Kemenpera Jajaki Kerjasama Dengan Cina Bangun Perumahan Skala Besar

0
Foto: Humas Kemenpera

KonsPro (26/02) BALI – KEMENTERIAN  Perumahan Rakyat (Kemenpera) akan menjajaki kerjasama dengan pemerintah Republik Rakyat Cina terkait program pembangunan perumahan skala besar di Indonesia. Pasalnya, Cina memiliki teknologi yang dapat dimanfaatkan untuk pembangunan perumahan skala besar.

“Dalam waktu dekat kami berencana berkunjung ke Cina. Mereka mengatakan memiliki teknologi yang dapat digunakan untuk membangun perumahan skala besar,” ujar Menteri Negara Perumahan Rakyat (Menpera) Suharso Monoarfa kepada sejumlah wartawan usai membuka Konsultasi Regional Wilayah Tengah Program Pengembangan Kawasan Tahun Anggaran 2011 di Hotel Inna Grand Bali Beach, Sanur, Bali, beberapa waktu lalu.

Konsultasi Regional Wilayah Tengah Program Pengembangan Kawasan Tahun Anggaran 2011 ini adalah kegiatan yang kali ketiga dilaksanakan oleh Deputi Bidang Pengembangan Kawasan Kemenpera. Sebelumnya kegiatan serupa telah dilaksanakan di dua wilayah yaitu wilayah timur di Makassar dan wilayah barat di Batam beberapa waktu lalu.

Kegiatan ini dihadiri oleh Deputi Bidang Pengembangan Kawasan, Hazaddin TS serta sejumlah pejabat Eselon I, II, dan III Kemenpera. Selain itu, para peserta kegiatan ini berjumlah sekitar 250 orang peserta yang berasal dari 8 pemerintah provinsi, 100 pemerintah kota dan penerima program pengembangan kawasan TA 2011 seperti Bappeda, SKPD terkait sektor perumahan dan sejumlah pemangku kepentingan di bidang penyelenggaraan perumahan dan permukiman di regional wilayah tengah serta para pengembang yang tergabung dalam REI, Apersi serta Perumnas dan kalangan perbankan dari Bank BTN, Bank BNI dan Yasrum Polri.

Menurut Suharso Monoarfa, kebutuhan perumahan khususnya rumah murah untuk masyarakat Indonesia akan terus meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk. Berdasarkan data yang ada kebutuhan rumah setiap tahun mencapai sekitar 710.000 hingga 800.000 unit rumah. “Tahun depan angka kebutuhan rumah tentunya akan semakin tinggi,” katanya.

Lebih lanjut, Suharso Monoarfa menerangkan, program penyediaan rumah murah yang dicanangkan oleh Presiden di Bogor beberapa waktu lalu harus dilaksanakan dengan baik oleh Kemenpera bersama dengan para pemangku kepentingan perumahan lainnya.

Dalam rencana kunjungan ke Cina, Suharso menyatakan akan melihat langsung teknologi apa saja yang dimiliki oleh mereka yang sekiranya dapat dimanfaatkan untuk membangun rumah dalam skala yang besar. “Saya juga akan menugaskan para pengembang Indonesia untuk melaksanakan pembangunan rumah skala besar ini,” terangnya.

Suharso menambahkan, dirinya berharap peran serta para pengembang baik REI, Apersi, Perum Perumnas untuk penyediaan pembangunan rumah serta kalangan perbankan yang bekerjasama dalam program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk sektor pembiayaan perumahan dapat terus ditingkatkan.

Lebih lanjut, ujar Suharso, program pembangunan rumah murah sangat rasional. Oleh sebab itu, dirinya juga berharap tidak ada lagi keluhan dari para pengembang terkait masalah harga rumah di kemudian hari.

Suharso juga akan menyupayakan agar harga struktur pembangunan rumah bisa diturunkan. Namun demikian, ukuran luas rumah umum yang dibangun harus tetap seluas 36 meter persegi seperti yang diamanatkan dalam UU Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman.

Biaya yang mahal untuk pembangunan rumah, imbuh Suharso, ada pada asesoris rumah seperti pintu, kusen, jendela dan jamban. Kita akan berusaha untuk menekan harga ini sedemikian rupa atau mungkin membangun fasilitas yang bersifat umum yang bisa digunakan untuk 3 hingga 5 rumah.

“Kami  punya contoh pembangunan rumah murah ini di Kabupaten Boalemo, Gorontalo. dan Atambua. Inovasi pembangunan rumah murah tentunya tidak berhenti sampai di sini,” katanya. (Ristyan)