Ini Bedanya RI dengan Austria untuk Urusan Perumahan Rakyat

0
Foto: static.republika.co.id

KonsPro (14/9), Jakarta – BANYAK hal yang harus diperbaiki pemerintah jika ingin Indonesia menjadi negara maju. Salah satu aspek yang harus diperbaiki adalah sistem tata kelola perumahan.

Anggota Komisi V DPR-RI Fary Djemy Francis mengatakan pemerintah Indonesia harus banyak belajar dari Austria. “Austria terbaik dalam pengelolaan properti dan perumahan, Indonesia harus mencontoh itu,” katanya saat memberikan pengarahan pada acara Liberalisasi Properti di Indonesia di Kebayoran Baru Jakarta, Kamis (13/09/12).

Fary memberikan contoh bahwa ruang bagi asosiasi Perumahan dan properti di Austria terbuka lebar sehingga negara bisa mengakomodir sistem tata kelola perumahan dan properti disana. Bahkan dalam sistem tata kelola, asosiasi perumahan di Austria dilibatkan sejak awal hingga akhir perumusan konsep dan pembangunan.

“Mereka (Austria) menyadari perumahan adalah hak untuk penduduk. Harga rumah dan properti disana tidak dilepas ke pasar tetapi negara yang mengelola. Asosiasi mereka libatkan jadi ada sinergi keinginan negara dengan instansi lain dan negara mempunyai intervensi yang kuat disana,” katanya.

Berbeda dengan Austria, Indonesia bisa dibilang masih buruk dalam tata kelola perumahan dan properti. Bahkan hingga buruknya, banyak perumahan dan properti yang ada di Indonesia yang dapat dimiliki asing dengan cara yang mudah.

Badan Pertanahan Nasional (BPN) mencatat khusus wilayah Bali dan Batam banyak terjadi perjanjian-perjanjian semu yang melibatkan pihak asing dengan penduduk sekitar terkait penjualan rumah dan tanah.

Sehingga nantinya kepemilikan properti oleh pihak asing secara otomatis akan membuat harga properti dan perumahan di Indonesia melejit naik dan tidak bisa dinikmati oleh rakyat kebanyakan.

“Disana ada sedikit ruang bagi warga Uni Eropa untuk mendapatkan hak kepemilikan tanah, tetapi selain itu orang asing disana (Austria) sangat ketat dan tidak mudah. Kontribusi peran negara disana sangat besar jadi harga rumah terjangkau tidak seperti Indonesia dimana banyak ruang asing bisa masuk. Indonesia harus banyak belajar dari Austria,” tutupnya. (detik.com)