Green Waste yang Ramah Lingkungan, Sekaligus Ramah Sosial

0
Bambang Setiobudi, Direktur PT Prima Buana Internusa

KonsPro (24/03) – KAWASAN Podomoro City di daerah Slipi telah terkenal dan menjadi icon bukan saja di Jakarta Barat, tetapi di seluruh Jabodetabek sebagai super block terbesar baik dari segi luas lahan maupun luas unit (pemanfaatan residensial dan komersial).

Seiring makin menguatnya eksistensi kawasan Podomoro City, kini  banyak orang Jakarta mulai familiar dan menyebut kawasan ini sebagai “Poci”. Ayo kita ke Poci yuk. Di Poci selain ada Central Park Mall yang terbesar, ada juga Central Park Office Tower yang sebentar lagi mulai beroperasi, Hotel Pullman tahun ini juga akan mulai menerima tamu dengan ballroom-nya yang memuat lebih dari 5.000 orang.

Kemudian, yang menakjubkan dari super block ini adalah adanya 15 tower apartemen dan 85 unit garden shopping arcade, dengan jumlah unit tidak kurang dari 8.600 unit. Misalnya saja, masing-masing unit berisi 3 orang, maka nantinya akan ada tidak kurang dari 25.000 orang yang tinggal dan hidup di Poci. Itu  belum termasuk office tower, hotel maupun mall-nya.

Developer Poci (PT Agung Podomoro Land, Tbk.) telah menunjuk PT Prima Buana Internusa (PBI) sebagai pengelola tunggal untuk ke 15 tower apartemen dan office tower berikut estate management-nya.

2 site pertama yaitu, MGR 1 dan MGR 2 telah terisi masing-masing 88% dan 78%, lebih dari 10.000 orang tinggal dan hidup di kedua apartemen tersebut.

Sejak awal PBI mengelola MGR 1, kami telah mengamati hal-hal yang berkaitan dengan sampah, seperti kapan dan bagaimana mengeluarkan sampah dari apartemen, berapa berat/volume sampah, apa saja jenis sampahnya. Dari pengamatan tersebut, pada waktu membangun MGR 2 kemudian Royal Mediterania Garden (RMG) dan sebagainya, PBI dengan yakin menyarankan kepada team designer dan proyek, bahwa tak perlu membuat penampungan sampah di setiap site apartemen, cukup pakai penampungan sampah yang sudah ada saja.

Walaupun sudah melakukan pengamatan, ternyata realitanya masih cukup mengejut-kan, dari MGR 1 & MGR 2 dengan jumlah unit dan occupancy yang tinggi itu, setiap hari sampah basahnya tidak lebih dari belasan kilogram saja, yang banyak adalah sampah keringnya, sehari dapat mencapai 2 truk penuh.

Terdapat korelasi yang erat antara demo-grafi penghuni – luas unit – jenis peruntuk-kan dan lokasi properti.

Luas unit yang tidak terlalu besar (40 – 50-an m2) – penghuni muda – jumlah F&B outlet yang minoritas – di lokasi yang prak-tis cukup lengkap, orang akan mempunyai kebiasaan memproduksi sampah dengan kriteria tertentu. Boleh disebut produksi sampah tertentu merepresentasikan life style tertentu.

Dari pengamatan kami, buangan sampah dari MGR 1 & MGR 2, dapat dibagi menjadi 9 macam, yaitu :

  1. Kardus
  2. Kertas
  3. Kaleng (seperti kaleng coca cola, kaleng bekas makanan kaleng, dan lain-lain)
  4. Plastik (kantong kresek, plastic lembaran)
  5. Botol kaca
  6. Botol plastik (berbahan PET, HDPE dan lain-lain)
  7. Styrofoam
  8. Bungkus snack
  9. Sampah basah (sisa makanan, buah-buahan, dahan dan daun-daunan)

8 macam sampah pertama semuanya berupa sampah kering yang dapat didaur ulang dan mempunyai nilai ekonomis, khususnya bagi para pemulung dan pengepul sampah.

Dalam pengelolaan sampah PT PBI beker-jasama dengan PT GHP (kontraktor cleaning service), kemudian kami bersama-sama membina para pemulung.

Pemulung kami jadikan mitra. Sebelum dipekerjakan, mereka diberikan pembekalan (pelatihan) pengelolaan sampah yang ramah lingkungan, diberikan perlengkapan pengelolaan sampah yang diperlukan. Mereka melakukan pemilahan sampah yang bermanfaat bagi mereka, yaitu yang termasuk 8 macam sampah pertama di atas.

Kemudian mereka menjualnya kepada pengepul, plastik bagi pemulung bernilai ± Rp.2.000/kg, sedangkan bekas bungkus snack dapat dijadikan bahan bakar bioma-sa. Produksi mereka saat ini bisa mencapai 10 ton, hasil penjualan dimiliki sepenuhnya oleh para pemulung. Selanjutnya pengepul melakukan pemilahan lagi sesuai nilai/jenis masing-masing.

Tugas pemulung, selain melakukan pemilahan sampah sesuai prosedur yang ditentukan untuk kepentingan mereka, tugas tambahan adalah memisahkan sampah basah, kemudian memasukkannya ke dalam mesin pencacah, untuk selanjutnya dijadikan kompos.

Dengan cara ini terjalinlah simbiosis mutualisme (secara hidup yang saling menguntungkan) antara pengelola PT PBI dengan kontraktor cleaning service dan para pemulung.

PT PBI sebagai pengelola Poci praktis tidak membuang sampah ke luar kawasan, PT GHP sebagai kontraktor cleaning service dapat menekan ongkos pembuangan sampah ke TPA, para pemulung mendapatkan penghasilan dari menjual sampah yang dapat di recycled ke pengepul.

Satu masalah sosial telah terpecahkan

Sebagai bonus dari sisa sampah basah diubah menjadi kompos yang bermutu untuk menyuburkan tanaman lingkungan dan sayuran yang kami tanam di sekitar lokasi pengolahan Green Waste. Itulah nama yang kami pilih sebagai nama tempat pengolahan sampah dan kompos.

Satu lagi masalah lingkungan terpecahkan, Undang-undang No. 18 tahun 2008 tentang sampah telah kami terapkan di Poci.

Langkah berikutnya, kami akan mengembangkan Kompor Bakar berbahan gas metana dan pembangkit listrik tenaga gas metana. Karena dari proses pembuatan kompos menghasilkan gas metana, yang jika telah mencapai skala tertentu dapat untuk menghidupkan kompor masak dan jika metana dimurnikan, akan dapat menjadi pengganti BBM untuk membangkitkan listrik kecil-kecilan.

Sampah yang dibenci masyarakat dapat menjadi sesuatu yang ramah lingkungan sekaligus ramah sosial. (Penulis: Bambang Setiobudi, Praktisi Property Management)