bangunan beton.

Dengan hutan beton yang mengepung aktivitas warga perkotaan, kualitas kesehatan warga pun dipastikan terus menurun dan cenderung memburuk. Polusi udara dari kendaraan bergerak bebas masuk ke paru-paru dan aliran darah. Itu bisa lebih buruk di wilayah kota yang sangat kurang ruang terbuka hijaunya.

Jika musim hujan, banjir terjadi di mana-mana karena daerah-daerah yang dulunya berfungsi sebagai resapan air sudah dilapisi perumahan, perkantoran, dan bangunan apa saja yang terbuat dari beton. Jika kemarau, gelombang panas memapar kulit sekering-keringnya dan terasa “mendidihkan” otak.

Apa yang harus kita lakukan dengan kondisi seperti ini? Apakah kita harus membongkar seluruh gedung-gedung beton itu dan mulai menanam pohon? Jelas, itu mustahil kita lakukan.

Yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki keadaan adalah, selain mendesak pemerintah menghentikan pembangunan di jalur-jalur hijau dan mulai memperluas ruang terbuka hijau, bangunan-bangunan beton harus “dihijaukan” atau diberi roof garden; taman atap.

Roof garden merupakan bagian dari green architecture atau konsep desain bangunan hijau. Di negara-negara maju, roof garden sudah dikembangkan. Tujuan utamanya untuk mengurangi polusi dan memperindah bangunan. Dan itu sudah terbukti manjur.

Di Indonesia, sejumlah perhotelan sudah mulai menerapkan roof garden ini. Di Makassar pun demikian. Bahkan menurut konsultan perencana kota, Lucky S Mesoina, roof garden kini mulai dilirik oleh warga, tetapi masih khusus kalangan elit.

Lucky menjelaskan, roof garden saat ini sudah menjadi kebutuhan untuk menyiasati minimnya ruang terbuka hijau di perkotaan. “Bangunan-bangunan bertingkat seperti hotel, apartemen dan gedung-gedung perkantoran sudah seharusnya memiliki roof garden,” kata Lucky.

Roof garden sudah bisa dibuktikan fungsinya sebagai salah satu alternatif penghijauan untuk meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan di kota besar. Roof garden, meski hanya berisi rerumputan, semak-semak, tanaman hias dan pohon-pohon kecil, ternyata ampuh dalam mencegah atau mengurangi laju pemanasan global dan pencemaran udara.

“Tanaman pada roof garden bukan hanya mereduksi racun polutan, tapi juga memproduksi oksigen. Gedung juga bisa terasa lebih sejuk sehingga di masa depan bisa saja membantu pemilik gedung mengurangi penggunaan pendingin buatan,” kata Lucky yang berkantor di PT Silvo Tirta, Jl Gunung Nona dan PT Madet, Jl Racing Center ini.

Meski demikian, Lucky mengakui membuat roof garden juga punya tantangan tersendiri. Bukan hanya sekadar biaya yang terbilang tinggi, tetapi juga membutuhkan struktur dan konstruksi atap yang spesifik. Membuat roof garden sudah pasti berkonsekuensi pada bertambahnya beban bangunan. Karena itu, perencanaan lebih awal akan sangat membantu.

Untuk membuat roof garden, setidaknya ada lima syarat yang harus diperhatikan. Yang pertama, pastikan bangunan konstruksi kuat untuki menahan beban tanah dan media tanam. Timbunan tanah dan tanaman jelas akan menambah beban mati, beban angin, ditambah lagi beban air pada atap bangunan. Jika jenis tanaman perdu yang akan ditanam, beban atap akan bertambah sekitar 650 Kg/m2. Ditambah lagi beban bergerak sesuai aktivitas pada taman atap itu. Misalnya, 400 Kg/m2 untuk olahraga, 500 Kg/m2 untuk pesta dan dansa, serta 250 Kg/m2 untuk restoran.

Kedua, sebaiknya roof garden ditutupi tanaman-tanaman teduh untuk menghindari cahaya langsung dari matahari. Tanaman jenis perdu bisa diandalkan untuk itu. Ketiga, untuk mengurangi panas, tutup permukaan dengan bahan yang menyerap panas, seperti rubber tile atau rumput.

Keempat, perhatikan jenis tumbuhan dan ketebalan tanahnya. Untuk jenis rerumputan, ketebalan tanah yang diperlukan 20 cm. Tanaman jenis semak-semak membutuhkan ketebalan 30 cm – 50 cm. Untuk pohon perdu, dibutuhkan media tanah setebal 80 cm.

Yang kelima ini yang paling penting. Permukaan harus benar-benar dirancang tahan air. Sebab tanaman-tanaman itu akan disirami air sehingga harus dilengkapi saluran pembuangan air. Lapisan drainase seperti kerikil, pasir, batu karang dan batu apung perlu ditambahkan agar air mudah mengalir ke lubang saluran pembuangan. Filter terbuat dari geotextile atau ijuk berfungsi mengalirkan air ke bawah tetapi menahan butiran tanah agar tidak menyumbat lubang pembuangan. Untuk mencegah kerusakan lapisan kedap air (water proof layer), lapisan penahan harus ditambah agar akar tanaman tidak merusak lapisan kedap air dan beton di bawahnya.

“Untuk membantu kelancaran drainase, sebaiknya memilih vegetasi yang tidak memerlukan banyak air,” imbuh Lucky.

Hal terpenting lainnya yang patut menjadi perhatian adalah pemeliharaan. Si pemilik jelas harus sering-sering memperhatikan kesuburan tanamannya dan lapisan anti-airnya. Jangan sampai air merembes pada beton atau tembok sehingga menjadi ancaman bagi seluruh penghuninya.

Selain untuk ruang publik, roof garden juga bisa menjadi ruang pribadi. Roof garden jenis ini sudah banyak diterapkan pada perumahan-perumahan elit. Tetapi prinsip pembuatannya sama saja dengan roof garden pada gedung bertingkat. (luckymesoina@ymail.com-berbagai sumber)