Kesenjangan Competency pada Posisi Manajerial

0
Bambang Setiobudi, Praktisi Property Management

 

KonsPro (15/10), – BISNIS  properti sedang booming di Indonesia, bayangkan apartemen yang saat ini dibandrol dengan harga belasan juta. Padahal  10 tahun yang lalu rata-rata hanya Rp.5 juta/m2. Jangan tanya harga tanah yang juga sudah pasti meroket.

Hal ini berimbas juga pada bisnis jasa property management yang relative labor intensif. Berapa banyak gedung bertingkat yang selesai dibangun dan membutuhkan tenaga pengelola property yang handal.

Apalagi tidak ada institusi perguruan tinggi maupun sekolah menengah kejuruan khusus yang spesial menyediakan dan mendidik tenaga pengelola property dan sekaligus mengeluarkan sertifikat kompetensinya.

Alhasil banyak tenaga di posisi manajerial perusahaan property management yang karbitan, sekian bulan menduduki posisi supervisor, terlihat sedikit mampu, langsung diangkat menduduki posisi chief yang sedang lowong. Selanjutnya terjadi pula pada posisi Chief menjadi Property Manager. Posisi Chief di property management notabene sudah pada posisi manajerial.

Sehingga terjadilah kesenjangan atau gap competency pada posisi manajerial yang baru diangkat ataupun pada posisi manajerial dari site property kecil yang menduduki posisi sama, tetapi di site property yang lebih besar atau lebih kompleks.

Karena itu, diperlukan program pelatihan untuk menjembatani gap tersebut guna memperbaiki competency kunci yang dibutuhkan untuk memimpin bagiannya dengan baik dan lebih efektif.

Program pelatihan yang diperlukan mencakup cukup banyak aspek, ada yang berupa skill tertentu maupun yang lebih pada soft skill dan dapat digolong-golongkan sebagai berikut:

  1. Yang berhubungan dengan Engineering Department: Program Maintenance untuk Property Manager, dan Energy Management sekaligus Energy saving.
  2. Yang berhubungan dengan Customer Service: Pemahaman tugas Customer Service dan cara mendeliver servicenya, Bagaimana memperbaiki cara berkomunikasi, menulis surat, email, korespondensi dan meng-hemat waktu untuk mengarang surat, dan Bagaimana mengimplementasikan dan mengurangi kegagalan penerapan House Rules.
  3. Yang berhubungan dengan Human Resources: Mengasah kemampuan melakukan interview, Bagaimana mengelola, memotivasi, melakukan konseling dan mendisiplinkan anak buah,  Bagaimana menghindari dan mengelola konflik, dan Bagaimana mendengarkan secara aktif dan memahami apa sebetulnya yang dikatakan oleh customer, owner ataupun rekan setimnya.
  4. Yang berhubungan dengan Marketing: Mengetahui strategy marketing  yang paling cocok dan sekaligus mengetahui perkembangan cara-cara marketing yang paling mutakhir.
  5. Yang berhubungan dengan Keuangan: Tehnik  melakukan  collection  tagihan  (Service Charge, Sinking Fund, Utilities dan lain-lain) dan menjaga aging tagihan, Bagaimana, kapan dan  alasan   waktu   menaikkan uang sewa, Service Charge, Utilities dan mengetahui efek apa yang mungkin akan terjadi dan mengantisipasinya, dan Bagaimana  mendaya  gunakan  fasilitas  yang ada untuk menghasilkan additional income ataupun memberikan value added.
  6. Lain-lain: Leadership, dan Memahami change management dan mengapa itu berguna.

Tetapi last but not least yang paling penting justru harus focus pada operation property dan mengurangi/menyederhanakan laporan-laporan yang bertumpuk, kalau anda tidak mau tenggelam dalam data dan melupakan pengelolaan operation property. (Penulis: Bambang Setiobudi, Praktisi Property Management)