2015, Bisnis Konstruksi Tetap “Suram”

KonsPro (2/11/2014) BALIKPAPAN - PARA pengusaha yang bergerak di sektor pelaksana jasa konstruksi (kontraktor) terutama di Balikpapan,  diperkirakan tetap menghadapi tantangan berat di tahun 2015 mendatang.

Pemicunya, selain dihadapkan pada persaingan bebas yang ditandai diberlakukannya pasar bebas masyarakat ekonomi ASEAN (MEA), kenaikan harga material, ongkos buruh hingga isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan gaji PNS, ditengarai akan  menyulut suramnya bisnis kontraktor.

“Sampai akhir tahun 2014 nanti, kami dan sebagian besar kontraktor di Balikpapan memilih wait and see atau menunggu. Jadi, tidak ada pengaruh apapun meski situasi politik sudah berlalu dengan dilantiknya Presiden Jokowi dan terbentuknya kabinet baru,” kata mantan Ketua DPC Gapeksindo Kota Balikpapan, H. Hasyim ST, beberapa waktu lalu.

Kondisi ini, tandas Hasyim, “memaksa” sebagian besar konstraktor yang masih berpikiran jernih, untuk tidak bertindak gegabah. Misalnya, tetap bersaing merebut lelang proyek, hanya demi mendapatkan pekerjaan. Sebab, jika langkah itu yang diambil, bukan hanya siap menanggung resiko kerugian, tapi juga terancam kolaps atau gulung tikar.

“Yang paling riskan, kalau sampai kena blacklist oleh user atau pemerintah kota. Sebab, sepanjang tahun 2014 ini cukup banyak kontraktor yang sudah terkena blacklist dengan berbagai alasan,” ujarnya.

Direktur Utama PT Putra Mandiri Cipta Karya Indah ini menegaskan, pihaknya memilih bermain aman dan tidak mau ambil resiko. Langkah itu, ucap Hasyim, sejatinya sudah dia lakukan dua tahun terakhir.

“Kami secara perlahan mulai mengurangi porsi untuk mengambil proyek fisik di pemerintahan. Sebagai gantinya, kami mulai melakukan diversifikasi usaha ke sektor perumahan, dengan membangun sejumlah unit rumah di berbagai lokasi di Balikpapan,” ucapnya.

Sepanjang tahun 2014 ini, analisis Hasyim menunjukkan, para kontraktor lokal di Balikpapan memang mengalami hantaman yang cukup serius.

Bukan hanya disebabkan adanya tahun politik, mulai pemilu legislatif (pileg) hingga pemilu presiden (pilpres),  tapi  dualisme lembaga pengembangan jasa konstruksi nasional (LPJKN)—lembaga yang selama ini dominan dalam mengeluarkan kebijakan sertifikasi bagi kontraktor, hingga kebijakan konversi sertifikasi badan usaha (SBU)  dan terbuktinya ancaman blacklist dari pemerintah.

Kondisi itu, diperparah lagi, 50 persen proyek besar di Kota Minyak, direbut oleh pemain luar Balikpapan, termasuk dari Samarinda dan kalangan BUMN. “Kalau yang usahanya gred IV ke bawah barangkali tidak banyak masalah.

Selain masih cukup banyak proyek yang bakal dilelang, kontraktor kecil bisa juga mengambil porsi proyek penunjukkan langsung (PL) di bawah Rp 200 jutaan. Namun berbeda kondisinya untuk kontraktor gred V ke atas—yang harus bersaing dengan pemain luar dan BUMN melalui lelang elektronik (LPSE).

Meski tahun politik sudah berlalu, lanjut Hasyim, kondisi yang hampir serupa diprediksikannya tetap akan menghantui para kontraktor di tahun 2015 mendatang. “Kalau BBM dan tarif listrik jadi dinaikkan pemerintah, dampaknya jelas berimbas ke semua sektor, termasuk harga material dan upah pekerja. Ini, yang membuat dunia konstruksi tetap suram di tahun depan,” pungkasnya.(Sumber: Balikpapan Pos)

Add comment


Security code
Refresh

Joomla Templates and Joomla Extensions by JoomlaVision.Com

Advertorial

Topik :
Real Estate
Promosikan Iklan anda dengang text Ads di konsumenproperti.com.

Perumahan Indah
Perumahan Indah dengan taman yang mempesona

Ads by KonsumenProperti

Home | Liputan Khusus | Konsultasi | Komplain | Residensial | Komersial | Bisnis terkait | Infrastruktur
Pembiayaan | Figur | Sengketa | Kolom | Tips | Redaksi | Regulasi | Editorial | Iklan Kolom| Umum | Advertorial