Pembangunan Infrastruktur di DKI Sejalan dengan Pusat

0
Foto: beritajakarta.com

KonsPro (14/4) JAKARTA – SEJUMLAH proyek infastruktur pembangunan di DKI, terutama menyangkut pembenahan sarana lalu lintas dan jalan selama ini telah sesuai dengan keinginan pemerintah pusat. Namun, Kementerian Perhubungan menilai masih perlu waktu terpadu dengan Pemprov DKI Jakarta agar semua program yang direncanakan Pemprov DKI dapat segera berjalan.

“Apa yang disampaikan Fauzi Bowo sudah sejalan dengan arahan yang diberikan Wakil Presiden Boediono. Namun, diperlukan adanya waktu terpadu antara Pemprov DKI Jakarta dengan Kementerian Perhubungan agar semua program yang direncanakan dapat segera berjalan,” ujar Freddy Numberi, Menteri Perhubungan, saat rapat dengan jajaran menteri di bawah koordinasi Kementerian Perekonomian dengan Gubernur Fauzi Bowo di Jakarta, Rabu (13/4).

Sementara terkait kendala utama yang selama ini dihadapi yaitu, pembebasan lahan, ditegaskannya Kementrian Perhubungan sudah menyiapkan anggaran sebesar Rp 300 miliar untuk mengatasi hal tersebut.

Menteri PU, Joko Kirmanto, menambahkan pihaknya pun saat ini terus membangun dan mengembangkan infrastruktur yang ada, seperti pembangunan tol JORR W2. Namun ia meminta, harus ada percepatan penyelesaian terkait pembangunan jalan tersebut terutama terkait pembebasan lahan. Menurutnya, pembebasan lahan yang dilintasi tol JORR W2 tidak terlalu sulit. “Seperti pembebasan lahan yang ada di Kembangan, itu sebenarnya tidak terlalu sulit,” ujarnya.

Oleh karena itu, ia meminta Pemprov DKI melalui Pemkot Administrasi Jakarta Barat dan Jakarta Selatan, segera bergerak cepat menyelesaikan permasalahan tersebut. “Kalau ini sudah beres, paling lambat 2012 pembangunan ini sudah terealisasi,” sambungnya.

Menanggapi hal itu, Menko Perekonomian Hatta Rajasa, menegaskan agar seluruh rencana dan program tersebut bisa segera terealisasi, ia meminta seluruh pihak terkait untuk bersinergi. Sebab, presiden sudah meminta agar seluruh program yang telah dibahas sebelumnya bisa ditindaklanjuti dengan cepat. “Sebenarnya sudah banyak yang dibahas, tapi minim tindak lanjut. Sesuai Instruksi Presiden, ini semua diminta untuk segera ditindaklanjuti,” ungkapnya.

Ia juga mengaku, apa yang jadi pemikiran Gubernur Fauzi Bowo sudah disampaikan ke pemerintah pusat dan sudah dipersilakan untuk segera direalisasi. Paling tidak, tahun ini sudah mulai ada hal yang dilakukan dan dibangun.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, mengatakan, terkait mass rapid transit (MRT) untuk tahun ini pihaknya akan memulai pelaksanaan lelang untuk tahap prakualifikasi sesuai target yang direncanakan. Rencananya, tender akan dibuka selama satu tahun yang dimulai pada bulan Juli 2011 dan ditutup pada Juli 2012 mendatang. Rencananya, PT MRT sendiri akan membangun angkutan berbasis rel tersebut yang akan membentang sepanjang 110,3 kilometer yang terdiri untuk koridor utara-selatan (Lebakbulus-Kampungbandan) sepanjang 23,3 kilometer dan koridor timur-barat sepanjang kurang lebih 87 kilometer.

Pembangunan koridor selatan-utara dilakukan dalam dua tahap yakni, tahap pertama dibangun terlebih dahulu jalur Lebakubulus hingga Bundaran HI sepanjang 15,2 kilometer dengan 13 stasiun (7 stasiun layang dan 6 stasiun bawah tanah) yang ditargetkan akan beroperasi mulai November 2016. Tahap kedua, pembangunannya dilanjutkan dari Bundaran HI menuju Kampungbandan sepanjang 8,1 kilometer yang ditargetkan beroperasi pada tahun 2018. Sedangkan untuk koridor barat-timur, hingga kini belum bisa ditentukan akan melewati wilayah mana. Sebab, saat ini, pembangunan koridor ini masih dalam tahap pra studi kelayakan yang dilakukan JICA. Rencananya, koridor ini akan beroperasi selambat-lambatnya pada 2024 atau 2027.

Dikatakannya, pembangunan MRT koridor timur-barat akan mengikutsertakan sebelah barat Balaraja (Tangerang) dan sebelah timur Cikarang (Bekasi). Sehingga nantinya, jalur MRT itu akan melalui Balaraja ke Jakarta menuju Cikarang. Sementara terkait pemindahan stadion Lebak Bulus, Fauzi menuturkan, hal itu dilakukan karena nantinya tempat tersebut akan dipergunakan sebagai depo MRT. Selain itu, saat ini stadion tersebut juga tidak mampu menampung kapasitas penonton yang cukup besar. “Saat ini Pemprov DKI juga sedang mencarikan lokasi pengganti stadion tersebut yang lebih luas. Jika lokasinya sudah ada, stadion baru akan dibangun dengan kondisi yang lebih baik, dan dengan desain yang lebih bagus,” kata Fauzi Bowo.

Terkait monorel, Fauzi Bowo, menambahkan pembangunannya membutuhkan anggaran Rp 4-4,5 triliun. Anggaran itu terbagi untuk biaya pengadaan komponen infrastruktur sebesar Rp 2,52 triliun atau 57 persen dari total kebutuhan anggaran serta komponen rolling stock sebesar Rp 1,9 triliun. Pendanaan akan ditanggung pemerintah pusat dan Pemprov DKI masing-masing 50 persen. (beritajakarta)