Jakarta Fokus Olah Sampah Dalam Kota

0
Foto: beritajakarta.com

KonsPro (10/8) JAKARTA – PEMERINTAH Provinsi DKI Jakarta memfokuskan pengolahan sampah di dalam kota, antara lain dengan mengembangkan Intermediate Treatment Facility (ITF) dan Sentra 3R (Reuse, Reduce, and Recycle). Langkah ini untuk mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap lokasi pengolahan sampah di daerah penyangga.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo mengatakan, pihaknya ingin segera menjadikan tiga daerah di Jakarta sebagai lokasi dibangunnya ITF atau Tempat Pengolahan Sampah di dalam kota, yaitu di Sunter, Cakung Cilincing, dan Marunda. Hal ini sesuai dengan masterplan Dinas Kebersihan DKI Jakarta. “Dengan begitu akan ada pilihan lain selain Bantargebang untuk membuang sampah,” kata Fauzi di Balaikota, Rabu (10/8).

Teknologi pengolahan sampah yang diterapkan di ketiga ITF tersebut akan berbasis teknologi tinggi, modern, tepat guna, dan ramah lingkungan. Sehingga, tujuan mengubah sampah menjadi sesuatu yang berguna dapat segera terwujud. “Kita sedang menuju ke arah itu. Kita inginnya from waste to energy, dan itu sudah mulai berjalan,” ujarnya.

Untuk tahap awal, ungkap Fauzi, per 1 Agustus 2011 ITF Cakung Cilincing sudah mulai beroperasi. ITF Cakung akan menerapkan teknologi Mechanical Biological Treatment (MBT). Teknologi ini mengolah  sampah anorganik dengan sistem daur ulang dan melakukan difermentasi sampah organik untuk menghasilkan bahan bakar pembangkit listrik atau sumber Bahan Bakar Gas (BBG).

Pada awal pengoperasian, ITF Cakung Cilincing baru mampu menampung sampah 400 ton per hari hingga akhir tahun 2011. Kemudian direncanakan pada Januari-Juli 2012, ITF ini sudah mampu menampung volume sampah sebanyak 600 ton. Selanjutnya, pada Juli 2012, ITF Cakung Cilincing yang berdiri di lahan seluas 7,5 ha ini sudah mencapai kapasitas penuh mengolah sampah sebanyak 1.300 ton per hari. Lalu mampu menghasilkan energi listrik mencapai 4,95 MW atau dapat menghasilkan BGG sebanyak 445.699 MMBTU, ketika beroperasi penuh pada tahun 2012.

Pada tahun ini juga, Fauzi mengungkapkan, Dinas Kebersihan akan membangun ITF dengan sistem waste to energy di lokasi pengepresan sampah Stasiun Peralihan Antara (SPA) Sunter. “Kita akan melakukan peningkatan teknologi SPA Sunter menjadi ITF Sunter. Dinas Kebersihan akan bekerjasama dengan pihak swasta yang tertarik berinvestasi,” katanya.

ITF Sunter, menurutnya sudah sesuai dengan rekomendasi dari Clinton Climate Initiative (CCI), dan akan menerapkan teknologi berbasis Incenerator. Teknologi ini dinilai lebih tepat diterapkan di ITF Sunter dengan pertimbangan luas lahan yang tersedia hanya 5 ha. Berdasarkan kajian CCI, incenerator juga dinilai memiliki beberapa kelebihan, seperti kemampuan mereduksi sampah mencapai 90 persen, kemampuan menghasilkan listrik yang tinggi, berpotesi mengurangi emisi Gas Rumah Kaca secara signifikan, dan telah teruji di banyak negara Eropa dan Asia.

“Selain membangun berbagai fasilitas pengolahan sampah berbasis ITF yang mengolah sampah berskala besar di dalam kota, Pemprov DKI Jakarta juga akan mengembangkan Sentra 3R di 5 wilayah kota dan nantinya semua pengembang kawasan akan diwajibkan membangun pengolahan sampahnya sendiri,” paparnya.

Diantara pengembang kawasan yang sudah berkomitmen membangun Sentra 3R adalah pengembang Pantai Indah Kapuk (PIK). Di lokasi Fasos dan Fasum PIK akan dibuat proyek percontohan Sentra 3R yang bekerja sama dengan Investor dan Yayasan Buddha Tzu Chi. Di sana akan dibangun fasilitas pengolahan sampah dengan teknologi Integrated Dry Anaerobic Digestion and Composting.

“Sampah di sini akan diolah menjadi listrik dan kompos. Namun bedanya dengan ITF, Sentra 3R kapasitasnya lebih kecil. Sekitar 250 ton per hari,” ungkapnya.

Sentra 3R, tambah Fauzi, juga direncanakan dibangun di lokasi Asrama Dinas Kebersihan Pesanggrahan Jakarta Selatan bekerja sama dengan Direktorat Pengembangan Penyehatan Lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum (PLP PU).

Kepala Dinas Kebersihan Eko Bharuna mengatakan, jajarannya siap menyukseskan kebijakan Gubernur untuk membangun ITF dan Sentra 3R di dalam kota Jakarta. Apalagi ini merupakan program prioritas Gubernur dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2007-2012.

Untuk pengembangan ITF Cakung Cilincing, menurut Eko, akan dilakukan secara bertahap. Saat ini, ITF Cakung Cilincing sudah beroperasi, namun baru akan launching penerapan teknologi MBT Januari 2012 dan pada Juli 2012 akan beroperasi penuh.

Sedangkan untuk pembangunan ITF Sunter akan menggunakan skema Kerjasama Pemerintah Daerah dan Swasta (KPS) dalam pengadaan infrastruktur. Skema KPS dipilih, ungkap dia, lantaran lahan seluas 5 hektar di Sunter dimiliki murni oleh Pemprov DKI Jakarta. Rencananya, ITF Sunter akan dilelang pada September 2011.

“Namun, kita libatkan swasta untuk membangun dan mengoperasikannya. Pola kerjasamanya dengan Build, Operate, and Transfer (BOT). Langkah ini diambil agar pembangunannya tidak terlampau membebani APBD, karena investasinya disiapkan investor,” tutur Eko. (BeritaJakarta)