Koridor Timur Jakarta Perlu Banyak Hunian Menengah Bawah

0
Dok. Jawa Pos.com - Ilustrasi Hunian Menengah Bawah

KONSPRO, JAKARTA — Pengembang diharapkan bisa lebih fokus untuk menyediakan hunian bagi segmen pasar menengah bawah di koridor timur Jakarta.

Direktur Eksekutif Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan bahwa selama ini para pengembang cenderung fokus untuk menyediakan hunian bagi segmen pasar menengah atas di koridor timur Jakarta. Padahal, potensi pasar terbesar saat ini justru berasal dari segmen menengah bawah.

Ali mengungkapkan bahwa pertimbangan para pengembang lebih memilih menyediakan hunian untuk segmen menengah atas ialah karena ingin menyasar ekspatriat yang bekerja di kawasan industri yang terletak di koridor timur Jakarta.

Baca juga : Perumnas Incar Pasar Generasi Muda untuk Proyek Apartemennya

Faktor lain yang menyebabkan para pengembang lebih fokus untuk memasarkan hunian untuk segmen menengah atas ialah karena dengan harga jual yang tinggi, maka potensi keuntungan yang didapatkan juga bisa lebih besar.

Hal tersebut akhirnya menimbulkan mismatch karena pasokan hunian untuk segmen menengah atas cenderung berlebih, sedangkan pasokan hunian untuk segmen menengah bawah masih terbatas.

“Tadinya memang hunian untuk segmen menengah atas dengan kisaran di atas Rp2 miliar cukup laku dibeli investor, tetapi saat ini investor mulai tiarap. Bahkan, kontribusinya ke depannya diperkirakan akan semakin turun,” ujar Ali di sela-sela paparan hasil survei Jakarta Eastern Corridor & Market Highlight 2020 di Jakarta, Senin (13/1/2020).

Dia menyatakan bahwa meski melekat dengan citra gersang dan polusi, permintaan terhadap hunian di koridor timur Jakarta yang mencakup wilayah Bekasi, Cikarang, Karawang, dan Purwakarta sebenarnya masih cukup tinggi.

Menurutnya, produk hunian yang paling banyak dicari ialah rumah tapak dengan kisaran harga di bawah Rp1 miliar. Oleh sebab itu, jika pengembang menyediakan lebih banyak hunian dengan kriteria tersebut, penyerapannya diyakini akan cukup tinggi.

“Potensi penyerapannya cukup besar, tetapi saat ini belum terlihat karena memang pasokannya terbatas sekali. Jangan sampai semua pengembang berlomba-lomba menggarap pasar menengah atas, tetapi pasar yang gemuk ini yaitu segmen end user ditinggalkan,” ungkapnya.

Bisnis.com