Keluhan Konsumen Properti: Bagaimana Developer "Menipu" Konsumen?

KonsPro (14/08/2016) - Tahukah Anda, sektor properti merupakan salah satu sektor yang paling banyak pengaduan dari konsumen. Data dari YLKI mengungkapkan, hingga saat ini sektor properti menduduki peringkat pertama untuk pengaduan konsumen. Mengapa?

Wan prestasi! Ya kesalahannya apa yang disebut dengan wanprestasi pihak developer: spesifikasi yang tidak sesuai, sertifikasi yang bermasalah, atau fasilitas umum yang tidak dibangun.

Dan, tidak hanya konsumen perumahan sederhana, melainkan juga konsumen perumahan mewah banyak mengeluhkan hal tersebut.

Apa saja hal-hal yang sering dikeluhkan Konsumen Properti? Yang paling sering terjadi? Ada baiknya Anda mengetahuinya, yakni:

  1. Ukuran Luas Tanah Tidak Sesuai Perjanjian. Masalah ini masuk ke dalam daftar YLKI sebagai bentuk keluhan konsumen properti yang cukup tinggi. Menurut Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, perbedaan ukuran tanah ini terjadi dalam dua hal, yaitu: Pertama, perbedaan ukuran dari perjanjian (PPJB). Kedua, perbedaan ukuran tanah dalam sertifikat dengan yang real di lapangan. Saya mengalami hal yang pertama. Dan ini terjadi dua kali. Bagaimana hal tersebut menjadi keluhan konsumen? Karena, biasanya pihak developer baru memberitahukan kesalahan pengukuran setelah terjadi akad jual beli dan uang konsumen sudah masuk ke kas mereka. Mereka mengatakan, "Ada kelebihan tanah yang harus dibayar?"
  2. Pengembalian Uang Muka. Masih menurut data YLKI, pengaduan konsumen properti yang paling sering adalah pengembalian uang muka. Sebaiknya sebelum Anda benar-benar memutuskan membeli rumah, pertimbangkan secara matang. Jangan sampai di kemudian hari membatalkannya. Karena Anda akan mengalami kesulitan untuk mendapatkan kembali uang muka yang telah Anda bayarkan. Memang tidak semua pengembang demikian. Namun banyaknya kasus ini perlu menjadi perhatian khusus. Sebagian konsumen bahkan tidak mendapatkan sepeserpun uang muka ketika mereka batal membeli rumah. Padahal itu merupakan uang mereka dan hak mereka.
  3. Kenaikan Harga Secara Sepihak. Ini pula yang paling dikeluhkan konsumen properti. Pihak developer menaikan harga secara sepihak. Lagi-lagi biasanya setelah terjadi akad jual beli dan konsumen sudah membayarkan uang muka. Hal tersebut menjadi dilematis dan mungkin memang sengaja dibuat demikian. Jika konsumen jadi membeli, artinya mereka harus membayar lebih tinggi daripada perjanjian terdahulu. Jika membatalkannya, uang muka yang sudah dibayarkan akan dipotong. Mungkin konsumen hanya mendapatkan 85% atau 70% atau bahkan tidak bisa mengambil kembali uang muka tersebut.
  4. Mutu Bangunan Di Bawah Standar. Point inilah yang tidak dipahami konsumen karena konsumen sendiri tidak mengerti masalah konstruksi maupun material bangunan. Saya sendiri pernah membatalkan niat membeli rumah karena ketika melihat bangunannya ternyata ada rumah yang retak menjadi dua dan ada pula yang dihancurkan karena memang rusak. Padahal rumah-rumah tersebut belum lama dibangun. Lebih parah lagi karena perumahannya berlabel regency. Yang seharusnya kualitas bangunan menjadi perhatian khusus dari pihak developer. Oleh karena itu bila Anda berniat membeli rumah, teliti kualitas bangunannya. Setidaknya berkonsultasilah kepada orang yang mengerti bangunan.
  5. Fasilitas Umum Tidak Dibangun. Dibangunnya fasilitas umum merupakan hak kolektif konsumen properti. Akan tetapi ada developer yang tidak bertanggung jawab, yang pada akhirnya membebankan pembangunan fasos kepada konsumen. Bagaimana cara developer lepas tanggung jawab? Sejauh yang saya ketahui dari beberapa konsumen perumahan, biasanya mereka mengulur-ngulur waktu dalam membangun fasilitas umum. "Akhirnya kami harus mengaspal jalan dengan cara swadaya," kata salah seorang konsumen properti di kota Cirebon. Padahal jalan merupakan fasilitas yang mesti dibangun oleh developer. Alasan yang biasa dikemukakan pihak developer adalah ... "Nanti menunggu kalau penghuninya sudah mencapai sekian."
  6. Keterlambatan Serah Terima Rumah. Beberapa waktu lalu, masalah keterlambatan serah terima rumah merupakan wanprestasi developer yang banyak diadukan oleh konsumen. Masalah ini tidak hanya terjadi di perumahan kelas bawah. Namun merata di seluruh kelas, termasuk yang elit sekalipun.
  7. Sertifikasi. Masalah ini sangat riskan, tetapi seringkali terjadi. Pihak konsumen yang bahkan sudah melunasi pembayaran, tidak kunjung mendapatkan sertifikat. Padahal sertifikat merupakan kekuatan hukum yang menyatakan bahwa pemilik sah atas properti. Percuma saja Anda memiliki rumah apabila tidak memiliki sertifikat atasnya.
  8. Pemindahan Lokasi Secara Sepihak. Ya, hati-hati dengan hal ini. Dapat disebut sebagai pemindahan lokasi (kavling) secara sepihak terjadi dalam dua kondisi berikut ini: Pertama, memindahkan kavling/lokasi dalam arti sebenarnya. Kedua, .engubah denah. Mengubah denah merujuk pada perubahan site plan. Sebagai contoh konsumen membeli rumah di lokasi hook, akan tetapi developer membangun rumah di samping rumah tersebut. Sehingga lokasinya tidak dapat disebut berada di hook.
  9. Penjualan Rumah Fiktif. Pada tahun 2007, penjualan rumah fiktif menduduki peringkat ketiga dalam daftar pengaduan konsumen properti.  Penjualan rumah fiktif merupakan cara "kotor" untuk memberi kesan bahwa perumahan tersebut sudah diminati banyak pembeli. Sehingga konsumen tertarik membeli dengan asumsi perumahan tersebut sudah banyak penghuninya. Di kemudian hari mereka menyadari bahwa informasi penjualan tersebut merupakan cara developer agar Anda - konsumen - membeli.
  10. Materi Pengikatan Perjanjian Jual Beli (PPJB) Berat Sebelah. Faktanya Pembeli sama sekali tidak dilibatkan dalam pembuatan PPJB. Seluruh materi sebenarnya hanya menguntungkan pihak pengembang. Jika Anda berniat membeli rumah, Anda bisa membubuhkan point yang Anda inginkan. Sebaiknya diawali dengan kata jika. Misalnya, Jika kualitas bangunan berbeda dari brosur, maka ..... (cantumkan apa yang Anda inginkan). Karena biasanya ketika developer dituntut oleh konsumen dalam suatu hal, mereka berkilah bahwa hal tersebut tidak masuk dalam perjanjian.
  11. Penjualan Rumah Kepada Pihak Ketiga. Nah, ini pula yang memilukan. Pihak pengembang secara sepihak menjual rumah kepada pihak ketiga. Sebelumnya saya tidak pernah membayangkan adanya kasus seperti ini.  Akan tetapi ternyata ada pula konsumen properti yang mengalaminya. Setelah dicek di YLKI, rupanya penjualan rumah kepada pihak ketiga juga masuk daftar pengaduan konsumen.
  12. Pembatalan Transaksi Secara Sepihak. Hal ini juga terjadi. Salah seorang teman pernah mengeluhkannya. Dimana pihak developer secara sepihak membatalkan transaksi. Salah satu alasan mereka adalah seperti pada poin #3, yaitu adanya kenaikan harga. Namun apapun alasannya hal tersebut merupakan wanprestasi developer serta merugikan konsumen.

