Lagi-Lagi Krismon Jadi Alasan Telat Serah Terima Apartemen

0
Foto: plmdirect.co.uk

KonsPro (28/10) – KRISIS Moneter tahun 1998 yang terjadi 12 tahun silam, menjadi “kambing hitam” sejumlah apartemen terlambat serah terima. Alasan ini bukan hanya monopoli pengembang menengah bawah, pengembang besar pun “menuduh” kirismon yang menyebabkan pembangunan apartemennya jadi terlambat.
Konsekwensi dari keterlambatan pembangunan tersebut, mengakibatkan pembeli apartemen merugi, karena serah terima yang dijanjikan dipastikan akan mundur dari jadwal semula. Para pembeli apartemen pun harus merombak total rencana menempati hunian impiannya. Beberapa konsumen yang tidak terima dan tidak mau terlilit masalah berkepanjangan meminta uangnya dikembalikan.

Salah satu pengembang kakap yang proyek apartemennya sudah pasti telat pembangunannya adalah PT Bakrie Swasakti Utama yang merupakan anak perusahaan Bakrie Group, yaitu apartemen The Wave dan The Grove. Kedua apartemen itu mulai dibangun tahun 2007 tersebut seharusnya kelar awal tahun 2011, namun perkirakan penyelesaian proyek ini akan molor setahun menjadi awal 2012.

Menurut Ansen Wahyudi Syam, Manajer Penjualan Bakrie Swasakti seperti dikutip kompas.com, akibat keterlambatan itu, ada sekitar 5 persen dari pembeli kedua apartemen ini meminta pengembalian uang. “Pengerjaan pada tahun 2009 berjalan lamban karena terimbas krisis,” tuturnya.

The Wave memiliki dua menara. Satu tower setinggi 40 lantai berisi 335 unit, dan tower yang lain setinggi 41 lantai berisi 341 unit. Harga apartemen seluas 40 meter persegi (m2)-60 m2 ini berkisar antara Rp 600 juta-Rp 1 miliar per unit. The Grove memiliki tiga menara yang terdiri dari 39 lantai 237 unit, 45 lantai 200 unit, dan kondotel 15 lantai 151 unit. Sekitar 60 persen dari unit-unit tersebut telah terjual.

Tak mau merugi akibat pembatalan pemesanan, Bakrie Swasakti mengutip kompensasi 3 persen dari harga jual dan tidak mengembalikan uang muka dan biaya administrasi sebesar 7,5 persen dari harga. Alasannya, Bakrie Swasakti harus menanggung kenaikan harga jual yang mencapai 50 persen – 60 persen.

Untuk memperkuat argumennya itu, Ansen menyatakan, tahun 2007, harga jual The Wave Rp 8 juta-Rp 9 juta per m2, sekarang Rp 13 juta-Rp 15 juta per m2. Harga The Grove kini Rp 21,9 juta per m2 dari sebelumnya Rp 15 juta per m2 tahun 2007.

Namun Ansen mungkin “lupa” merinci berapa kerugian materiil dan immateriil yang dialami konsumennya. Lagi pula kenaikan harga jual jelas tidak hanya dinikmati oleh konsumen, tapi dari unit-unit yang belum terjual, pengembang lebih banyak menangguk untung.

Apartemen lain, yang  juga menidung krismon sebagai penyebab terlambatnya pembangunan apartemen adalah apartemen CBD Serpong. Manager Penjualan PT Mitra Abadi Sukses, Grup Garupa Prima Jumpama Pemilu Limbong, pengembang apartemen tersebut mengatakan kepada kompas.com, bahwa konsumen yang minta uangnya dikembalikan hanya sekitar 1 persen.

Apartemen yang menyasar segmen menengah atas tersebut terdiri dari lima menara , masing-masing setinggi 25 lantai. Tiap menara berisi 500 unit apartemen.

Jumpama menambahkan, penjualan apartemen CBD Serpong ini juga lambat. “Proyek ini bisa dibilang salah konsep,” katanya. Konsumen juga kecewa akibat rencana pembangunan tol ke Bandara Soekarno-Hatta di dekat apartemen ini belum juga kelar.

Begitulah nasib konsumen properti Indonesia, lanjutkan pembayaran dengan konsekwensi telat serah terima, atau mundur dengan berbagai macam potongan. Sementara, meski merugi pengembang  bisa meminimalisasi kerugian, bahkan mungkin mendapatkan keuntungan, dari “berkah” krismon. (Erlan Kallo, erlan@konsumenproperti.com)