Harga Rumah Bakal Naik Lagi

0
Ilustrasi: wb5.itrademarket.com

KonsPro (14/03) JAKARTA – SEJAK beberapa pekan terakhir ini, harga bahan- bahan material mulai dari semen, pasir, besi dan batu bata mengalami kenaikan yang cukup besar.  Kondisi ini membuat para pengembang dan industri properti mulai melakukan langkah-langkah penyesuaian. Mulai dari menyiasati kenaikan harga melalui efisiensi biaya pembangunan sampai memilih untuk menaikkan harga jual properti.

Nah, bila pengembang tidak sanggup untuk melakukan efi siensi pengembangan maka mau tidak mau harus menaikkan harga jual rumah. Ini dilakukan untuk mengurangi beban atau ongkos pembangunan rumah. Selain itu, tentunya untuk menjaga keuntungan bagi pengembang agar tidak terlalu tergerus di tengah kondisi sulit seperti saat ini.

Lantas berapa biaya kenaikan harga rumah dari pengembang? Hampir sebagian besar pengembang menaikkan harga jual rumah mereka pada kisaran 2,5-10 persen. Tapi ada juga yang menaikkannya hingga 15 persen. Adapun rumah yang dinaikkan harga jualnya adalah rumah yang menyasar segmen menengah. Direktur Utama Summarecon Johannes Marzuki, tidak menampik adanya kenaikan harga jual rumah tersebut.

Hanya saja dia menggarisbawahi, kenaikan harga tersebut adalah hal yang biasa terjadi setiap tahun. “Adalah hal wajar bila setiap tahun nilai bangunan itu naik investasinya. Dan umumnya, kenaikan itu terjadi di semua segmen pasar perumahan,” tandasnya. Meski mengalami kenaikan, tidak membuat konsumen menunda membeli rumah untuk sementara waktu.

Pasalnya, hampir di setiap saat selalu saja ada konsumen yang membeli rumah mengingat perumahan adalah kebutuhan primer dan juga cocok buat investasi.

Terkait dengan segmen menengah ini, Johannes mengatakan, segmen tersebut adalah segmen yang sama sekali tidak terpengaruh dengan faktor eksternal. Entah itu kenaikan harga minyak apalagi kenaikan harga bahan-bahan material.

“Segmen ini tidak terlalu terpengaruh terhadap isuisu yang berkembang di luar. Bagi mereka adalah mencari lokasi untuk berinvestasi di perumahan,” katanya. Luar Jawa Real Estate Indonesia (REI) sebagai wadah para pengembang properti di Indonesia juga mengakui hal ini. Bahkan REI juga mengakui bahwa kenaikan harga rumah itu tidak hanya terjadi di pulau Jawa saja, namun sudah terjadi sampai di luar Jawa.

Sebagai contoh adalah Makassar. Di daerah ini, harga rumah sudah mengalami kenaikan hingga 10 persen. Adapun yang penyebab terjadinya kenaikan itu adalah karena kenaikan harga bahan-bahan material untuk membangun rumah.

REI menggambarkan bahwa saat ini harga semen di Makassar rata-rata berkisar 48-53 ribu rupiah per sak isi 50 kilogram (kg). Padahal, dulu harganya masih pada kisaran 40 ribu hingga 48 ribu rupiah.

“Rumusnya adalah setiap kenaikan bahan bangunan 10 persen, maka harga produk properti akan naik 2 persen,” kata Ketua umum Dewan Pembina Pusat (DPP) Real Estate Indonesia (REI), Teguh Satria. Menyikapi hal tersebut, pengembang kelas menengah, PT Bintang Mahameru, lantas mulai melakukan langkah- langkah strategis untuk mendongkrak penjualan unit rumah setelah tentunya melakukan penyesuaian harga.

Manajer Perencanaan, Pengembangan Estate PT Bintang Mahameru Adat Prawira Bima mengatakan bahwa pihaknya sudah menaikkan harga rumah sebesar 2,5 persen. Kenaikan itu menurutnya adalah kenaikan yang tidak terlalu tinggi.

Sebab bila pengembang tersebut menaikkan sampai dengan 15 persen saja, maka sudah tentu akan sulit untuk menjual rumah tersebut. “Jadi kami melakukan kenaikan secara bertahap. Dalam hal ini kami menaikkan harga rumah per tiga bulan sebesar 2,5 persen. Dengan kenaikan tersebut, kami berharap keuntungan tidak tergerus,” tandasnya.

Selain itu, pengembang juga melakukan berbagai langkah promosi untuk menarik daya beli konsumen di tengah kondisi yang makin sulit.

Salah satunya adalah dengan menawarkan pemberian Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) dengan bunga yang kompetitif atau bunga tetap (fi x) selama setahun. Belum lagi memberikan berbagai hadiah menarik (gimmick) bagi para konsumen. Bagi pengembang, pemberian hadiah menarik (gimmick) ini penting untuk meningkatkan daya saing dengan pengembang lainnya di tengah kompetisi yang semakin ketat.

Maklumlah, mereka tidak hanya bersaing dengan sesama pengembang di segmen menengah melainkan juga bersaing dengan pengembang kelas kakap yang tentu sudah lebih dulu memiliki nama besar.

Janji Pengembang Meski terjadi persaingan yang sangat ketat, bagi Ketua Umum REI Setyo Maharso mengatakan REI menjamin bahwa kenaikan harga rumah itu hanya bersifat lokal dan sementara. Maksudnya, tidak semua pengembang ikut-ikutan menaikkan harga jual rumah.

Beberapa pengembang malah masih memilih untuk menahan diri dengan melakukan berbagai langkah efi siensi.

“Sampai saat ini belum ada kenaikan harga rumah,” jaminnya. Hanya saja, jaminan dari REI itu juga tidak bakal bertahan lama. Mengingat mereka pun masih menunggu faktor pencetus kenaikan lainnya yakni kebijakan pembatasan Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang akan diberlakukan pada awal April nanti.

Kondisi ini jelas membuat ongkos pengembang akan membengkak. Bayangkan, pengembang bakal beralih menggunakan BBM nonsubsidi untuk kegiatan operasional. Diperkirakan, pembengkakan biaya ini bisa mencapai sebesar 15 persen.

“Tentunya itu hanya perkiraan. Sebab REI sendiri belum bisa merinci berapa persisnya pengaruh kenaikan tersebut bagi harga rumah,” ujarnya. Dia menjamin bahwa pengembang berjanji tidak akan menaikkan harga produk properti kendati Bank Indonesia (BI) telah mengatrol suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 6,75 persen pada Februari lalu.

Baginya sama sekali tidak ada alasan bagi pengembang menaikkan harga properti hanya berdasarkan faktor kenaikan BI Rate. Adapun kekhawatiran konsumen atas naiknya harga-harga properti lebih disebabkan faktor psikologis yang berlebihan lantaran ancaman naiknya suku bunga kredit pascakenaikan BI Rate. (KorJak)