Menpera Minta Bahan Baku Lokal Untuk Rumah Murah

0
Foto: Humas Kemenpera

KonsPro (11/02) JAKARTA – UPAYA  Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) menyediakan pembiayaan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) menunai dukungan. Harga rumah tahun ini merangkak sebesar 10 persen pasca kenaikan bahan baku bangunan. Kenaikan itu berlaku untuk semua tipe rumah.

Sekalipun begitu, kenaikan harga rumah tidak membuat Kemenpera gundah. Kemenpera tetap menyediakan pembiayaan rumah murah bagi MBR lewat fasiliditas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP).

Kemenpera akan menyiapkan hunian murah seharga Rp 9 juta untuk tipe 36 dan Rp 5 juta untuk tipe 21 di kawasan perbatasan. Rumah murah itu disiapkan untuk memenuhi permintaan masyarakat di daerah.

Selain pembangunan rumah murah, Kemenpera juga akan mengembangkan produk bahan materil lokal yang ada di daerah perbatasan. Seperti tanah liat, pasir, genteng dan bata merah.

“Kemenpera akan mendorong penggunaan bahan baku lokal untuk pembangunan rumah mu­rah bagi MBR. Tahun ini, supply side mau diselesaikan. Kita akan ber­usaha memenuhi  demand side,” ujar Menpera Suharso Mo­noarfa seusai pembukaan BTN Ex­po 2011, di Jakarta, baru-baru ini.

Dalam pembangunan rumah murah ini, Presiden Susilo Bam­bang Yudhoyono setelah kembali dari lawatannya dari India pernah menanyakan kepada Menpera, apakah ada rumah harganya cu­kup murah, sekitar 300 dolar AS di Indonesia?

“Kita bilang nggak ada,” ujar­nya. Untuk itu, Menpera ter­tan­tang membuat rumah murah de­ngan menekan biaya pem­ba­ngunan rumah, dan sekaligus mendorong penggunaan bahan baku lokal.

Selain tertantang dengan pe­me­rintah India, ia menyatakan di­rinya juga pernah didatangi pe­ngembang yang menyatakan bisa membangun rumah seharga Rp 9 juta untuk tipe 36 dan Rp 5 juta untuk tipe 21.

Pria asal Gorontalo ini menye­butkan harga generik dari rumah tipe 36 adalah Rp 30 juta dengan luas tanah 60 meter persegi.

“Beberapa waktu lalu, ada pengembang datang kepada saya juga menawarkan harga rumah Rp 9 juta untuk tipe 36  di luar harga tanah. Cuma bangunan fisik saja, nggak termasuk listrik dan air,” ujarnya.

Rencananya, lanjut Menpera, tipe 21 seharga Rp 5 juta akan dibangun di daerah perbatasan se­perti Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk para pengungsi Timor Timur yang memilih men­jadi WNI. Pasalnya, ada  22 ribu ke­pala keluarga di sana yang belum memiliki tempat tinggal layak.

“Pihaknya akan mencoba men­de­monstrasikan pembangunan rumah murah tersebut di hadapan Pre­siden saat berkantor di Ku­pang pada tanggal 8-10 ini,” ujarnya.

Menpera yakin rumah murah tersebut dapat terealisir meng­gunakan material lokal dan ran­cangan rumah murah tersebut sudah teruji oleh Institut Tek­nologi Bandung (ITB) sehingga mutu tetap terjaga.

Menpera juga akan mem­beri­kan insentif fiskal dalam pem­bangunan rumah murah ini. “Fiskal akan dibebaskan buat me­reka termasuk pajak inovasinya, kita kurangi dan di situ sudah ada aturannya untuk men-swap, biaya inovasi,” tandasnya.

Menpera juga berharap pe­ngem­bang ikut membantu pem­ba­ngunan rumah murah ini, ter­masuk Perum Perumnas. Le­wat program rumah murah ini bisa menekan angka backlog (ke­kurangan) perumahan yang saat ini mencapai 8 juta unit. (Fajar)