Bisnis Perumahan di DIY Masih Melambat

0
Foto: miamism.com

KonsPro (08/08/2016), YOGYAKARTA – BISNIS penjualan rumah di Daerah Istimewa Yogyakarta hingga kuartal kedua 2016 masih melambat akibat daya beli masyarakat yang masih rendah, kata Ketua Real Estate Indonesia DIY Nur Andi Wijayanto. “Pada kuartal kedua (April-Juni) 2016 penjualan rumah di DIY justru menurun 40 persen dibanding periode yang sama pada tahun lalu,” kata Andi di Yogyakarta, Minggu.

Andi mengatakan hingga kuartal kedua 2016 penjualan perumahan oleh para pengembang anggota REI DIY baru mencapai 500 unit dari target 2.200 unit selama 2016. Target itu tumbuh 10 persen dari 2015 yang sebelumnya mencapai 1.950 unit.

Menurut dia, selain disebabkan daya beli masyarakat yang masih rendah, kenaikan harga lahan di DIY yang cukup signifikan juga memiliki andil melambatnya bisnis perumahan di daerah itu. “Harga tanah sangat berpengaruh karena menentukan 40 sampai 50 persen dari harga pokok produksi perumahan,” kata Andi.

Oleh sebab itu, menghadapi tren pelambatan bisnis properti tersebut, para pengembang anggota REI DIY akan melakukan efisiensi biaya produksi.

Selain itu, untuk memulihkan daya beli masyarakat, menurut dia, para pengembang anggota REI DIY akan memberikan insentif berupa cicilan uang muka (down payment) yang lebih terjangkau disertai waktu angsuran yang lebih panjang.

“Untuk sisi konsumen kami para pengembang juga akan memberikan insentif cicilan uang muka dengan jangka angsuran lebih panjang,” kata dia.

Selanjutnya, untuk memacu tumbuhnya daya beli masyarakat, menurut Andi, kebijakan Bank Indonesia yang menjaga suku bunga (BI rate) tetap di level 6,75 persen perlu diikuti dengan transmisi yang lebih cepat di level bank komersial.

Dengan demikian, diharapkan suku bunga pinjaman menjadi lebih murah serta efisien, termasuk untuk menggerakkan sektor riil di masyarakat

Meski saat ini bisnis sektor properti masih melambat, ia optimistis 2.200 unit rumah yang dibangun tahun ini seluruhnya terjual dengan membidik konsumen properti yang bekerja di sektor minyak dan gas (migas) yang jumlahnya cukup banyak di DIY.

“Mereka adalah salah satu segmen properti yang menyumbang pembelian cukup dominan atas produk-produk properti di DIY,” kata Andi. (Ant.)