Investor China Ikut Kembangkan Superblok Cimandala City

0
Ilustrasi: moneymoon.org

KonsPro (01/03) JAKARTA – PT Megapolitan Development Tbk (EMDE) memastikan investor asal China akan terlibat dalam pengembangan superblok Cimandala City, di Bogor, Jawa Barat. Saat ini tahap pembicaraan kesepakatan sudah mencapai 60% dan ditargetkan tuntas sekitar akhir Maret.

Sudjono Barak Rimba, Presiden Komisaris PT Megapolitan Development, mengungkapkan semula investor asal China tersebut diharapkan dapat bergabung sebelum awal Februari lalu, namun pembicaraan kesepakatan tertunda akibat adanya perayaan Imlek. “Investor China ini nantinya akan ikut dalam pengembangan Cimandala City yang tahun ini pengerjaannya masuk  prioritas kami,” ujarnya di Jakarta, Senin.

Proyek Cimandala City mulai dibangun sekitar awal semester II 2011. Ignatius Yoyo, Direktur Megapolitan Development, mengakui sempat terjadi penundaan pengembangan proyek Cimandala City akibat desain yang belum selesai. Perubahan desain terkait komitmen perseroan untuk menerapkan konsep gedung hijau (green building) untuk semua proyek properti yang akan dibangun di superblok tersebut.

Keterlibatan investor China meneguhkan pernyataan Suharso Monoarfa, Menteri Perumahan Rakyat, yang mengatakan pemerintah mendorong kerja sama dengan dunia internasional serta negara donor untuk meningkatkan investasi dalam pembangunan perumahaan. Dia mengatakan, hingga saat ini investor dari sejumlah negara seperti Australia, China, dan Korea Selatan telah menawarkan sejumlah bantuan serta program kerja sama pembangunan perumahan.

Proyek superblok  Cimandala City merupakan satu dari tiga proyek besar Megapolitan yang akan digarap tahun ini. Kedua proyek lain itu adalah Urbana Cinere dan Urbana Karawaci.  Untuk tahap awal, jelas Ignatius, di atas lahan seluas 17 hektare akan dibangun sebanyak 190 unit kios dan 80 unit rumah toko (ruko). Selanjutnya akan dibangun proyek-proyek residensial menengah dan atas.

Dari ketiga proyek tersebut, perseroan menargetkan penjualan tahun ini mencapai Rp 363 miliar  naik  sekitar 100% dibanding 2010 yang mencapai Rp 178 miliar. Sedangkan laba bersih ditargetkan naik dari  Rp 17 miliar menjadi Rp 42 miliar sepanjang 2011.

Tahun lalu, kontribusi penjualan terbesar berasal dari penjualan apartemen sekitar 40%, lease mall sebesar 20%, dan sisanya dari penjualan rumah dan kios.

Untuk mendanai ketiga proyek tersebut, perseroan telah menyiapkan dana belanja modal sebesar Rp 300 miliar. Dana didapat dari hasil penawaran saham perdana (IPO) di awal Januari 2011, serta penambahan dari pinjaman perbankan.

“Khusus untuk proyek Urbana Karawaci tidak pakai dana IPO karena sudah dapat pinjaman dari Bank Tabungan Negara dan Bank Syariah Mandiri,” ujar Melani Lowas  Barak Rimba, Presiden Direktur  Megapolitan Development.

Dia mengatakan, total land bank yang dimiliki Megapolitan Development saat ini terbilang cukup banyak, yaitu sekitar 370 hektare dan berada di lokasi-lokasi strategis. seperti Cinere dan Sentul.  Saat ini, perseroan jugamemiliki proyek di Mega Kuningan-Jakarta dan Karawaci-Tangerang.

Departemen Riset IFT melihat Megapolitan merupakan perusahaan properti yang fokus pada pengembangan perumahan. Dilihat dari data historis, pertumbuhan penjualan perusahaan cukup kuat dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) sebesar 29%. Kuatnya pertumbuhan ini mengingat kurang lebih 85% proyek berada di daerah Cinere, yang merupakan perluasan wilayah dari Jakarta Selatan.

Megapolitan Development juga dinilai mampu mengelola biaya dengan baik tercermin pada kenaikan margin sejak 2005 hingga semester I 2010. Gross margin naik dari 35%  pada 2005 menjadi 59,8% pada semester I 2010. Pada periode yang sama, operating margin naik dari 10,7%  menjadi 29,7%, dan net margin dari 2,7%  menjadi 16,1%. (Indo.Finance Today)