RI Masih Butuh 8,5 Juta Rumah

0
Iqbal Latanro, Direktur Utama BTN

KonsPro (15/12) BANDUNG — MESKI  harga rumah terus naik dan lahan semakin sempit namun diperkirakan pasar perumahan di Indonesia masih akan mengalami peningkatan. Hal itu terutama didorong oleh karena faktor kebutuhan perumahan yang masih defisit (backlog) 8,5 juta unit.

“Setiap tahun terdapat tambahan kebutuhan rumah baru sekitar 800 ribu unit karena adanya pertambahan penduduk,” ujar Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero), Iqbal Latanro dalam acara gathering akhir pekan lalu. Saat ini masih banyak pengantin baru yang tinggal di rumah mertua atau memilih tinggal di rumah kontrakan.

Di sisi lain, suplai perumahan yang dibangun pengembang maupun secara pribadi oleh masyarakat (swadaya) masih sangat kecil. Per tahun rata-rata hanya terbangun 400 ribu unit rumah. Dengan demikian terjadi ketidak seimbangan antara demand dan supply. “Setiap tahun rata-rata terjadi penambahan backlog sebesar 400 ribu unit rumah,” kata dia.

Oleh karena itu, sebagai bank yang fokus dalam pembiayaan perumahan, BTN optimis pangsa pasar pembiayaan yang bisa diraih terus meningkat setiap tahun. Apalagi kontribusi pembiayaan perumahan (mortgage loans) terhadap GDP (gross domestic bruto) di Indonesia hanya sekitar dua persen saja. “Kita targetkan pembiayaan tahun ini meningkat 25-30 persen,” tuturnya.

Hingga semester III tahun ini, BTN mencetak laba bersih tumbuh sebesar 84,26 dibanding periode yang sama tahun lalu (year on year), yaitu dari Rp.324 miliar (QIII 2009), menjadi Rp 597 miliar (QIII 2010).

Sementara dari sisi kredit, BTN juga mencatat pertumbuhan mencapai yang sangat tinggi mencapai 29 persen, yakni dari Rp 38,123 triliun (per 30 September 2009) menjadi Rp.49,179 triliun (per 30 September 2010).

Mengenai hal itu, Iqbal mengatakan, meskipun ekspansi kredit perseroaan cukup tinggi, tetapi perseroan tetap menjaga NPL (non performing loans) kreditnya agar tetap sehat. NPL (Net) Bank BTN per 30 September 2010 lalu tercatat 3,48 persen. “Kami optimis dapat merealisasikan target-target yang telah dituangkan dalam RKAP tahun ini,” tukasnya.

Dia mengungkapkan, Dana Pihak Ketiga (DPK) BTN hingga triwulan III tahun ini tumbuh sebesar 27,62 persen menjadi Rp.43,029 triliun dari sebelumnya Rp.33,717 triliun (QIII 2009). Dengan demikian menopang pertumbuhan aset perseroan sebear 23,31 persen hingga triwulan III tahun ini, yakni dari Rp.51,495 triliun (QIII 2009) menjadi sebesar Rp.63,498 triliun (QIII 2010). “Kita perkirakan pasar perumahan akan tetap tinggi tahun depan,” jelasnya.

Sayangnya, survei residensial Bank Indonesia kuartal III 2010, penjualan properti di 14 kota utama menunjukkan penurunan yang cukup besar, mencapai 12,58 persen dibanding kuartal sebelumnya. BI menyimpulkan, kenaikan harga bahan bangunan dan tingginya upah pekerja menjadi faktor penyebab kenaikan harga perumahan tersebut sehingga mempengaruhi penjualan. (JPNN)