Gunakan Dana Pribadi, Permintaan Kredit Renovasi

0
hip-consultant.co.uk

KonsPro (6/01) SURABAYA – SKIM kredit renovasi rumah melalui perbankan selama ini cenderung tidak memiliki porsi besar. Kredit pemilikan rumah (KPR) pertama masih mendominasi.

Kepala Bagian Consumer Banking BRI Cabang Surabaya July Widyanajati mengatakan, untuk kredit renovasi rumah masuk skim KPR rumah second.

“Porsi rumah second (rumah nondeveloper) dibandingkan rumah pertama (rumah developer) 20:80. Porsinya kecil karena kebanyakan rumah second atau renovasi rumah memakai uang pribadi, tidak pinjam bank,” jelas July.

Skim kredit rumah second pun tak banyak, mengingat dari sisi perbankan juga kurang menguntungkan. Risiko kredit macet yang ditanggung bank bisa lebih tinggi ketimbang jika menggandeng developer untuk rumah pertama.

BRI Cabang Surabaya membawahi wilayah Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Jombang, Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Madura. Saat ini BRI menggandeng 25 developer. Rencananya ada kerja sama dengan 20 developer lagi awal 2011 ini.

BRI mengucurkan kredit di sektor konsumer sepanjang Januari–Desember 2010 sebesar Rp 450 miliar, tumbuh Rp 130 miliar dari Desember 2009.

“Harusnya tumbuh Rp 250 miliar, tapi karena ada pemisahan kanwil dan tenaga pemasaran yang kurang waktu, sehingga kurang maksimal. Namun, permintaan pasar masih tinggi. Target di 2011 menjadi Rp 700 miliar,” lanjutnya.

Sekitar 70 persen dari porsi kredit konsumer dialokasikan untuk KPR, sisanya 15 persen kredit kendaraan bermotor (KKB) dan 15 persen kredit multiguna (KMG).

July menjelaskan, untuk KPR rumah pertama special rate-nya 8,8 persen per tahun di dua tahun pertama. Untuk paket special rate yang tiga tahun 9,75 persen fix dengan tenor maksimal sampai 20 tahun, tergantung usia debitur dengan UM 20 persen dari harga rumah.

“Tapi kita belum tahu tahun ini ada koreksi suku bunga atau tidak,” ujar July.

Jenis rumah pertama yang banyak diminati seharga Rp 300 juta–1 miliar. Untuk rumah second atau skim kredit renovasi rata-rata plafon yang diajukan tak lebih Rp 200 juta.

“Kita masih fokus di tipe rumah menengah. Rumah sederhana juga belum ada permintaan dari developer, apalagi untuk RSh bersubsidi. BRI belum bergabung sebagai bank pemberi skim KPR RSh subsidi,” pungkas July. (Surya Online)