Profit Pengembang Minim, Minat Konsumen Menurun

0
Ilustrasi: inforumah.net

KonsPro (24/12) SURABAYA– BEBERAPA tahun lalu banyak ditemui masyarakat membeli kavling di sebuah perumahan, baik rencana dibangun rumah sendiri atau sebagai investasi. Namun beberapa tahun terakhir, hal itu sudah jarang ditemui lagi. Pengembang tak lagi memasarkan proyeknya dalam bentuk kavling, melainkan properti baik rumah, ruko, atau area komersial.

GM CitraLand Surabaya Andy Soegihardjo mengatakan, kecenderungan berkurangnya minat konsumen terhadap lahan kavling di Surabaya, membuatnya tak memilih menawarkan lahan kavling.

“Banyak hal yang memengaruhi, selain karena minat berkurang, dari sisi pengembang sendiri yang tak bisa mengikat pembeli. Ini karena pengembang tak bisa memaksa pembeli untuk segera membangun,” kata Andy, Rabu (22/12).

Menurutnya, ada kelemahan dan kelebihan yang didapat, baik oleh pengembang maupun pembeli kavling. Bagi pengembang, penjualan kavling bisa menjadi alternatif pilihan produk bagi konsumen, sedang bagi konsumen, memiliki kavling selain bisa sebagai investasi, mereka juga bisa membangun rumah sesuai desain yang dinginkan.

“Penjualan kita masih didominasi rumah. Penawaran kavling hanya untuk lahan pojok atau lahan di areal komersial,” ungkap Andy.

Untuk kavling pojok, menurutnya, karena selama ini end user banyak yang menghindari lokasi tersebut. Alasannya, selain lahan terlalu luas, lokasi pojok juga memiliki dua jalan serta sempadan yang harus ditaati.

“Di tempat kita, rata-rata luas kavling untuk pojok minimal 300 meter persegi. Memang ada juga pembeli yang menyukai kavling pojok, dengan alasan mereka bisa membangun sesuai keinginan, lokasi strategis, dan sebagainya,” paparnya.

Meski begitu, ada hal-hal yang harus dilakukan ketika konsumen membangun rumahnya. Selain harus mengajukan izin dulu sebelum membangun, konstruksi bangunan juga harus menaati aturan pengembang, seperti tinggi maksimal bangunan dan garis sempadan.

Direktur Property Twentyone Group Stephanus Setyabudi mengatakan, meski untuk pembelian kecenderungannya menurun, namun penjualan kavling lahan masih dilakukan oleh kalangan pengembang, khususnya yang membidik segmen menengah atas. Alasannya, mereka memiliki tanah yang luas, serta sebagai alternatif produk.

“Saat ini masih ada penjualan kavling oleh pengembang, meski bukan prioritas. Mereka masih melihat bahwa kemampuan konsumen berbeda-beda. Jadi penjualan kavling sebagai pilihan bagi pasar,” papar Stephanus.

Menurutnya, pengembang-pengembang besar yang memiliki lahan cukup luas dan mengkhususkan diri ke segmen menengah atas atau dengan luas kavling minimal 300 meter persegi, penjualan produknya relatif masih didominasi jenis kavling atau rata-rata 70-80 persen.

Sedang pengembang yang memetakan lahan kavling di kisaran 200-450 meter persegi, komposisi antara penjualan kavling dengan rumah hunian sekitar 50 persen. Sementara untuk luasan tanah kurang dari 200 meter, banyak didominasi penjualan rumah.

“Diakui keuntungan penjualan kavling tak setinggi rumah atau bangunan lain. Namun tak bisa dihindari bahwa untuk membangun properti, pengembang harus siap dana tak sedikit. Jadi meski mulai ditinggalkan, penjualan kavling tak bisa diabaikan pengembang,” ungkap Stephanus.

Ia menambahkan, ada hal-hal yang memang harus dipahami oleh pembeli kavling. Misal sebagian pengembang tetap memberi batas waktu kepada mereka bahwa maksimal dua tahun harus segera dibangun. “Itu dilakukan untuk menghindari adanya spekulan tanah,” katanya.

Selain itu, selama kavling belum dibangun, sertifikat tanah masih tetap diatasnamakan pengembang bersangkutan.

“Biasanya baru diatas namakan pemilik setelah pembangunan rumah selesai. Jadi pemilik kavling tak secara ‘resmi’ memiliki lahan itu,” pungkasnya. (Surya Online)