Masuk Tahun 2014, Pasar Properti Melambat

0

KonsPro (12/12), JAKARTA – MEMASUKI tahun 2014 secara keseluruhan pasar properti akan melambat. Pasar segmen menengah atas dihadapkan dengan harga yang sudah terlalu tinggi sehingga banyak pengembang yang merasa terlalu tinggi untuk menjual produknya. Sedangkan di sisi permintaan telah mengalami kejenuhan.

Demikian dikatakan Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda, kepada SP di Jakarta, Senin (9/12).

Menurut Ali, hal seperti di atas membuat aksi spekulasi semakin menurun. Para pengembang pun mulai melakukan “resizing” dengan memasuki pasar perumahan di segmen lebih rendah. Harga rumah Rp 500 juta – Rp 1 miliar akan menjadi primadona di tahun 2014.

Di segmen menengah, kata dia, permintaan menjadi sedikit tertunda dengan naiknya suku bunga KPR, menyusul naiknya BI Rate di level 7,5% yang menyebabkan bank-bank mematok suku bunga KPR diatas 10,5%.

Dengan naiknya suku bunga tersebut, diperkirakan permintaan akan anjlok sebesar 20%-25% di tahun 2014.

Meskipun demikian, kata dia, pasar permintaan di segmen ini masih cukup tinggi. Banyak kaum menengah yang belum sempat merealisasikan pembelian propertinya sebagai end user karena harga properti semakin tinggi.

Daya beli yang “tanggung” membuat dilema bagi kaum menengah, mengingat mereka belum mampu membeli rumah di perkotaan. Alternatif yang dicari adalah hunian vertikal karena mulai disadari bahwa siap tidak siap bagi kaum urban, hunian vertikal menjadi salah satu alternatif hunian.

Namun demikian pasokan apartemen menengah di harga Rp 200 juta – 300 juta pun sangat terbatas di kota-kota besar.

Ketika mereka mempunyai daya beli sebesar itu, mereka pun tidak dapat membeli rumah di Bodetabek. Patokan harga Bodetabek pun terus merangkak naik.

Pasokan rumah semakin menjauh dari Jakarta. “Kalaupun ada lokasi rumah yang dimaksud akan sangat jauh untuk kaum komuter yang bekerja di Jakarta,” kata dia.

Menurut Ali, hal ini yang kemudian menjadi pertimbangan banyak pengembang untuk membangun apartemen-apartemen murah di simpul-simpul penyangga Jakarta. Dengan harga rumah yang sangat tinggi, membuat celah pasar apartemen menengah akan semakin besar.

Dikatakan, di segmen menengah bawah relatif permintaan masih cukup besar. Dengan kenaikan batasan harga dari pemerintah diperkirakan para pengembang menengah bawah akan terbantu dalam penjualannya karena pasar permintaan rumah menengah bawah dengan program subsidi FLPP masih sangat banyak.

Namun demikian tetap kendala harga tanah yang terus meningkat menjadikan kebijakan kenaikan harga rumah subsidi tidak berpengaruh dalam jangka panjang.

“Pemerintah belum dapat mengendalikan harga tanah secara nasional,” tegas Ali.

Menurut Ali, para pengembang akan berlomba untuk memenangkan persaingan di pasar sempit di tengah perlambatan siklus properti dan ekonomi yang sedang berlanjut.

Biar bagaimana pun permintaan pasar masih tetap ada meskipun terjadi perlambatan. “Dan perlambatan tidak berarti harga properti akan jatuh. Hanya terjadi penundaan permintaan dari pasar,” kata dia. (Beritasatu)