Manajemen Kawasan Industri di Sumut “Rem” Pemasaran

0
Foto: waspada.co.id

KonsPro (25/02) MEDAN – PERUSAHAAN  Kawasan Industri Medan Star terpaksa “merem” pemasaran/penyewaan lahan dan bangunannya menyusul kasus kekurangan energi listrik yang menyebabkan investor industri pabrik roti asal Jepang akan menggugat manajemen kawasan itu.

“Sampai dengan akhir pekan ini, industri roti yang sudah berdiri di KIM (Kawasan Industri Medan) Star, belum juga mendapat jaminan pasokan listrik yang dibutuhkan sebanyak 580 KVA,” kata Direktur Umum PT.KIM Star, Satria Ginting, di Medan, Kamis.

Hasil pertemuan antara PT.PLN, KIM Star dan manajemen pabrik roti itu, hanya menghasilkan keputusan bahwa PLN hanya bisa memasok 35 KVA saja.

Akibatnya, kata dia, selain terancam digugat investor asal jepang itu, manajemen juga mengambil sikap hati-hati memasarkan lahan dan bangunan di kawasan itu kepada calon investor.

Kehati-hatian itu dilakukan untuk menekan terjadinya lagi ancaman gugatan dari investor lain dan kesan jelek atas manajemen KIM Star itu. “Langkah itu sudah pasti merugikan perusahaan, tapi apa boleh buat, ketimbang menjadi masalah di kemudian hari,” katanya.

Kalaupun menawarkan investasi, kata Satria, manajemen tidak lagi berani menawarkan ke industri besar yang memerlukan energi banyak, termasuk memberikan jaminan pasokan lsitrik ke pengusaha calon investor.

Menurut dia, kondisi itu bukan saja merugikan perusahaan kawasan industri, tetapi juga pemerintah. “Kesulitan energi akan membuat investor enggan berinvestasi ke Sumut dan itu akan berdampak pada berkurangnya pendapatan pajak ke pemerintah dan tidak adanya tambahan daya serap tenaga kerja baru,” katanya.

Sekretaris Umum DPD Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sumut, Laksamana Adiyaksa, mengatakan, persoalan investor di KIM Star itu harus segera diselesaikan secara baik-baik agar tidak semakin merusak citra iklim investasi di Sumut.

Menurut dia, masalah di KIM Star itu sendiri menunjukkan jeleknya infrastruktur di Sumut. “Transparansi kondisi perlistrikan di Sumut sudah semakin mendesak agar calon investor dan pengusaha dari awal sudah mengetahui kemampuan pasokan energi,”katanya.

Transparansi juga harus diikuti dengan upaya peningkatan pasokan energi untuk membuat iklim investasi di Sumut menarik,” katanya.

Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Sumut, Irfan Mutyara, menyebutkan, investor memang memerlukan kepastian sebelum melakukan investasi dan itu pula (kepastian) yang tidak dapat di Sumut.

“Jadi tidak heran kalau investasi di Sumut terlihat berjalan di tempat, apalagi selain tidak ada kepastian tentang infrastruktur, kepastian hukum juga sangat kurang dan termasuk birokrasi izin yang juga masih berbelit,” kata Irfan. (Ant.)