Pengembang Waspadai Dampak Virus Corona ke Bisnis Perhotelan

0
Ilustrasi

KONSPRO, JAKARTA — Pengembang properti yang memiliki portofolio bisnis perhotelan tengah mengkaji dampak dari virus corona terhadap okupansi hotel.

Di tengah penurunan jumlah wisatawan mancanegara akibat merebaknya virus corona, pengembang properti PT Intiland Development Tbk. (DILD) menargetkan tingkat okupansi sebesar 65% pada tahun ini.

Direktur DILD Archied Noto Pradono mengatakan angka tersebut berdasarkan target tahunan yang biasa dibidik perseroan.

“Okupansi rata-rata dan target tahun ini masih di 65%,” ujar Archied, Senin (10/2/2020).

Baca juga : Tren Positif Pasar Perkantoran Terdorong Keterbatasan Pasokan

Archied mengatakan bahwa di sektor perhotelan, perseroan hanya memiliki 30% saham PT Intiland Infinita yang merupakan pemilik PT Intiwhiz International.

Whiz hotel tersebar di beberapa kota antara lain Jakarta, Yogyakarta, Bali, Semarang, Pekanbaru, Bogor, Surabaya, dan Balikpapan.

Tingkat okupansi Whiz Hotel, imbuhnya, diharapkan bisa tetap tercapai meski Indonesia sendiri sedang dalam kekhawatiran terhadap wabah virus corona.

Archied mengaku sejauh ini pihaknya masih belum melihat adanya dampak wabah virus corona ke tingkat okupansi di Whiz Hotel. 

“Belum [terdampak] di kita, [tapi nanti] lihat perkembangannya,” imbuhnya.

Di sisi lain, bisnis perhotelan terbilang masih cukup menjanjikan bagi pengembang untuk menambah portofolio properti. Terbukti, DILD akan segera merampungkan proyek mixed used yang didalamnya juga terdapat hotel di Surabaya yang merupakan bagian dari Praxis dan Spazio.

“Rencana ada beberapa yang selesai. Tahun ini bulan Oktober ada dua hotel bagian dari Praxis dan Spazio akan selesai. Saat itu, kami harapkan kondisi pasar sudah membaik,” katanya.

Sebaliknya, pengembang lain PT Metropolitan Land Tbk. (MTLA) mengaku merasakan dampak dari virus corona yang telas meluas ke beberapa negara.

Direktur Metropolitan Land Olivia Surodjo mengatakan wabah virus corona menyebabkan penurunan tingkat okupansi pada hotel yang berada di Bali. 

Menurutnya, hotel di Bali paling merasakan dampaknya karena menjadi destinasi wisata favorit para wisatawan mancanegara termasuk yang berasal dari China.

“Yang pasti terdampak langsung untuk hotel kita di Bali. Kalau yang lain mungkin efek virus corona tidak terlalu besar,” katanya saat dihubungi terpisah.

Metland saat ini memiliki portofolio hotel berupa hotel Horison Ultima Bekasi, hotel Horison Ultima Seminyak, @Hom Hotel Tambun, dan Metland Hotel Cirebon.

Olivia mengatakan bahwa sejauh ini tingkat okupansi hotel di Bali turun di angka 69%. Bulan lalu, okupansi hotel bisa mencapai 83%. Meskipun demikian, dia tidak menyebutkan berapa target okupansi yang dipatok untuk tahun ini.

Dia mengatakan adanya wabah virus corona memungkinkan memberi efek jangka panjang bagi tingkat hunian.

Dengan turunnya jumlah turis internasional yang datang ke Bali maka tak menutup kemungkinan pasar yang diperebutkan pun semakin mengecil.

Bisnis.com