Pertumbuhan Bisnis Broker Melebihi Industri Properti

0
Ilustrasi: moneymoon.org

KonsPro (8/9), JAKARTA – SEBAGAI  kebutuhan dasar manusia, permintaan rumah atau tempat tinggal di Indonesia dari tahun ke tahun terus meningkat. Karena itu bisnis jasa broker properti tidak akan mati mesti krisis moneter “Jilid 2” terjadi.

Dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa backlog (kekurangan) perumahan hingga tahun 2011 diperkiraan mencapai 13,6 juta unit rumah. Itu artinya ada 13,6 juta keluarga yang belum memiliki rumah, bahkan riil di lapangan angkanya bisa jauh dari itu.

Selain itu, pertumbuhan ekonominya Indonesia yang diperkirakan mencapai 6,5 persen memicu lonjakan permintaan properti komersial (office, ruko, mall, hotel, dan kawasan industri). Bagi para investor, khususnya investor asing, untuk saat ini investasi properti di Indonesia sangat menjanjikan. Karena dibanding dengan negara-negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura, harga properti masih under value.

Menurut Darmadi Darmawangsa Ketua Umum DPP Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI), kondisi ini dibaca oleh investor-investor cerdas sebagai peluang “emas”. Mereka menginginkan investasinya “aman” sekaligus mendulang capital gain yang signifikan,” ujar Darmadi beberapa waktu lalu.

“Para investor asing membidik Indonesia di saat harga properti di negara-negara lain sudah over value. Mereka berharap “berkah” dari kenaikan harga properti yang pasti terus merangkak naik,” tutur Darmadi.

Pertumbuhan properti di Indonesia mendorong bisnis broker properti ikut berkembang. Beberapa perusahaan waralaba broker properti membukukan kenaikan omzet yang sangat signifikan.  Kenaikan tertinggi antara 50 – 100 persen dibanding tahun sebelumnya terjadi di tahun 2011.

CENTURY 21 INDONESIA, anak usaha Grup Ciputra, sekaligus pemegang waralaba broker properti CENTURY 21 asal Amerika Serikat (AS), juga mengalami peningkatan total omzet tahun 2011 hingga 75 persen.

Andri Witjaksono Executive Director CENTURY 21 INDONESIA (anak usaha Grup Ciputra, sekaligus pemegang waralaba broker properti Century 21 asal Amerika Serikat), yakin, pertumbuhan industri broker melebihi pertumbuhan industri properti itu sendiri. Alasannya, selain dari pasar utama, broker juga mengandalkan penjualan dari secondary market.

“Pada tahun 2011 CENTURY 21 INDONESIA mengalami peningkatan total omzet hingga 60 persen. Dan tahun 2012 ini kami berharap dapat mengulangi sukses tersebut,” kata Andri yang dihubungi vie telepon kemarin.

Melihat gairah pembangunan properti tahun 2012, terutama gedung bertingkat baik residensial dan komersial sangat pesat, Andri memperkirakan, tahun ini pasar properti Indonesia bisa tumbuh atas 15%.

Sementara itu, F.S. Suherman General Marketing CENTURY 21 INDONESIA menambahkan, faktor keterbatasan lahan dan semakin menipisnya pasokan properti di daerah-daerah prime (terbaik) “memaksa” terjadinya koreksi harga properti secara besar-besaran.

“Berkah itu turut dinikmati broker-broker properti. Kenaikan omzet perusahaan broker properti ini sebagai indikasi kepercayaan masyarakat kepada broker meningkat, terutama di kota besar,” jelas Suherman.

Berdasarkan hal tersebut, Suherman optimis dalam konsidi ekonomi apa pun bisnis properti, khususnya jasa broker properti tidak akan pernah redup. (Reza)