Deteksi Tamu Datang

0
Ilustrasi: farm1.static.flickr.com

KonsPro (22/03) – POLESAN  rumah biasanya berhenti hingga teras atau pagar. Tanah di antara teras dan pagar juga butuh perhatian, lo. Biasanya penutup wilayah outdoor itu tidak masuk dalam urusan mempercantik griya. Padahal itu adalah wajah rumah.

Dulu orang menggunakan kerikil sebagai penutup tanah di depan rumah. Biasanya kerikil bulat yang dipilih sebagai penutup tanah. Pemakaian kerikil itu memiliki banyak fungsi. Dengan menutup tanah menggunakan kerikil membuat tanah becek ketika hujan teratasi. Aneka warna kerikil juga menjadi polesan tersendiri bagi bagian depan rumah. Selain itu, kerikil dipasang karena faktor keamanan.

Tamu yang datang akan ketahuan dari pijakan kaki di atas kerikil. Jadi, sebelum tamu beruluk salam, mengetuk pintu, atau menekan bel, pemilik rumah sudah mengetahui lebih dulu. Itu juga digunakan untuk mendeteksi tamu tak diundang.

Sekarang, penutup tanah beraneka. Kerikil masih dipilih, tetapi biasanya tidak ditebarkan di seluruh halaman. Kerikil bulat hanya menjadi aksen di bangian tepi. Orang memilih pijakan yang lebih familiar bagi kaki, misalnya paving blok. Menurut Bambang Rahardjo, pemilik toko bangunan Nusantara di Sidoarjo, paving blok banyak dipilih karena praktis pemasangan, murah, dan tampilannya cukup cantik.

“Bentuknya juga bervariasi meski orang masih tetap memilih paving blok persegi dan heksagonal sebagai penutup tanah,” kata Bambang. Pemilihan paving blok itu biasanya karena orang ingin halaman bersih, tetapi juga air tetap bisa meresap saat hujan.

Meresapkan Air

Demi alasan estetika, bahan apapun sebenarnya dapat dipasang sebagai pengerasan permukaan jalan, tetapi jika melihat fungsinya untuk kelestarian lingkungan maka penutup jalan lingkungan dan jalan setapak dengan beton cor akan membuat air tidak meresap ke dalam tanah. Lain halnya dengan paving blok, bahan ini dianggap dapat menyelesaikan masalah permukaan tanah yang berkaitan dengan sebuah ekosistem.

Secara teknis paving blok dapat memberikan solusi dibandingkan dengan bahan lainnya baik aspal maupun beton dikarenakan masih terdapat celah yang memungkinkan air hujan tetap terserap kedalam tanah sebanyak 30 persen sampai 50 persen, dan akan memberikan manfaat yang cukup besar bagi kesediaan air tanah di lingkungan sekitarnya.

Menurut Bambang, jika halaman ingin tetap hijau sekaligus saat melangkah tidak becek, pijakan dipilih dari bahan batu yang dipasang berjarak. Dengan demikian rumput masih tumbuh dan orang yang melangkah pun tetap nyaman.

“Sebenarnya ada paving blok yang berlubang-lubang sehingga rumput pendek tetap bisa tumbuh. Itu biasanya digunakan untuk lantai carport. Akan tetapi, paving berlubang itu tidak ideal untuk dipijak terutama untuk anak kecil atau mereka yang mengenakan sepatu berhak tinggi,” imbuh Bambang.

Paving blok tetap dipilih karena mudah didapat. Meski di pasaran ada banyak jenis, ayah dua anak itu menyarankan untuk memeriksa ketebalan paving. Desain untuk teras atau taman harus dikombinasikan dengan tanaman. Itu termasuk cara menyusun paving yang kadang-kadang mengikuti alur seperti kipas atau aliran air. Dengan begitu, tampilan akan nyambung. Desain paving disukai karena mudah dibersihkan.

Ambil beberapa contoh dan perhatikan kepadatan serta kerapatannya. Semakin padat dan rapat hasil press paving, maka semakin baik mutunya. Kepadatan umumnya terbentuk dari proses serta peralatan produksinya. Ada jenis yang dibuat dengan cara manual, menggunakan mesin pres vibrasi, dan menggunakan mesin pres hidrolik.

Lihatlah juga pada paving blok yang diambil acak dan perhatian apakah ada retak. Jika digores dengan paku akan terlihat kekuatan arus permukaan. Pasangkan empat buah paving blok untuk mengetahui ukuran presisinya. Pilih juga paving yang bagian atasnya tidak terlalu licin dan tidak terlalu kasar yang menunjukkan tingkat keausannya. “Kadang-kadang orang menguji dengan dibenturkan pada dua paving. Jika bunyinya nyaring berarti bagus. Jika bunyinya prek-prek berarti mutunya tidak bagus,” kata Bambang sambil tertawa. (surya.co.id)