Proyek PPRO Grand Sagara Diprediksi Akan Booming di Semester II 2019

0
Grand Sagara memiliki potensi besar akan booming di pasaran. (Foto: Rifat Pahlevi/KONSPRO)

KONSPRO, JAKARTA – Kinerja PT. PP Properti,Tbk (PPRO)  di tahun 2019 makin kincong saja. Atas pencapaian bisnisnya yang sebagian besar adalah proyek high-rise building, pengembang BUMN (Badan Usaha Milik Negara) dinobatkan sebagai Best Performing BUMN Developer diajang Properti Indonesia Award (PIA) 2019 yang diselenggarakan Majalah Properti Indonesia, di Ballroom Intercontinental Jakarta, Pondok Indah, Jakarta Selatan, pekan lalu.

Selain mendapat penghargaan Best Performing BUMN Developer, dua proyek unggulan PPRO di Surabaya juga meraih penghargaan, yaitu: Grand Sagara, sebagai The Prospective Apartment Development in Surabaya danGrand Shamaya sebagai The Highly Commended Premium Condominium Development in Surabaya.

Hendry Tamzel, Juri PIA 2019 yang juga  Founder and CEO of Hentz Solution mengatakan,  Dewan Juri PIA 2019 telah mengamati kinerja pengembang “plat merah” ini dalam kurun waktu 2 tahun (2018 – 2019)  yang terus meningkat.

Baca juga: CitraGarden Aneka Perumahan Paling Commended di Pontianak

“Beberapa proyek yang di-develop, terutama di Surabaya, Jawa Timur sukses menjadi icon dan mendapatkan respon positif dari masyarakat. Tahun ini mereka mematok target kenaikan pendapatan 17%, laba bersih 18%, dan pertumbuhan marketing sales 20%. Saat ini tidak banyak pengembang yang bisa mencapai itu,” ujar Hendry kepada awak media, di sela-sela acara PIA 2019.

Salah satu proyek PPRO yang menurut Hendry akan booming adalah proyek mixed-use development Grand Sagara memiliki potensi besar akan booming di pasaran. Grand Sagara terletak persis di pinggir laut Suramadu (Surabaya – Madura) yang dibelah oleh jalan menuju Jembatan Suramadu berpeluang menjadi kawasan wisata resort pantai mengikuti jejak kawasan rekreasi Ancol di Jakarta Utara, seiring dengan pengembangan infrastruktur, sarana olahraga bertaraf internasional, pantai Suramadu menjadi kawasan wisata.

Ilustrasi

Ledakan penjualan

Sementara itu, Galih Saksono Direktur Realti PPRO mengatakan, pasca Pilpres (Pemilihan Presiden) suasana politik adem-adem saja, sehingga pihaknya meresa opimis pasar properti di Surabaya akan “meledak” atau booming.  Untuk menyongsong itu, beberapa program baru terutama kerjasama dengan lembaga pembiayaan kredit properti (perbankan).

“Pasca Pilpres ini kita memang berencana tancap gas. Kita punya target yang besar, terutama di Surabaya untuk properti kelas middle hingga premium sebagai andalan yang kita suguhkan ke investor,” kata Galih seusai menerima penghargaan PIA 2019.

Galih optimis, property market di surabaya masih sangat menjanjikan. Karena itu, untuk pasar Surabaya dan Malang target marketing sale PPRO sebesar Rp2,5 triliun, sedangkan nasional sebesar Rp4,17 triliun.

Di Surabaya, kata Galih, salah satu andalan PPRO adalah super blok Grand Sagara yang kita sedang memasarkan apartemen Adriatic Tower setinggi 50 lantai dengan kapasitas 1.040 unit,  sudah dipasarkan sejak Desember 2018.

“Tahun ini kita berharap ada ledakan penjualan di Grand Sagara, terutama setelah peresmian cable car yang dibangun PPRO bagian dari CSR perusahaan. Diharapkan dapat menarik crowded untuk datang ke lokasi, sehingga mereka tahu dan tertarik berinvestasi di Grand Sagara,” tandas Galih.

Baca juga: Basuki: Kemudahan Berusaha, PR Pemerintahan Baru

Pembangunan cable car yang diinisiasi Pemkot Surabaya untuk mendukung Suramadu  sebagai kawasan wisata bertaraf internasional. Jalur cable car membentang di sepanjang Pantai Kenjeran Surabaya, diyakini mampu mempercepat terealisasinya kawasan resort pantai itu sekaligus mendorong tumbuhnya bisnis properti berkelas di kawasan tersebut.

Adriatic Tower dipasarkan dengan harga berkisar Rp380 juta hingga Rp850 juta per unit, tipe mulai dari studio, unit satu kamar tidur, dan dua kamar tidur. Dalam proses membangun PP Property Suramadu menerapkan prinsip cashflow leadership. Dengan demikian modal yang digunakan untuk berinvestasi di kawasan Grand Sagara relatif jauh lebih kecil dari nilai revenue. Saat ini perjualan Adriatic Tower sudah sekitar 30 persen, dan diharapkan tahun ini bisa terjual 50 – 80 persen.

“Proyek kami satu ini benar-benar unik. Konsepnya The Real Sea View. Orang punya apartemen sea view itu hanya bisa dinikmati di pagi hingga sore hari, dan malam gelap gulita. Tapi di Grand Sagara ada Jembatan Suramadu yang terang benderang yang menciptakan keindahan di malam hari, sehingga kami sebut sebagai The Real Sea View,” jelasnya.

Saat sedang dilakukan pekerjaan loading test merupakan proses yang paling krusial untuk menentukan kekuatan bangunan. Penyelesaiannya ditargetkan sekitar Oktober 2019. Setelah itu masuk ke tahap perapian infrastruktur kawasan, termasuk pembangunan marketing office dan show unitnya. Pekerjaan konstruksi akan dimulai pada tahun 2020.

Penulis: Erlan Kallo