General Evacuation: Hanya Sedikit Penghuni yang Peduli

KonsPro (7/10/2015) - PADA gedung bertingkat tinggi jenis hunian, khususnya apartemen yang menampung banyak orang, berisiko tinggi jatuhnya korban (luka-luka maupun jiwa) apabila terjadi musibah kebakaran. Karena itulah, simulasi atau latihan general evacuation sangat penting dilakukan secara rutin.

Ketika menghadapi suatu musibah yang datang tiba-tiba, umumnya orang panik dan bingung harus berbuat apa? Dalam kepanikan dan kebingungan itulah, seseorang sering melakukan kesalahan yang dapat membahayakan jiwanya, bahkan jiwa orang lain. Sebab dalam kepanikan, atau bah-kan histeria akal sehat kurang berfungsi dengan baik, sehingga tindakan-tindakan nekat tanpa perhitungan (jalan pintas) yang ditempuh. Hal ini juga dapat terjadi  ketika musibah kebakaran tiba-tiba melanda sebuah apartemen.

Sebenarnya hal tersebut dapat diminimalisir apabila para penghuni/tenantnya sigap, respon  dan tahu tindakan apa yang harus dilakukan. Tidak hanya menyelamatkan diri, tetapi mereka juga dapat menyelamatkan peghuni lain, minimal menunjukan jalur evakuasi yang benar.

Supaya paham dan terbiasa dengan keadaan darurat itu, para penghuni/tenant apartemen wajib mengikuti  Simulasi General Evacuation yang secara rutin diselenggarakan oleh badan pengelola. Tidak hanya Indonesia, peraturan semua negara di dunia mewajibkan pengelola gedung, baik hunian maupun non hunian melakukan simulasi atau latihan menghadapi keadaan darurat (general evacuation) bagi para penghuni/tenantnya.

Dengan general evacuation yang baik, maka apabila bencana tersebut sampai terjadi, korban manusia menjadi minimal atau bahkan tidak ada. Selain untuk mengantisipasi bencana dan memberikan keamanan ekstra. Penataan proses evakuasi yang tepat dapat mempersingkat waktu evakuasi penghuni/tenant, kesiapan alat-alat proteksi, pencegahan dan deteksi,  sehingga akan memperkecil risiko timbulnya korban jiwa.

Kurang peduli

Untuk apartemen-apartemen kelolaan Inner City Management (ICM), pelatihan general evacuation dilaksanakan rutin dua kali dalam setahun. Penyelenggaraan general evacuation ini bertujuan tidak sekedar untuk melakukan  kewajiban sebagai badan pengelola seperti yang diamanatkan oleh peraturan. Tetapi lebih jauh, ICM ingin para penghuni/tenant selalu dalam keadaan siap ketika “tamu tak diundang” itu datang.

Namun disayangkan, setiap kali diadakan Simulasi General Evacuation sebagian besar penghuni/tenant kurang, bahkan ada yang tak peduli. Partisipasi penghuni/tenant dalam kegiatan ini masih sangat minim. Rata-rata yang ikut aktifitas general evacuation tidak lebih dari 10 persen.

Ini menandakan betapa masih rendahnya kesadaran penghuni/tenant terhadap aspek keamanan dan keselamatan tinggal di apartemen. Ternyata banyak orang belum siap tinggal di gedung bertingkat tinggi. Ketika ada bunyi alarm kebakaran, seharusnya mereka langsung (spontan) bergerak. Tetapi hanya sedikit yang mau mengikuti, sebab mereka tahu itu hanya sekedar latihan.

Akibatnya, ketika terjadi kebakaran yang sesungguhnya, mereka akan tergopoh-gopoh, panik dan bingung harus berbuat apa? Dan tidak mengetahui jalur evakuasi di gedung tersebut. Yang mengherankan, suatu ketika terjadi musibah kebakaran pada sebuah apartemen, seorang penghuni dengan susah payah sampai di bawah, marah-marah dan menyalahkan badan pengelola.

