Ritel Perkuat Pegadang Kios

0

KonsPro (25/4) SURABAYA – GUNA menumbuhkan sektor mikro, salah satu minimarket besar mulai membenahi kios dengan memanfaatkan dana corporate social responsibility (CSR) . Ini dilakukan Alfamart yang membentuk Alfa Kios dengan dana Rp 10–Rp 15 juta per kios.

Branch Manager PT Sumber Alfaria Trijaya (Alfamart) Surabaya Nurcahyo Rahutomo mengatakan, syaratnya pedagang sudah menjalankan usahanya sebulan di lokasi strategis dan usahanya feasible. Ia berharap, Alfa Kios bisa terbangun 300 unit di Jatim pada tahun ini.

“Kami sedang evaluasi pedagang mana yang layak dan bersedia melakukan kerja sama, keuntungan nanti sharing profit dan pasokan produk dari kami dengan sistem delivery dan harga jualnya khusus,” kata Nurcahyo, pekan lalu.

Terutama kawasan Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, akan menjadi target tahap awal. Kios Alfa yang sudah ada saat ini sekitar 20.000 unit tersebar di Jabodetabek dan Jawa Barat. Di Makassar juga sedang dikembangkan 150 unit.

“Kios ini dibangun bukan untuk mematikan kios-kios kecil, tetapi justru menumbuhkan aktivitas perdagangan mikro dengan cara yang lebih sederhana. Kalau franchise kan butuh dana Rp 300–400 juta,” jelasnya.

Segmen pembeli franchise Alfamart adalah menengah ke atas, sedangkan Alfa Kios murni pedagang mikro. Mereka tidak perlu mengeluarkan biaya karena Alfamart telah mendanai setiap kios. “Mereka hanya menjualkan barang dengan sistem sharing profit. Mereka juga kita bina secara manajemen penjualan, bagaimana melayani pembeli, dan mengatur cash flow,” papar Nurcahyo.

Sekjen Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Rudy Sumampouw mengatakan, upaya ritel merangkul pedagang mikro sudah banyak dilakukan pengusaha ritel lain, namun dengan cara yang berbeda.

“Kalau Alfamart bikin Alfa Kios, ritel lain juga melakukan pembinaan serupa, bisa dalam pinjaman kredit lunak, pembinaan langsung UMKM tradisional hingga koperasi dan bentuknya bukan kios,” jelas Rudy, dihubungi Minggu (17/4).

Menurutnya, pembinaan semacam itu tidak bertujuan mematikan pedagang-pedagang mikro. “Justru malah membantu, pelaku usaha ritel malah tidak mendapatkan keuntungan apa-apa karena menggunakan dana CSR, dana yang memang dialokasikan untuk kemitraan dan kepedulian lingkungan,” tegasnya.

Tingginya pertumbuhan ritel modern sudah sewajarnya diimbangi dengan pertumbuhan perdagangan di sektor mikro. Namun, masih banyak pedagang di sektor mikro yang belum memiliki manajemen yang bagus, sehingga keuntungan yang bisa didapatkan tidak bisa optimal.

“Masing-masing punya segmen dan tidak saling mematikan. Justru kami harapkan yang besar membina dan menaungi yang kecil,” yakinnya.
Selain Alfa Kios, Alfamart juga mempunyai program kemitraan bernama Store Sales Point (SSP). Konsepnya hampir sama yakni penjualan kepada pedagang kecil dengan harga khusus.

Mitra mereka antara lain pemilik warung rumahan, warung rokok, koperasi, hingga kantin. Program-program kemitraan itu membantu pemerintah mengelola pedagang kaki lima (PKL) agar lebih tertib dan rapi, serta menumbuhkan kinerja usaha mikro dan kecil. (surya.co.id)