Penataan Empat Pedestrian Butuh Rp 18,75 Miliar

0
Dok. beritajakarta.com

KonsPro (9/3) JAKARTA – Untuk menciptakan keamanan dan kenyamanan para pejalan kaki saat melintas di ibu kota, Pemprov DKI Jakarta mencanangkan penataan kembali pedestrian atau trotoar di wilayahnya. Bahkan, Pemprov DKI Jakarta telah menetapkan empat lokasi pedestrian yang akan ditata secara bertahap mulai April mendatang.

Saat ini, Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta sedang menyusun perencanaan penataan keempat pedestrian tersebut. Diperkirakan penataan pedestrian tersebut menelan dana sebesar Rp 18,75 miliar.

“Hingga saat ini penataan pedestrian di empat lokasi tersebut masih dalam proses perencanaan pembangunan. Kami ingin mendapatkan konsep penataan yang manusiawi dan membuat para pejalan kaki merasa aman dan nyaman berjalan,” kata Catharina Suryowati, Kepala Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI Jakarta, Jumat (9/3).

Kendati masih dalam proses perencanaan, Catharina mengharapkan lelang proyek tersebut tersebut dapat dilaksanakan antara Juni atau Juli 2012. Sebab, pembangunan fisik pedestrian itu harus rampung hingga akhir tahun anggaran 2012. “Kita upayakan pembangunan fisik pedestrian di 4 lokasi uji coba tersebut dapat rampung akhir tahun ini jika anggaran yang kita alokasikan cukup,” ujarnya.

Catharina mengungkapkan, total anggaran yang dibutuhkan dalam pembangunan keempat pedestrian tersebut mencapai sekitar Rp 18,75 miliar. Rinciannya, untuk penataan pedestrian Jalan Gajah Mada dan Jalan Hayam Wuruk masing-masing sebesar Rp 6 miliar, pedestrian Jalan Cikini sebesar Rp 5 miliar, Jalan Sabang sisi utara sebesar Rp 750 juta, serta Jalan Kebon Sirih hingga Jalan Ridwan Rais sekitar Rp 1 miliar.

“Penataan di Jalan Ridwan Rais hanya sampai pada putaran menuju Kebon Sirih. Jadi hanya sepenggal saja. Selebihnya kita lakukan penataan pedestrian Jalan Kebon Sirih yang termasuk jalan utama,” ujarnya.

Rencananya, pedestrian akan dibangun dengan ketinggian 25 sentimeter dari jalan eksisting. Ini dilakukan untuk mencegah sepeda motor melalui pedestrian yang dapat membahayakan pejalan kaki. Selain itu, untuk memanusiawikan pedestrian, akan dipasang tiang bollard di sepanjang trotoar, sehingga motor pun tidak bisa masuk ke atas trotoar.

“Kami akan membangun pedestrian yang aman dan mampu mencegah motor melintasi trotoar. Karena sangat membahayakan pejalan kaki,” tuturnya.

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan untuk mewujudkan pedestrian yang baik, memerlukan juga pengertian dari masyarakat yang saat ini menempatinya, seperti pedagang kaki lima (PKL), tukang ojek, dan pengendara motor yang sering menyerobotnya. Mengingat fungsi trotoar yang sebenarnya adalah untuk pejalan kaki.

Saat ini,  lebar pedestrian di Jakarta rata-rata belum memenuhi standar. Sesuai dengan standar lebar pedestrian minimal lima meter, namun beberapa pedestrian hanya memiliki lebar satu meter hingga dua meter. (BerJak)