Menpera: Kemampuan Mencicil Dilihat Dari Penghasilan dan Rasio Hutang

0
Dok.Humas Kemenpera

KonsPro (14/3) JAKARTA – PROGRAM pembiayaan perumahan untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang dilakukan oleh Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) perlu dipahami lebih mendalam. Dikarenakan kemampuan mencicil rumah lewat FLPP tidak hanya dilihat dari penghasilan saja.

“Kemampuan mencicil tidak hanya dilihat dari komponen penghasilan saja akan tetapi juga dilihat dari rasio hutang yang dimiliki debitur”, ujar Menteri Perumahan Rakyat (Menpera) Djan Faridz dalam keterangan pers di Mercure Convention Centre Ancol Hotel, Jakarta, Rabu (14/3).

Perincian untuk penghasilan dan rasio hutang dapat dibagi menjadi dua komponen. Pertama, 40 persen dari penghasilan digunakan untuk kebutuhan mencicil dan selebihnya 60 persen digunakan untuk biaya hidup.

“Apabila penghasilan maksimal orang itu 3,5 juta maka bank akan menghitung 40 persennya, sekitar Rp. 1,4 juta dapat digunakan untuk mencicil kebutuhan”, tutur Djan Faridz.

Selanjutnya menpera menjelaskan bahwa dari Rp,1,4 Juta yang dimiliki seseorang untuk mencicil apabila rasio hutangnya cukup untuk mencicill rumah lewat FLPP maka bank dapat mengabulkan permohonannya. Akan tetapi apabila dari Rp. 1, 4 juta ini calon debitur memiliki cicilan seperti kendaraan Rp. 1 juta maka terdapat selisih Rp 400 ribu dan apabila dia ingin mengajukan KPR FLPP maka selisih itu tidak cukup. (Ristyan)