“Bagaimana ini, kami penghuni tidak diberitahu harus kemana? Apa saja sih kerja pengelola, saat terjadi kebakaran mengapa penghuni tidak diberikan arahan,” kata   penghuni tersebut dengan sewot.

Dengan sabar, chief safety yang kebetulan ada di situ dan mendengar omelannya, bertanya dengan sopan. “Maaf pak, bulan lalu kami meng-adakan Simulasi General Evacuation. Apakah bapak mengetahuinya?,” tanya chief safety itu.

“Tahu,” jawab penghuni singkat. Kemudian chief safety lanjut bertanya. “Apakah Bapak ada di unit dan mengikuti kegiatan itu?”

Penghuni tersebut menjawab dengan nada yang dipelankan. “Saya memang ada di unit, tapi karena saya sedang istirahat tidak sempat mengikuti. Lagi pula itukan hanya latihan.”

Inilah salah satu ironi yang dihadapi pengelola gedung. Dengan berbagai alasan penghuni tidak mengikuti kegiatan penting ini, bahkan ada yang terang-terangan cuek. Begitu terjadi musibah sesungguhnya, mereka tidak siap. Mereka asal lari dengan membawa banyak barang. Padahal itu sangat membahayakan dirinya dan orang lain. Bisa terjadi himpitan orang-orang pada satu titik. Itu tidak akan terjadi kalau mereka paham dan terbiasa menghadapi kejadian itu.

Umumnya penghuni (pemilik) yang sudah lama tinggal dan terbiasa saja yang senang mengikuti general evacuation. Sebaliknya, penghuni (penyewa) yang tidak terbiasa atau mungkin baru tinggal di apartemen merasa terganggu.

Kendala waktu

Mencari waktu penyelenggaraan general evacuation ternyata tidak mudah. Jika dilaksanakan pada pagi atau siang hari, umumnya para penghuni tidak berada di unitnya. Anak mereka ke sekolah dan orang tuanya (ayah dan ibu) bekerja. Hanya sebagian saja yang ibu rumah tangga dan itu jarang ada di unit pada pagi dan siang hari.

Tapi jika diadakan pada weekend (Sabtu dan Minggu), kebanyakan mereka (sekeluarga) pergi liburan. Sehingga pilihannya dilakukan pada hari kerja dan malam hari. Ternyata inipun tidak efektif, karena lelah dan ingin istirahat  menjadi alasan pamungkas penghuni tidak aktif. Akhirnya para pembantu rumah tanggalah yang diutus untuk mewakili majikannya.

Di samping rutin mengadakan general evacuation, badan pengelola secara proaktif mengedukasi para penghuni, termasuk para pembantu rumah tangganya.  Secara formal mengadakan gathering penghuni dan badan pengelola, serta secara informal, di setiap waktu, tempat  dan kesempatan yang ada, karyawan badan pengelola (tidak harus safety department) bisa mensosialisasikan seputar general evacuation. Dilakukan dalam suasana informal, ketika kumpul-kumpul dan ngobrol. Bisa di lobby atau kolam renang. Cuma memang tetap sulit mengajak penghuni ikut berpartisipasi dalam general evacuation.

Meski sudah sering kali diusaha-kan, badan pengelola tidak lelah meng-himbau, kiranya para pemilik dan penghuni apartemen harus proaktif dan mau mengikuti Program General Evacuation, karena ini semua untuk keselamatan mereka sendiri. Kalau mereka tidak terbiasa menghadapi keadaan darurat, maka mereka akan rentan tertimpa kecelakaan saat terjadi keadaan darurat. (Penulis adalah Safety Manager Inner City Management)

Add comment


Security code
Refresh

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Advertorial

Topik :
Real Estate
Promosikan Iklan anda dengang text Ads di konsumenproperti.com.

Perumahan Indah
Perumahan Indah dengan taman yang mempesona

Ads by KonsumenProperti

Home | Liputan Khusus | Konsultasi | Komplain | Residensial | Komersial | Bisnis terkait | Infrastruktur
Pembiayaan | Figur | Sengketa | Kolom | Tips | Redaksi | Regulasi | Editorial | Iklan Kolom| Umum | Advertorial