Proyek Kondominium Hotel Gapuraprima di Pondok Indah Terkendala Izin

0

 

KonsPro (29/9) JAKARTA – EMITEN  properti PT Perdana Gapuraprima Tbk (GPRA) menunda pembangunan proyek kondominium hotel di Pondok Indah hingga akhir tahun ini, karena terkendala perizinan. Perseroan semula berencana memulai konstruksi kondominium hotel tersebut di kuartal III 2011.

Rudy Margono, Direktur Utama Gapuraprima, mengatakan saat ini proyek tersebut masih dalam proses mendapatkan izin, sehingga pengerjaan konstruksi ditunda hingga Desember 2011. Sedangkan pemasaran sudah dilakukan. “Kami berharap izin bisa keluar secepatnya, sehingga pembangunan dapat cepat selesai,” katanya, Selasa.

Kondomonium hotel senilai Rp 120 miliar itu semula direncanakan mulai dibangun pada September tahun ini. Sumber dana berasal dari 30% kas internal, 20% pre-sales, dan pinjaman dari perbankan. Rudy menyatakan untuk pendanaan, perusahaan telah mengajukan pinjaman ke salah satu bank nasional. Namun, dia tidak menyebutkan detailnya.

Kondominium hotel itu akan memiliki 170 unit, dengan harga jual mulai Rp 530 juta. Dari jumlah total itu, setengahnya akan dijual dan setengahnya lagi disewakan. “Kami akan menggandeng Best Western Hotel sebagai operator untuk kondominium hotel tersebut,” ujar Rudy.

Mundurnya pengerjaan konstruksi proyek akan berdampak pada mundurnya pengakuan pendapatan perusahaan. Karena itu, manajemen perlu lebih intensif memperhatikan masalah perizinan ini agar tidak melebihi jadwal yang ditargetkan perusahaan.

Masalah birokrasi,  masih menjadi salah satu faktor penghambat utama di sektor properti. Selain tidak ada kepastian waktu, biaya proses perizinan di Indonesia juga cukup mahal.

Selain kondominium hotel, Gapuraprima sedang membangun proyek mixed-use GP Plaza di daerah Slipi, Jakarta Barat. Menurut Rudy, pembangunan sudah dimulai sejak Agustus 2011 dan akan dilakukan topping off pada Mei 2012.

GP Plaza akan mencakup areal perkantoran dan apartemen. Luas tanahnya sekitar 6.000 meter persegi dan luas bangunan mencapai 20 ribu meter persegi. Perusahaan menyiapkan dana sekitar Rp 150 miliar untuk proyek ini. Pengerjaan konstruksi proyek GP Plaza kembali dilanjutkan setelah sempat terhenti akibat adanya revisi konsep dan izin yang harus menyesuaikan dengan tata ruang kawasan Slipi tuntas.

Pemerintah Provinsi  DKI mencanangkan Slipi menjadi kawasan pusat bisnis terpadu di Jakarta Barat. Jika dulu konsepnya lebih menekankan pada pembangunan proyek hunian (apartemen), nantinya komposisi proyek dibuat berimbang antara hunian dan bisnis.

Perseroan menargetkan pendapatan akan naik 20% dibanding tahun lalu menjadi Rp 370 miliar. Rosihan Saad, Sekretaris Perusahaan Perdana Gapuraprima, mengungkapkan perseroan telah menganggarkan belanja modal pada 2011 sebesar Rp 300-Rp 500 miliar untuk mendanai pengembangan proyek-proyek baru  itu, termasuk biaya pemeliharaan gedung komersial yang sudah beroperasi.

“Pertumbuhan pendapatan 20% kami harapkan tercapai dari penjualan unit apartemen, hunian horizontal, dan pusat perbelanjaan,” katanya.

PT Pakuwon Jati Tbk (PWON) akan memulai pembangunan kondominium serta areal perkantoran di Pakuwon City Township dan pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza V Surabaya akhir tahun ini. Kondominium terdiri dari 17 lantai, dengan 167 unit. Rencananya, seluruh unit kondominium akan dijual. “Harga jualnya sendiri masih kami hitung,” ujar Ivy Wong, Direktur Pengembangan Bisnis Pakuwon Jati.

Sedangkan perkantoran, yang berlokasi di bawah kondominium, memiliki 19 lantai. Total lahan Pakuwon City Township mencapai 20 hektare.

Ivy menyatakan perusahaan menargetkan pembangunan kondominium, perkantoran, dan Tunjungan Plaza V akan rampung akhir 2013. Saat ini sudah ada beberapa tenant high end yang siap mengisi Tunjungan Plaza V. Pusat perbelanjaan ini merupakan pengembangan dari Tunjungan Plaza I-IV yang sudah lebih dulu beroperasi. Nilai investasi Tunjungan Plaza V diperkirakan mencapai Rp 500 miliar. (Indo.FinanceToday)