Pengembang Agresif Caplok Pinggiran Bandung

0
Ilustrasi: moneymoon.org

KonsPro (16/03) BANDUNG – PENGEMBANG makin agresif memburu lahan di kawasan timur Kota Bandung pada awal tahun ini karena terbatasnya tanah di kota dan bertambah tingginya permintaan perumahan di wilayah pinggiran.

Endrawan Natawiria, Direktur Eksekutif PT Gardanusa Sutadelta, mengatakan permintaan rumah masih cukup bagus terdorong daya beli masyarakat yang masih kuat. “Pilihannya ialah membangun di kawasan timur dan selatan Kota Bandung yang bebas dari banjir. Permintaan rumah di wilayah-wilayah itu tumbuh setiap tahunnya,” katanya kepada Bisnis, kemarin.

Pengembang tersebut dalam beberapa bulan ke depan berencana membangun sekitar 200 unit rumah dengan tipe antara lain 36 dan 45 di wilayah timur Kota Bandung. Pilihan lokasinya antara lain Rancaekek, Cileunyi, dan Cicalengka.

Endrawan mengatakan rencana pembangunan perumahan baru akan terus berlanjut pada pertengahan tahun, namun jumlah unitnya masih diperhitungkan.

Dia mengatakan prospek bisnis properti di Bandung Raya pada 2011 masih cukup cerah, terutama melihat daya beli masyarakat yang masih kuat. “Daya beli sebenarnya masih konsisten, apalagi kalau program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) berjalan optimal,” katanya.

Di sisi lain, dia mengatakan pengembang juga telah mengantisipasi kenaikan harga minimnya pasokan bahan baku, seperti batu bata merah. Menurut dia, harga batu bata merah saat ini harganya sudah cukup mahal, yaitu mencapai Rp430 per buah.

“Harga bata merah memang cenderung naik dan pasokannya seret akibat panjangnya musim hujan. Kami menyiasatinya dengan menggunakan batako,” katanya.

Ketua Asosiasi Marketer Developer Bandung (AMDB) Yuyun Yudhiana mengatakan kawasan Bandung bagian timur dan selatan masih menjadi primadona pengembang.

Pembangunan perumahan di wilayah itu terbilang cukup pesat karena permintaan rumah dari masyarakat yang terus meningkat. “Sejumlah pengembang terus melakukan ekspansi bisnis setelah melihat masih besarnya potensi pasar,” katanya.

Dia mengakui harga dan ketersediaan bahan baku seperti bata merah sempat menghambat pembangunan perumahan baru. Sejak Januari-Februari, lanjutnya, produksi bata merah menurun akibat tingginya curah hujan. Akibatnya, harga bahan baku tersebut cukup tinggi di pasar.

Berdasarkan perhitungan Yuyun, untuk membangun rumah tipe tipe 27 sedikitnya membutuhkan sekitar 6.000 buah bata merah. Sedangkan untuk tipe 36 membutuhkan minimal 7.000 buah bata merah. “Pasokan batu bata berangsur normal pada pertengahan bulan ini. Diharapkan ini akan membantu pengembang ekspansi bisnis,” katanya. (bisnis.com)