Penjual Tidak Mau Beri Surat Keterangan Cerai

KonsPro (28/10) - ANDA  punya masalah hukum di bidang properti? Kirimkan pertanyaan Anda di email Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya . Sertakan alamat, dan indentitas yang jelas, kami akan segera menjawab pertanyaan Anda.

Pertanyaan:

Pak Erwin, saya sedang menghadapi masalah  pensertipikatan tanah. Beberapa waktu lalu, saya dan kakak saya membeli sebidang tanah, tapi waktu itu tidak menggunakan jasa notaris (penjualan di bawah tangan). Kami bertransaksi langsung dengan pemilik tanah, tanpa melakukan balik nama. Untuk keasliannya, kami benar-benar yakin bahwa sertipikat tersebut adalah asli.

Masalahnya sekarang, saat kami mau balik nama dan pemecahan sertipikat, karena membeli berdua dengan kakak saya, pihak notaris yang kami datangi mengatakan untuk balik nama dan pemecahan harus ada surat cerai dari Penjual, karena  Si Penjual ketahui sudah bercerai.

Kami lantas ke rumah Si Penjual untuk meminta Surat Keterangan Cerai yang dimaksud notaris. Namun kami tak menduga, Si Penjual tidak mau memberi surat yang kami minta, dengan alasan yang tak jelas.

Pak Erwin, bagaimana solusi terhadap masalah yang kami hadapi? Cara memecah sertifikat menjadi dua?

Hadis, Jakarta

Jawaban:

Pak Hadits, saya kurang jelas yang Anda beli itu apakah tanah Hak Milik dan tanah Hak Garap? Karena masing-masing hak itu punya implikasi tersendiri. Jadi Anda perlu melihat tulisan yang berada di belakang sertipikat. Di situ ada PP (Peraturan Pemerintah) Nomor 10 tahun 1961,   Tentang Pendaftaran Tanah, yang kemudian diperbaharui dengan PP 24 Tahun 1997, yang dalam Pasal 37, ayat 1  berbunyi:

“Peralihan hak atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun melalui jual beli, tukar menukar, hibah, pemasukan dalam perusahaan dan perbuatan hukum pemindahan hak lainnya, kecuali pemindahan hak melalui lelang, hanya dapat didaftarkan, jika dibuktikan dengan akta yang dibuat oleh PPAT yang berwenang menurut ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku”.

Sebenarnya masalah yang dihadapi oleh Pak Hadits tidak perlu terjadi, bila sejak awal transaksi itu dilakukan di hadapan PPAT/notaris, karena sebelum transaksi dilakukan yang pertama dicek adalah  kelengkapan-kelengkapan dokumen.

Dengan sangat menyesal, saya harus katakana, bahwa transaksi tanah di bawah tangan yang Anda lakukan itu tidak sah! Tapi kalau itu tanah negara yang dijualbelikan adalah Hak Garap bukan tanahnya, sehingga itu boleh tidak lewat PPAT. Untuk tanah negara yang diperjualbelikan adalah pengoporan hak rumah dan Hak Garapnya.

Jadi memang, kalau melakukan transaksi tanah sebaiknya di depan notaris atau pejabat yang berwenang. Karena di situ bisa disortir kalau sejak awal dokumennya tidak lengkap. Memang ada sedikit biaya yang harus dikeluarkan. Kadang-kadang kita ingin mengirit, tapi akibatnya bila ada masalah di kemudian hari, biaya yang kita keluarkan bisa jauh lebih besar.

Mengenai masalah Si Penjual tidak mau memberikan Surat Keterangan   Cerai atau Akta Cerai, saya kira “wajar” kalau ujung-ujung dia minta uang untuk “jasa” itu. Lantas apa yang bisa Anda lakukan sekarang? Mintalah secara baik-baik atau musyawarah. Kalau dia tetap berkeras tidak mau memberikan, Anda bisa melaporkan pihak berwajib dengan tuduhan penipuan.

Kenapa penipuan? Karena kewabijan-kewajiban penjual adalah memberikan segala dokumen-dokumen yang diperlukan sebagai syarat sah dari sebuah transaksi. Kalau dia berkeras, berikan dia somasi (teguran atau peringatan), kalau itupun tidak ditanggapi laporkan ke polisi, penipuan kasus perdata.

 

Add comment


Security code
Refresh

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Advertorial

Topik :
Real Estate
Promosikan Iklan anda dengang text Ads di konsumenproperti.com.

Perumahan Indah
Perumahan Indah dengan taman yang mempesona

Ads by KonsumenProperti

Home | Liputan Khusus | Konsultasi | Komplain | Residensial | Komersial | Bisnis terkait | Infrastruktur
Pembiayaan | Figur | Sengketa | Kolom | Tips | Redaksi | Regulasi | Editorial | Iklan Kolom| Umum | Advertorial