Nasionalisme “Mati” di Tangan Para Elite

KonsPro (13/5) - DI Indonesia, yang pasti, wacana tentang nasionalisme ramai diperbincangkan pada saat memperingati HUT RI dan Hari Pahlawan yang merupakan agenda rutin pemerintah dan ormas-ormas yang konsen terhadap isu kebangsaan. Di luar momentum itu, isu nasionalisme tidak lagi menarik untuk didiskusikan, serta kurang  layak jual untuk diangkat di media massa.

Namun yang menarik, isu nasionalisme akan kembali menjadi komoditi yang laris diperbincangkan di media cetak dan elekronik ketika bangsa ini dilecehkan dan dihina atau ada ancaman dari negara tetangga. Tidak terima hinaan, semua elemen bangsa  ini reaktif, emosi bahkan marah, serta  bahu membahu membela harga diri bangsa. Karena konon bangsa Indonesia itu adalah bangsa besar yang memiliki sejarah perjuangan yang luhur dan agung.

Dalam arti leksikal, nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan  kedaulatan sebuah negara dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia. Sehingga dalam makna nasionalisme yang hakiki terdapat nilai-nilai solidaritas, kecintaan kepada bangsa, harga diri, jati diri, serta pengorbanan.

Pertanyaannya, apakah  masih relevan bangsa ini memperbincangkan dan ingin mengobarkan semangat nasionalis di tengah masih merajalelanya korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN)? Sekarang ini sulit kita katakan, bahwa KKN dan konspirasi politik hanya dilakukan oleh oknum, kalau nyatanya dalam satu perkara besar melibatkan tidak hanya beberapa bawahan, tapi level menengah, bahkan atasannya pun terindikasi terlibat.

Sebut saja beberapa kasus populer, seperti kasus Bank Bali, kasus BLBI, kasus Mafia Pajak, kasus Cicak versus Buaya, kasus Antasari, kasus Susno Duaji, dan sederat kasus yang menyita perhatian publik lainnya.  Pemerintah khususnya para penegak hukum mempertontonkan drama yang menyebalkan, mirip sinetron-sinetron televisi kita yang ceritanya mutar di situ-situ saja, tanpa ending yang jelas. Coba saja sebutkan satu dua kasus yang diselesaikan secara terang benderang.

Karena itu, mungkin kita perlu membuat definisi operasional yang detail tentang nasionalisme, agar para  pejabat pemerintahan, para aparat penegak hukum, serta anggota dewan yang terhormat, tahu bahwa korupsi, gratifikasi, konspirasi, mark up anggaran, perbuatan yang menyengsarakan rakyat kecil, serta dengan gampangnya menjual BUMN kepada asing merupakan perbuatan yang ANASIONALIS (tidak nasionalis).

Perbuatan-perbuatan tersebut sama sekali tidak mencerminkan kecintaan terhadap tanah air, solidaritas sesama anak bangsa, menjadikan bangsa tidak punya harga diri, apalagi pengorbanan. Sehingga mereka seharusnya sadar bahwa perilaku tercelah itu malah menghancurkan kehidupan berbangsa dan menjadikan bangsa kita tidak bermartabat.

Selain itu, sebaiknya kita juga tidak usah lagi jauh-jauh menyesali nasib TKI kita di luar negeri (terutama di Arab dan Malaysia) yang disiksa secara tidak manusiawi, kalau perlakukan yang lebih sadis kepada rakyat kecil masih kerap kita saksikan di negeri ini. Jangan pula emosi kalau Malaysia merebut pulau Sipadan dan Ligitan, dan mencoba lagi terhadap Ambalat. Toh kita sendiri (pemerintah) tidak becus mengurus pulau-pulau terluar kita. Rakyat di sana dibiarkan seakan tidak berpemerintahan, tidak diberikan hak-haknya sebagai warga negara Indonesia. Mereka malah merasa lebih dekat dengan negara tetangga daripada negaranya sendiri (Indonesia). Nasionalisme bagi mereka mungkin hanya lelucon saja.

Dalam konteks ini barangkali kita perlu berterima kasih sama Malaysia yang selalu “mengobarkan” nasionalisme bangsa Indonesia. Karena kalau tidak sering menyinggung harga diri dan melecehkan bangsa Indonesia mungkin generasi muda kita tahu gambaran nyata dari sebuah nasionalisme. Yang perlu segera kita lakukan adalah introspeksi, apakah bangsa Indonesia memang pantas untuk dilecehkan, sehingga “saudara muda” kita sudah begitu beraninya.

Kelakukan para pejabat negara (pimpinan eksekutif, legislatif dan yudikatif) yang tidak terpuji, adalah salah satu penyebab utama melunturnya rasa nasionalisme di kalangan masyarakat Indonesia. Karena sebagai representasi negara, sebagian pejabat negara yang hanya mementingkan golongan, partai dan pribadinya akan mengakumulasi kebencian rakyat terhadap negara.

Ini pula yang menjelaskan (berdasarkan pendapat beberapa pakar),  mengapa terorisme dan separatis masih tumbuh subur di Indonesia, serta maraknya kekerasan satu kelompok terhadap kelompok lain. Dengan kekuatan militer, negara mungkin dapat memberangusnya, tetapi tidak pernah menyelesaikan akar masalahnya, yaitu frustasi kolektif rakyat melihat ketidakadilan dimana-mana.

Di lain pihak para elite sibuk mencari “dana perang” untuk memenangkan pemilu mendatang dengan menghalal berbagai cara. Dengan begitu apakah saat ini ada urgensinya kita memperbincangkan masalah nasionalisme? Sebelum kita intens mendiskusikan kembali format nasionalisme sebaiknya para elite kita membenahi dahulu moral dan akhlaknya. (Erlan Kallo, Alamat surel ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya )

Add comment


Security code
Refresh

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Advertorial

Topik :
Real Estate
Promosikan Iklan anda dengang text Ads di konsumenproperti.com.

Perumahan Indah
Perumahan Indah dengan taman yang mempesona

Ads by KonsumenProperti

Home | Liputan Khusus | Konsultasi | Komplain | Residensial | Komersial | Bisnis terkait | Infrastruktur
Pembiayaan | Figur | Sengketa | Kolom | Tips | Redaksi | Regulasi | Editorial | Iklan Kolom| Umum | Advertorial