Itulah 12 masalah tertinggi sesuai klasifikasi YLKI. Secara garis besar terbagi menjadi dua:

  1. Pengaduan hak-hak individu konsumen: mutu bangunan di bawah standar, ukuran tanah yang tidak sesuai, pelanggaran PPJB, perubahan perjanjian secara sepihak, dan sebagainya.
  2. Pengaduan hak-hak kolektif: sertifikat tidak terbit, tidak dibangunnya fasilitas umum, kebenaran klaim informasi dalam brosur, masalah banjir, dan longsor.

Lalu ke mana melayangkan pengaduan jika Anda ingin komplain Masalah Properti?

Anda bisa melayangkannya ke Surat pembaca di koran lokal atau nasional, Dinas pemukiman dan pengembangan prasarana, Lembaga Perlindungan Konsumen Swadaya Masyarakat (LPKSM) lembaga ini ada di setiap Kabupaten, Pengurus Real Estate Indonesia (REI), atau Anda bisa menuliskannya di internet ( Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya ) . Dan menyebarkannya seandainya pihak developer tidak beritikad baik dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

Teman-teman saya yang ahli SEO (Search Engine Optimalization) biasanya menjadikan pihak developer "terkenal" melalui internet. Sehingga reputasi pihak pengembang diketahui oleh khalayak banyak, baik reputasi individunya maupun perusahaan.

Beberapa perusahaan properti (developer) sudah merasakan imbas dari tulisan-tulisan yang dimuat di sosial media. Mungkin secara psikologis, sosial media seperti facebook memiliki dampak kuat.(Sumber: microlla.blogspot.co.id, Penulis Gina Hayana)

Add comment


Security code
Refresh

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Advertorial

Topik :
Real Estate
Promosikan Iklan anda dengang text Ads di konsumenproperti.com.

Perumahan Indah
Perumahan Indah dengan taman yang mempesona

Ads by KonsumenProperti

Home | Liputan Khusus | Konsultasi | Komplain | Residensial | Komersial | Bisnis terkait | Infrastruktur
Pembiayaan | Figur | Sengketa | Kolom | Tips | Redaksi | Regulasi | Editorial | Iklan Kolom| Umum | Advertorial