Developer Jual Rumah Dalam Status Agunan

0
Ilustrasi

KONSPRO – ANDA  punya masalah hukum di bidang properti? Kirimkan pertanyaan Anda di email konsumenproperti.com@gmail.com. Sertakan alamat, dan indentitas yang jelas, kami akan segera menjawab pertanyaan Anda.

Hodi Mursa Siregar, SH., Praktisi Hukum Properti

Pertanyaan:

Kepada Tim Advokasi Konsumenproperti.com.

Saya mau konsultasi soal kasus hukum yang sedang dialami oleh sepupu saya (Mrs. A). Kira-kira upaya hukum apa yg harus ditempuh oleh Mrs. A ketika rumah yg dia beli dari pihak developer (Mr. B) dan telah ditempati hingga saat ini, tiba-tiba dipasang spanduk “rumah ini dalam agunan” oleh salah satu pihak bank swasta (Mr. C). Padahal Mrs. A telah melakukan angsuran kredit kepada Mr. B lebih dari 80% dari total harga rumah yang disepakati.

Setelah dikonfirmasi kepada Mr. B, bahwa benar Mr. B telah melakukan pinjam modal kepada Mr. C dengan menjaminkan beberapa rumah, termasuk rumah Mrs. A (faktanya, hanya rumah Mrs. A yang dipasangi). Dan Mr. B meminta waktu 1 (satu) minggu untuk menyelesaikannya. Tapi hingga batas waktu itu ditentukan, rumah Mrs. A masih terpasang spanduk “agunan” tersebut.

Baca juga: http://konsumenproperti.com/prosedur-mengurus-imb-bagunan-baru/

Tentu itu suatu perbuatan yang merugikan Mrs. A, karena di awal kesepakatan jual-beli antara Mrs. A dengan Mr. B, dinyatakan bahwa rumah tersebut bebas dari segala bentuk hutang-piutang, termasuk segala urusan yg berkaitan dgn perbankan.

Oleh karena itu, saya mohon arahan/petunjuk bapak dari segi kacamata hukum yang berlaku di negeri ini. Atas perhatian Tim, saya ucapkan terima kasih.

Salam hormat,
Imam R. Arrobbi

Jawaban:

Selamat pagi Bapak Imam R. Arrobbi, semoga dalam keadaan sehat dan terima kasih sudah berkunjung di website kami.

Pertama-tama dalam kasus bapak perlu kita ketahui, perihal cara pembelian dari Mrs. A tersebut apakah melakukan pembayaran secara in-house (cicilan langsung kepada developer, dalam hal ini Mr. B) atau melakukan pembayaran dengan cara KPR dengan Bank?

Apabila menggunakan cara bayar kepada Mr. B (in-house), maka posisi tawar Mr. A sangat lemah. Karena pembelian masih dalam cicilan, maka dasar pembelian yang antara Mrs. A dan Mr. B adalah PPJB (Perjanjian Pengikatan Jual-Beli).

Kalau kita teliti, di dalam klausula PPJB tersebut seharusnya ada pasal yang mengatakan bahwa Pihak Penjual selaku Developer menjamin Pihak Kedua selaku pembeli bahwa unit atau tanah dan bangunan yang dijual bebas dari sitaan bank atau jaminan ke pada pihak lainnya, maka Mrs. A berhak menuntut Mr. B di pengadilan bahwa telah melakukan wanprestasi dan perbuatan melakukan hukum.

Atau bisa juga melakukan kroscek kepada bank apakah sudah taraf macet dari agunan atas tanah dan bangunan Mrs. A tersebut, kalau sudah sampai macet dan akan sita, maka bisa melakukan banding kepada bank, agar dilihat mana terlebih dahulu terjadi? Apakah jual beli atau pengagunan yang dilakukan oleh Mr. B?

Apabila ternyata Mr. B mengagunkan ke Bank (Mr. C) terlebih dahulu sebelum transaksi dengan Mrs. A, maka bisa dilakukan pembatalan demi hukum dan Mrs. A berhak atas uang yang sudah dibayarkannya. Mrs. A dapat melaporkan kepada pihak berwajib dengan tuntutan Pidana (Penipuan dan Penggelapan) dan Perdata (Perbuatan Melawan Hukum dan wanprestasi).
Dalam hal ini Pihak Mrs. A yang tertipu utama.
Dan apabila Mr. B melakukan jual beli terlebih dahulu dengan Mrs. A, kemudian mengagunkan ke Mr. C, maka Mr. C lah yang tertipu utama, dan juga dapat menggugat baik secara Pidana maupun Perdata.

Dalam kasus ini, Mrs. A dan Mr. C merupakan pihak yang dirugikan dan sama-sama dapat menuntut pihak Mr. B. Mrs. A harus segera mendesak Mr. B untuk segera melunasi agunan atas bank tersebut, karena kalau tidak dilunasi maka tidak dapat dilakukan AJB terhadap tanah dan bangunan tersebut.

Tim Advokasi HMS