Pasar Hunian Tapak Masih Menjanjikan

0
Ilustrasi Rumah Tapak

KONSPRO, JAKARTA – Covid-19 yang masih melanda Indonesia memang berdampak langsung ke berbagai sektor ekonomi, termasuk juga pada sektor properti yang terus alami penurunan. Namun demikian, bukan berarti pasar hunian juga tidak bergerak. Justru hunian saat ini masih tetap bergerak positif, terutama untuk hunian tapak.

“Memang Covid-19 berdampak pada market properti, tetapi untuk hunian tapak masih tetap bagus, dan riil masih banyak peminatnya, karena memang rumah tapak ini masih menjadi keinginan masyarakat dibandingkan apartemen,” ungkap Managing Partner Coldwell Banker Commercial (CBC) Tommy H Bastamy, kepada Investor Daily, Selasa (23/6/2020).

Baca juga : Anak Usaha Waskita Karya Tawarkan KPR Online Lewat BTN dan BNI

Tommy mengatakan, pada kuartal II ini, terlihat bahwa kebutuhan hunian tapak  di sekitar Jabodetabek masih cukup tinggi, terutama pasangan mudah yang memang mencari rumah pertama dan dengan harga yang terjangkau.

“Memang harga tanah di Jakarta sudah mahal, makanya kebanyakan masyarakat memilih hunian di sekitar Jabodetabek,” katanya.

Hasil evaluasi menyatakan market untuk hunian, pada kuartal I dan II untuk hunian tapak masih tetap stabil, dibanding pasar apartemen yang kinerjanya masih cukup berat, karena harga juga mulai tinggi, dan mayoritas membeli apartemen untuk investasi, sehingga apartemen ini alami penurunan tajam.

“Sebenarnya untuk apartemen ini sebelum Covid-19 juga terus alami penurunan dan pada saat Covid-19, masyarakat lebih menahan diri untuk membeli properti,” katanya.

Selain itu, para pengembang masih menahan diri untuk meluncurkan produk terbarunya, terutama apartemen. Selain pasar masih berat, juga investasi membangun apartemen membutuhkan investasi besar. Sedangkan hunian tapak, bisa membangun hunian secara bertahap.

“Enaknya kalau bangun rumah tapak, bisa dikerjakan dan dijual bertahap. Berbeda dengan apartemen, meski pembelinya masih sedikit harus tetapi dibangun semuanya,” ujarnya.

Menurutnya, harga rumah tapak yang saat ini masih dicari adalah antara harga di bawah Rp 1 miliar. Karena rata-rata pembelinya adalah end user dan rumah pertama untuk ditinggali. Dibanding memilih hunian vertikal, lebih kepada investasi.

“Pasar kelas menengah atas, bukan berarti mati tidak ada peminatnya, tetap ada tetapi skalanya sangat kecil dibandingkan dengan hunian tapak,” katanya.

Aksesibilitas

Saat ini, konsumen memilih hunian, bukan bicara masalah lokasi lagi, tetapi lebih memilih kepada aksesibiltas infrastruktur seperti transportasi masal, LRT, KRL, MRT dan transportasi masal lainnya.

“Konsumen lebih memilih rumah yang agak jauh, tetapi dekat dengan transportasi,” katanya.

Bahkan, banyak investor yang datang, mencari pengembangan hunian ke pusat pusat transportasi masal, karena kebutuhan akan hunian ini masih cukup besar, meski dalam kondisi pandemi  Covid-19.

“Investor ataupun pengembang saat ini fokus proyeknya adalah di kawasan atau sekitar transportasi masal,” katanya.

Sedangkan wilayah yang potensial masih bisa dikembangkan lebih besar lagi untuk sektor hunian adalah kawasan barat dan timur Jakarta. Karena kedua kawasan ini, masih memiliki lahan cukup memadai dibandingkan selatan, karena daerah resapan.

“Seperti Tangerang ke Barat dan Timur Jakarta, masih menjadi tempat yang menjanjikan investasi hunian, karena akses dan infrastruktur ke Jakarta juga sudah lengkap,” katanya.

Saat ini, pengembang, untuk menggaet konsumen rata-rata memberikan diskon besar besaran kepada para pembeli, agar proyeknya bisa terjual. “Sekarang peluang untuk membeli rumah tapak, karena banyak gimik yang diberikan pengembang,” ujarnya.

Chief Executive Officer 99 Indonesia Cong Ming Hwee mengatakan, semenjak merebaknya wabah Covid-19, pasar properti adalah salah satu sektor yang mendapatkan dampak terburuk. Sejumlah pihak terkait mulai dari pengembang, agen, hingga pihak ketiga pun turut merasakan guncangan krisis akibat hantaman pandemi ini.

Namun, memasuki periode akhir kuartal II tahun 2020, tren di sektor properti justru mengalami perkembangan positif yang cukup signifikan. Berdasarkan riset pasar selama masa pandemi ini, tim analis 99 Group mencatat bahwa sektor properti tetap bisa diandalkan.

Hal ini dibuktikan oleh peningkatan tren positif dan permintaan pasar terhadap properti terutama dalam beberapa pekan terakhir. Hasil survei ini juga bisa dijadikan patokan dalam mengambil keputusan terkait investasi properti baik di bidang rumah tinggal, investasi apartemen, ataupun bidang lainnya.

Tim analis 99 Group kemudian membandingkan hasil pencarian kata kunci tersebut untuk tahun 2018, 2019, serta 2020. Seperti terlihat pada grafik, secara sekilas tren pencarian kata kunci “rumah dijual” sepanjang tahun 2018 dan 2019 menunjukkan hasil yang cukup mirip.

Sementara itu, tim analis 99 Group melihat bahwa hingga bulan Mei tahun 2020, tren pencarian kata kunci “rumah dijual” menunjukkan hasil dengan perbedaan yang cukup signifikan.  Dimana pada awal tahun 2020, terlihat tren pencarian “rumah dijual” mengalami kenaikan yang cukup baik. Hingga akhirnya, sekitar bulan Januari akhir atau tepat dengan pengumuman kasus pertama positif Covid-19 di Indonesia, tren ini terus mengalami penurunan.

“Setelah sektor properti babak belur sekitar periode bulan Maret dan April, tak disangka sejak akhir April tren terus mengalami peningkatan yang signifikan. Bahkan, berdasarkan perbandingan Year-on-Year, hasil pencarian di bulan Mei 2020 48% lebih tinggi dibandingkan periode yang sama di tahun 2019,” kata Cong Ming Hwee.

Investor.id